Sabtu, 11 Juli 2026

BAB 4 PEMBAHASAN PENELITIAN

 1. Karakteristik Budaya Organisasi Pesantren

a. Nilai-Nilai Inti Budaya Organisasi Pesantren

1) Gontor

Untuk mengukur model budaya organisasi berupa nilai inti budaya pesantren maka salah satu teori yang digunakan peneliti adalah dari Edgar Schein tentang Teori Budaya Organisasi yang terdiri dari artefak, nilai, dan asumsi dasar.[1] Selain itu juga akan menggunakan teori dari Kim S. Cameron dan Robert E. Quinn tentang Competing Values Framework (CVF). Teori ini merumuskan empat tipe budaya utama yaitu model budaya Clan Culture (kekeluargaan), Adhocracy Culture (inovatif dan dinamis), Market Culture (berorientasi hasil dan kompetisi) dan Hierarchy Culture (terstruktur dan terkontrol).[2]

Menurut Edgar H. Schein budaya organisasi terdiri atas tiga tingkatan, yaitu artefak (artifacts), nilai yang dianut (espoused values), dan asumsi dasar (basic underlying assumptions). Artefak merupakan bentuk budaya yang dapat diamati secara langsung, seperti simbol, tradisi, tata ruang, dan pola perilaku anggota organisasi. Nilai yang dianut mencerminkan prinsip, tujuan, dan standar yang menjadi pedoman dalam menjalankan organisasi sedangkan asumsi dasar merupakan keyakinan yang telah mengakar kuat dan diterima sebagai kebenaran bersama.

Hal tersebut akan memengaruhi cara anggota organisasi memandang serta merespons berbagai situasi. Dengan demikian budaya organisasi dapat dipahami sebagai suatu sistem nilai yang terinternalisasi dan diwariskan secara berkelanjutan dalam kehidupan organisasi. Berikut adalah gammbar tiga  tingkatan budaya organisasi sesuai teori Edgar Schein:[3]

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.7 Tiga Tingkatan Budaya Organisasi Menurut Edgar Schein

 

Adapun Model Competing Values Framework (CVF) terdiri atas dua dimensi. Dimensi pertama mempertentangkan penekanan pada fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, dan dinamisme dengan penekanan pada stabilitas, keteraturan, dan kontrol. Sementara itu dimensi kedua membandingkan orientasi internal yang berfokus pada integrasi, kolaborasi, dan kesatuan dengan orientasi eksternal yang berfokus pada diferensiasi, persaingan, dan kompetisi.

Kombinasi kedua dimensi tersebut menghasilkan identifikasi empat tipe budaya organisasi yang berbeda, yaitu budaya klan (clan culture), budaya pasar (market culture), budaya adhokrasi (adhocracy culture), dan budaya hierarki (hierarchy culture), yang masing-masing memiliki karakteristik khas dan unik. Penjelasan singkat mengenai keempat tipe budaya tersebut disajikan sebagai berikut[4]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.8. Empat Model Budaya Organisasi dalam Teori CVF

 

Dalam kerangka Competing Values Framework (CVF), budaya organisasi dipahami sebagai seperangkat nilai yang membentuk pola perilaku, cara berpikir, serta arah pengelolaan organisasi. Oleh karena itu untuk memahami karakteristik budaya organisasi di Pondok Modern Darussalam Gontor penting untuk mengidentifikasi nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman dan diyakini oleh seluruh anggota organisasi. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang membentuk identitas lembaga serta mendukung keberlangsungan organisasi dari waktu ke waktu.

Nilai inti budaya organisasi merupakan seperangkat keyakinan, prinsip, dan nilai yang menjadi landasan dalam mengarahkan perilaku seluruh anggota organisasi. Dalam konteks Pondok Modern Darussalam Gontor nilai inti budaya organisasi tidak hanya berfungsi sebagai pedoman operasional lembaga semata. Nilai ini menjadi identitas yang membedakan Gontor dari lembaga pendidikan lainnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah informan ditemukan bahwa keberlangsungan dan eksistensi Gontor selama hampir satu abad tidak dapat dilepaskan dari kuatnya internalisasi nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

Nilai inti budaya organisasi di Pesantren Gontor merupakan salah satu hal yang membuat pondok ini mampu bertahan lintas generasi. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh SU sebagai berikut:

“Pertama adalah kepercayaan calon santri dan calon wali santri terhadap Gontor, Kedua dengan kiprah alumninya di masyarakat, Ketiga dengan hasil yang dilihat oleh masyarakat, sehingga hal tersebut menjadi brosur yang tidak harus dicetak, seakan-akan alumni dan hasil yang berbicara ke masyarakat”[5]

 

Adapun WI menerangkan bahwa:

“Nilai inti di Pondok Gontor ini lebih pada karakteristik kepemimpinannya. Setelah saya dulu membaca Sejarah Pondok ternyata dari awal pendirian memang di Gontor lebih menekankan karakter kepemimpinan”[6]

 

SU menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menunjukkan kekuatan nilai inti budaya organisasi Gontor adalah tingginya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut. Menurutnya kepercayaan masyarakat tidak dibangun melalui promosi yang bersifat formal semata melainkan melalui bukti nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menyatakan bahwa terdapat tiga faktor utama yang memperkuat kepercayaan tersebut yaitu kepercayaan calon santri dan wali santri terhadap Gontor.

Selain itu juga kiprah alumni di tengah masyarakat serta hasil pendidikan yang dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat luas. Menariknya SU menggambarkan bahwa alumni dan hasil pendidikan Gontor berfungsi sebagai brosur hidup yang secara tidak langsung mempromosikan pondok kepada masyarakat.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa budaya organisasi Gontor telah menghasilkan mekanisme legitimasi sosial yang kuat. Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tidak muncul secara instan melainkan terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan konsistensi lembaga dalam mempertahankan nilai yang dianutnya.

Dalam perspektif budaya organisasi kondisi ini menunjukkan adanya keselarasan antara nilai yang diyakini organisasi dengan perilaku nyata yang ditampilkan oleh para anggotanya. Ketika alumni mampu menunjukkan kualitas diri yang baik di tengah masyarakat maka masyarakat akan memandang bahwa nilai yang diajarkan oleh pesantren berhasil diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Hal ini seperti yang digambarkan AR bahwa:

“Sebagian santri yang mendaftar biasanya karena sudah mengetahui kualitas alumninya”[7]

 

Adapun FA menyatakan,

“Saya daftar kesini karena diminta oleh orang tua. Katanya Pondok disini bagus. Saya juga ada kenalan yang lulusan dari Pondok gontor”[8]

 

Lebih lanjut keberhasilan alumni dalam berbagai bidang kehidupan memperlihatkan bahwa budaya organisasi Gontor tidak hanya berorientasi pada keberhasilan akademik tetapi juga pembentukan karakter. Alumni yang mampu berkontribusi secara positif dalam masyarakat menjadi representasi dari keberhasilan proses pendidikan yang berlangsung di dalam pondok. Oleh karena itu keberadaan alumni memiliki fungsi strategis sebagai agen penyebaran nilai-nilai organisasi sekaligus sebagai bukti nyata keberhasilan sistem pendidikan yang diterapkan.

Temuan tersebut diperkuat oleh pernyataan SA yang menjelaskan bahwa

“Nilai inti yang dijunjung di pondok ini sesuai dengan apa yang sudah digariskan dalam panca jiwa, motto, dan visi misi pondok. Semua dijalankan sesuai dengan haluan pondok. Siapapun pengurusnya harus melaksanakan apa yang sudah ditetapkan.”[9]

 

Nilai inti yang dijunjung tinggi di Pondok Modern Darussalam Gontor bersumber dari Panca Jiwa, motto pondok, serta visi dan misi yang telah ditetapkan oleh para pendiri. Menurut SA seluruh aktivitas yang berlangsung di pondok harus mengacu kepada haluan yang telah ditetapkan tersebut. Siapapun yang menjadi pengurus, pimpinan, maupun pengelola pondok wajib menjalankan ketentuan yang telah digariskan.

Pernyataan SA menunjukkan bahwa budaya organisasi di Gontor memiliki karakteristik yang kuat dan stabil. Nilai-nilai dasar organisasi tidak bergantung pada figur tertentu, melainkan telah terinstitusionalisasi ke dalam sistem yang berlaku. Dengan demikian, pergantian kepemimpinan tidak menyebabkan perubahan mendasar terhadap arah organisasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya organisasi telah menjadi sistem nilai yang hidup dan diterima oleh seluruh anggota organisasi.

Panca Jiwa yang terdiri atas keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan menjadi fondasi utama dalam kehidupan pesantren.[10] Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan secara teoritis tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari santri.

Keikhlasan misalnya tercermin dalam semangat pengabdian para guru dan pengurus pondok. Kesederhanaan diwujudkan melalui pola hidup yang tidak berlebihan. Berdikari tercermin dalam berbagai aktivitas yang mendorong santri untuk mampu mengelola dan memenuhi kebutuhan secara mandiri. Ukhuwah Islamiyah tampak dalam kuatnya rasa persaudaraan di antara warga pondok, sedangkan kebebasan dimaknai sebagai kebebasan yang bertanggung jawab dalam berpikir dan bertindak sesuai nilai-nilai Islam.[11]

Berdasarkan pengamatan peneliti keberadaan Panca Jiwa sebagai landasan budaya organisasi memberikan arah yang jelas bagi seluruh warga pondok dalam menjalankan aktivitasnya. Nilai-nilai tersebut menjadi standar perilaku yang mengatur hubungan antara pimpinan, guru, pengurus, dan santri. Dengan demikian budaya organisasi tidak hanya hadir dalam bentuk slogan saja tetapi diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Sementara itu AR menyoroti aspek kedisiplinan sebagai nilai utama yang paling menonjol dalam budaya organisasi Gontor.

“Hal utama yang ada di sini adalah kedisiplinan santri. Jadi saya dulu mendaftar ke pondok ini karena adanya alumni yang bagus menurut masyarakat. Kadang juga ada santri yang daftar karena orang tuanya mondok disini. Kalau tidak begitu ada juga yang kakak atau saudaranya mondok disini.”[12]

 

Menurutnya, salah satu alasan dirinya memilih belajar di Gontor adalah karena citra positif alumni yang dikenal masyarakat sebagai pribadi yang disiplin dan berkarakter. AR juga menjelaskan bahwa banyak santri yang memilih masuk ke Gontor karena pengaruh orang tua, saudara, atau kerabat yang sebelumnya pernah belajar di pondok tersebut.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa disiplin telah menjadi identitas budaya yang melekat pada Gontor. Disiplin tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan terhadap aturan tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan karakter yang berlangsung secara sistematis. Dalam kehidupan sehari-hari disiplin diwujudkan melalui pengaturan jadwal kegiatan yang ketat, kepatuhan terhadap tata tertib, serta pembiasaan untuk menghargai waktu. Melalui proses yang berlangsung secara terus-menerus disiplin kemudian berkembang menjadi kebiasaan yang akhirnya menjadi karakter melekat pada diri santri.

Lebih jauh fakta bahwa banyak santri masuk ke Gontor karena rekomendasi alumni atau anggota keluarga menunjukkan adanya proses reproduksi budaya organisasi. Alumni yang merasakan manfaat pendidikan di Gontor cenderung merekomendasikan pondok tersebut kepada generasi berikutnya. Dengan demikian budaya organisasi tidak hanya diwariskan melalui sistem pendidikan formal tetapi juga melalui jaringan sosial yang terbentuk di tengah masyarakat.

Pandangan yang serupa disampaikan oleh RE yang menegaskan bahwa keunggulan Gontor dibandingkan pesantren lain terletak pada kombinasi nilai kedisiplinan, tanggung jawab, adab, dan kesederhanaan.

“menurut saya yang menjadi pembeda Gontor dengan pesantren lain karena beberapa hal, seperti kedisiplinan, tanggungjawab santri, adab, seerta kesederhanaan. Santri diajari bagaimana menjalani kehidupan. Bekal apa yang nanti diperlukan agar bisa hidup baik di tengah masyarakat saat sudah lulus dari Gontor.”[13]

 

Menurutnya Gontor tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membekali santri dengan berbagai nilai kehidupan yang diperlukan untuk hidup di tengah masyarakat setelah lulus. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa orientasi pendidikan di Gontor bersifat holistik.

Pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu agama dan pengetahuan umum, tetapi juga pembentukan karakter kecakapan hidup. Tanggung jawab menjadi salah satu nilai penting yang terus ditanamkan kepada santri melalui berbagai kegiatan organisasi. Santri diberi kesempatan untuk memimpin, mengelola kegiatan, serta mengambil keputusan sehingga mereka terbiasa memikul tanggung jawab sejak dini.

Selain itu adab menjadi aspek yang mendapatkan perhatian besar dalam proses pendidikan di Gontor. Adab dipandang sebagai fondasi utama dalam pembentukan kepribadian muslim. Oleh karena itu hubungan antara santri dengan guru, antara santri dengan sesama santri, maupun antara santri dengan masyarakat selalu didasarkan pada prinsip etika yang baik. Penanaman adab ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan alumni Gontor mudah diterima di tengah masyarakat.

Nilai kesederhanaan yang disebutkan oleh RE juga memiliki makna yang mendalam dalam budaya organisasi Gontor. Kesederhanaan bukan berarti keterbatasan melainkan kemampuan untuk hidup secara proporsional. Melalui nilai ini santri dididik untuk tidak bergantung pada kemewahan materi.

SA menyampaikan bahwa kesederhanaan maupun keikhlasan itu sifatnya bukan pasif:

“Kalau di Gontor ikhlash itu bukan berarti pasif dan diam saja, tapi ikhlashnya itu harus produktif”[14]

 

            WI memberikan keterangan bahwa,

“Santri disini diajarkan kepemimpinan, harus siap menjadi pemimpin dan harus siap juga jika dipimpin. Harus Ikhlas selama belajar menjadi santri”[15]

 

Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara dapat diketahui bahwa nilai inti budaya organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor berakar pada Panca Jiwa, motto, dan visi-misi pondok. Berbagai hal ini diwujudkan melalui perilaku organisasi seperti kedisiplinan, tanggung jawab, adab, kesederhanaan, dan pengabdian.

Nilai-nilai tersebut telah terinternalisasi secara kuat dalam kehidupan pondok sehingga mampu membentuk karakter santri yang sesuai dengan harapan masyarakat. Keberhasilan internalisasi nilai tersebut tercermin dari tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Gontor, luasnya jaringan alumni, serta keberlanjutan eksistensi lembaga dari generasi ke generasi.

Berdasarkan perspektif budaya organisasi Edgar Schein temuan penelitian mengenai nilai inti budaya organisasi di Pondok Modern Darussalam Gontor menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar yang berkembang dalam kehidupan pondok. Menurut Schein budaya organisasi tidak hanya tampak dalam perilaku yang terlihat di permukaan tetapi juga berakar pada nilai dan keyakinan yang telah diterima secara kolektif oleh anggota organisasi.[16]

Pada level pertama yaitu tentang artefak. Budaya organisasi tampak dalam berbagai bentuk perilaku, tradisi, simbol, serta praktik yang dapat diamati secara langsung. Dalam penelitian ini, kedisiplinan santri, sistem pengasuhan selama dua puluh empat jam, keteraturan aktivitas harian, kehidupan sederhana, serta keberadaan jaringan alumni merupakan bentuk artefak budaya yang mudah dikenali oleh masyarakat.

Pernyataan AR yang menyoroti kedisiplinan santri dan RE yang menekankan tanggung jawab, adab, serta kesederhanaan menunjukkan manifestasi nyata dari budaya organisasi yang telah melembaga dalam kehidupan pondok. Demikian pula kiprah alumni yang disebutkan oleh SU merupakan artefak sosial yang menjadi bukti konkret keberhasilan budaya organisasi Gontor dalam membentuk karakter lulusannya.

Pada bagian kedua yaitu nilai yang dianut. Budaya organisasi tercermin dalam prinsip-prinsip yang secara sadar dijadikan pedoman oleh organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut bersumber dari Panca Jiwa, motto pondok, visi, dan misi yang diwariskan oleh para pendiri Gontor.[17]

Pernyataan SA bahwa seluruh pengurus harus menjalankan haluan pondok yang telah ditetapkan menunjukkan adanya komitmen organisasi untuk menjaga konsistensi nilai-nilai tersebut.

“Semua dijalankan sesuai dengan haluan pondok. Siapapun pengurusnya harus melaksanakan apa yang sudah ditetapkan[18]

 

Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan merupakan nilai yang secara eksplisit diajarkan, disosialisasikan, dan dijadikan pedoman dalam seluruh aktivitas pendidikan. Dalam kerangka Schein nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai standar yang mengarahkan perilaku seluruh anggota organisasi.

Bagian berikutnya yaitu asumsi dasar (basic underlying assumptions) yaitu budaya organisasi berada pada tingkat yang paling dalam dan sering kali tidak lagi dipertanyakan oleh anggota organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa warga pondok meyakini bahwa pembentukan karakter lebih penting daripada sekadar transfer pengetahuan. Kedisiplinan merupakan sarana membangun kesuksesan hidup, bahwa kesederhanaan membentuk ketahanan mental, serta bahwa pengabdian kepada umat merupakan tujuan utama pendidikan.

Keyakinan-keyakinan tersebut tidak lagi dipandang sebagai aturan formal semata melainkan telah menjadi cara berpikir dan cara hidup yang diterima secara kolektif oleh seluruh warga pondok. Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Gontor sebagaimana diungkapkan oleh SU juga menunjukkan bahwa asumsi dasar tersebut telah menghasilkan pola perilaku yang konsisten dan diakui oleh lingkungan eksternal.

“hasil yang dilihat oleh masyarakat, sehingga hal tersebut menjadi brosur yang tidak harus dicetak, seakan-akan alumni dan hasil yang berbicara ke masyarakat”[19]

 

Dengan demikian budaya organisasi Gontor dapat dipahami sebagai budaya yang kuat karena terdapat keselarasan antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. Kedisiplinan, tanggung jawab, adab, kesederhanaan, serta keberhasilan alumni merupakan artefak yang terlihat di permukaan. Seluruh artefak tersebut bersumber dari nilai-nilai Panca Jiwa, motto, dan visi pondok sebagai nilai utama.

 Perihal ini juga sesuai dengan pernyataan KA yang merupakan warga tetangga pondok Gontor, beliau menyampaikan:

“Itu santri harus disiplin mas, kalau sudah waktunya masuk sekolah itu anak pada lari-lari biar tidak terlambat”[20]

 

Sementara itu di balik nilai-nilai tersebut terdapat asumsi dasar yang meyakini bahwa pendidikan karakter, pengabdian, dan pembentukan pribadi muslim yang utuh merupakan tujuan utama pendidikan pesantren. Keselarasan ketiga lapisan budaya tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan kemampuan Gontor dalam mempertahankan eksistensi, memperoleh kepercayaan masyarakat, dan melakukan regenerasi kepemimpinan secara berkelanjutan.

Temuan penelitian mengenai nilai inti budaya organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor menunjukkan bahwa keberlangsungan lembaga sangat ditentukan oleh kekuatan internalisasi nilai yang bersumber dari Panca Jiwa, motto, serta visi dan misi pondok.

Nilai-nilai tersebut telah menjadi sistem yang mengatur perilaku kolektif seluruh warga pesantren, mulai dari kiai, guru, pengurus, hingga santri. Manifestasi nilai tersebut tampak dalam bentuk kedisiplinan, tanggung jawab, adab, kesederhanaan, serta pengabdian, yang kemudian diakui oleh masyarakat melalui reputasi alumni dan kepercayaan sosial terhadap lembaga.

Jika dianalisis menggunakan perspektif Edgar Schein maka budaya organisasi Gontor dapat dipahami melalui tiga lapisan yang saling terkait, yaitu artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. Pada level artefak ditemukan budaya organisasi tampak secara kasat mata dalam bentuk disiplin santri, sistem pendidikan 24 jam, tata tertib kehidupan pondok.

Hal ini senada dengan keterangan santri:

“Pondok sangat ketat dalam kedisiplinan. Semua harus sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan. Kalau ada yang melanggar nanti ada hukumannya”[21]

 

Ini juga sesuai dengan informasi dari AR yang menyatakan:

“Santri harus mengikuti jadwal pondok yang sudah ditentukan”[22]

 

Artefak ini sebagaimana terlihat dari pernyataan informan SU, AR, dan RE, menunjukkan bahwa perilaku organisasi telah terinstitusionalisasi dalam kehidupan pesantren.

Pada level nilai yang dianut menunjukkan bahwa seluruh aktivitas organisasi berlandaskan pada Panca Jiwa, motto pondok, serta visi dan misi yang telah ditetapkan.[23] Pernyataan SA yang menegaskan bahwa seluruh pengurus wajib mengikuti haluan pondok menunjukkan bahwa nilai telah menjadi sistem kolektif yang mengikat seluruh anggota organisasi. Nilai seperti keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan menjadi standar moral dan operasional yang mengarahkan perilaku organisasi secara konsisten.

Sementara pada level asumsi dasar budaya organisasi Gontor menunjukkan adanya keyakinan kolektif bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu tetapi terutama pada pembentukan karakter dan kepribadian. Asumsi ini sudah tidak lagi diperdebatkan, melainkan diterima sebagai kebenaran bersama yang membentuk cara berpikir dan bertindak seluruh warga pondok. Dengan demikian keselarasan antara artefak, nilai, dan asumsi dasar menjelaskan mengapa budaya organisasi Gontor menjadi kuat dan stabil dalam jangka panjang.

Ibu FA juga menyampakian bahwa:

“Kelebihan Pondok Gontor mungkin karena dipercaya kedisiplinannya. Jadi anak-anak itu kalau sudah peraturannya tidak libur ya tidak boleh pulang ke rumah”[24]

 

Jika dikaitkan dengan teori budaya organisasi Charles Handy, pola budaya yang berkembang di Pondok Modern Darussalam Gontor menunjukkan kecenderungan kuat pada perpaduan antara role culture dan power culture. Handy menawarkan sebuah kerangka analisis budaya yang komprehensif dalam perilaku dan manajemen organisasi.

Berdasarkan pengalaman pribadinya Handy memberikan pandangan menyeluruh mengenai budaya organisasi dengan mengelompokkan empat tipe budaya utama, yaitu power, role, task, dan person. Keempat tipe ini berkaitan dengan asumsi yang berbeda mengenai dasar kekuasaan dan pengaruh, apa yang memotivasi orang, bagaimana mereka berpikir dan belajar, serta bagaimana perubahan dapat dilakukan.[25]

Pola budaya yang berkembang di Pondok Modern Darussalam Gontor menunjukkan kecenderungan kuat pada perpaduan antara role culture dan power culture. Kombinasi kedua tipe budaya tersebut menjadi salah satu faktor penting yang menjelaskan kemampuan Gontor dalam mempertahankan eksistensi, identitas, serta keberlanjutan kelembagaannya hingga saat ini.

Dalam perspektif Handy setiap organisasi pada dasarnya memiliki karakter budaya yang dominan, meskipun dalam praktiknya tidak selalu berdiri secara tunggal. Sebuah organisasi dapat menunjukkan perpaduan beberapa tipe budaya sesuai dengan kebutuhan, sejarah perkembangan, serta karakter kepemimpinannya. Fenomena inilah yang tampak pada sistem budaya organisasi yang berkembang di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Karakter role culture dalam budaya organisasi Gontor dapat dilihat dari kuatnya sistem, aturan, struktur organisasi, dan pembagian peran yang diterapkan dalam seluruh aktivitas pesantren. Dalam teori Handy, role culture merupakan budaya yang menekankan pentingnya struktur formal, pembagian tugas yang jelas, prosedur kerja yang baku, serta mekanisme koordinasi yang sistematis.

Hal ini seperti yang disampaikan AR,

“Santri sudah dibiasakan untuk aktif dalam kegiatan. Ada kegiatan yang sifatnya pendidikan untuk kepemimpinan, mulai dari di lingkup kamar, kelas, kegiatan pramuka”[26]

 

Organisasi dengan budaya ini tidak bergantung pada individu tertentu, melainkan bertumpu pada sistem yang telah disepakati dan dijalankan secara konsisten oleh seluruh anggota organisasi. Keberhasilan organisasi ditentukan oleh kemampuan setiap individu menjalankan fungsi dan tanggung jawab sesuai dengan perannya masing-masing.

Karakteristik tersebut terlihat pada sistem kelembagaan yang telah dibangun secara matang dan diwariskan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi. Seluruh unsur pesantren memiliki tugas, fungsi, dan kewenangan yang jelas. Pengelolaan pendidikan, pengasuhan santri, administrasi, keuangan, hingga berbagai unit usaha pesantren dijalankan melalui struktur organisasi yang teratur.

SU menjelaskan bahwa:

“kepemimpinan yang diterapkan adalah kepemimpinan structural, semua wajib taat kepada pimpinannya”[27]

 

Setiap bagian memiliki pedoman kerja yang jelas sehingga pelaksanaan program tidak bergantung pada satu orang tertentu. Pola ini mencerminkan karakter role culture yang menempatkan sistem sebagai instrumen utama dalam menjaga efektivitas organisasi.

Budaya disiplin yang menjadi ciri khas Gontor juga memperkuat karakter role culture tersebut. Disiplin tidak hanya berlaku bagi santri, tetapi juga bagi para guru, pengurus, dan seluruh elemen pesantren. Kedisiplinan diwujudkan melalui kepatuhan terhadap jadwal kegiatan, tata tertib pesantren, mekanisme pembelajaran, serta berbagai aturan kehidupan bersama yang telah ditetapkan.[28]

Kepatuhan terhadap aturan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada pengawasan individu, tetapi telah menjadi bagian dari budaya organisasi yang dipahami dan diterima oleh seluruh warga pesantren. Dengan demikian, sistem mampu berjalan secara relatif stabil meskipun terjadi pergantian pengurus atau pimpinan.

Aspek lain yang menunjukkan dominasi role culture adalah kuatnya sistem kaderisasi yang diterapkan di Gontor. Kaderisasi dilakukan secara terencana melalui berbagai jenjang pendidikan, pelatihan kepemimpinan, penugasan organisasi, dan proses pembiasaan yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari di pesantren. Setiap santri diberi kesempatan untuk belajar memimpin, mengelola kegiatan, dan bertanggung jawab terhadap tugas tertentu.

Melalui mekanisme tersebut, pesantren tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan keagamaan, tetapi juga calon-calon pemimpin yang memahami budaya organisasi Gontor secara mendalam. Sistem kaderisasi yang kuat menunjukkan bahwa keberlangsungan organisasi tidak bergantung pada figur tertentu, melainkan pada mekanisme reproduksi kepemimpinan yang telah menjadi bagian dari budaya organisasi.

Dalam konteks Gontor, unsur power culture tampak pada posisi sentral para pendiri dan pimpinan pesantren dalam membentuk nilai-nilai dasar organisasi. Sejak awal berdirinya Gontor dibangun berdasarkan visi dan cita-cita besar Trimurti, yaitu KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi.[29] Ketiga tokoh tersebut tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan, tetapi juga merumuskan filosofi, sistem pendidikan, serta nilai-nilai yang menjadi fondasi budaya organisasi pesantren. Nilai-nilai seperti keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan menjadi pedoman utama yang terus diwariskan hingga saat ini.

Meskipun secara kelembagaan Gontor telah berkembang menjadi organisasi yang modern dengan sistem tata kelola yang kompleks, pengaruh nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendiri tetap menjadi sumber legitimasi utama dalam setiap kebijakan strategis.

Sebagaimana pernyataan WI,

“Sejak awal Gontor sangat konsen dengan Pendidikan kepemimpinan. Santri harus bisa memimpin karena di masa depan mereka akan hidup ditengah-tegah Masyarakat”[30]

 

Hal ini menunjukkan bahwa unsur power culture tidak semata-mata diwujudkan dalam bentuk kekuasaan personal, tetapi lebih pada kekuatan nilai dan otoritas moral yang melekat pada figur kepemimpinan pesantren. Para pimpinan tidak hanya menjalankan fungsi administratif tetapi juga berperan sebagai penjaga nilai (guardian of values) yang memastikan seluruh aktivitas organisasi tetap sejalan dengan filosofi dasar pesantren.[31]

Kepemimpinan di Gontor juga memperlihatkan bentuk power culture yang khas. Berbeda dengan organisasi bisnis yang sering kali memusatkan kekuasaan pada satu individu secara absolut, kepemimpinan di Gontor dijalankan melalui mekanisme kolektif yang tetap berlandaskan pada otoritas moral dan kharisma kepemimpinan.

Para pimpinan memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah pengembangan lembaga, namun keputusan yang diambil tetap mempertimbangkan prinsip musyawarah dan kepentingan pesantren secara keseluruhan. Dengan demikian, kekuasaan tidak dijalankan secara otoriter, tetapi berfungsi sebagai sarana untuk menjaga kesinambungan visi dan identitas organisasi.

Perpaduan antara role culture dan power culture menjadikan budaya organisasi Gontor memiliki karakter yang unik. Di satu sisi, sistem organisasi yang kuat menciptakan stabilitas, keteraturan, dan efisiensi dalam pengelolaan pesantren. Seluruh aktivitas dapat berjalan secara konsisten karena didukung oleh struktur organisasi yang jelas, prosedur yang baku, serta mekanisme kaderisasi yang terencana.

Keberadaan kepemimpinan yang kuat memastikan bahwa seluruh sistem tersebut tetap berorientasi pada nilai-nilai dasar yang menjadi identitas pesantren. Sistem tidak berkembang secara mekanistis saja namun tetap memiliki ruh dan arah yang bersumber dari visi para pendiri. Kombinasi kedua budaya tersebut juga berkontribusi terhadap keberlanjutan organisasi pesantren.

Melihat dari perspektif keberlanjutan organisasi, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi lembaga pendidikan adalah menjaga kesinambungan nilai di tengah perubahan lingkungan yang terus berlangsung. Banyak organisasi mengalami kemunduran ketika figur pendirinya tidak lagi hadir atau ketika sistem yang dibangun tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan. Gontor mampu menghindari kedua risiko tersebut karena memiliki keseimbangan antara kekuatan sistem dan kekuatan nilai.

SA menyatakan bahwa,

“Kiai dan seluruh guru yang mengajar di Gontor harus menerapkan apa yang diajarkannya melalui keteladanan. Seolah-olah para guru yang lewat itu adalah pelajaran yang harus ditiru oleh santri. Jadi Pendidikan tidak hanya pas di kelas tapi juga keseharian di pesantren”[32]

 

Sistem yang kuat memungkinkan pesantren tetap berjalan secara efektif meskipun terjadi pergantian generasi kepemimpinan.[33] Pada saat yang sama, otoritas moral yang melekat pada nilai-nilai dasar pesantren memastikan bahwa perubahan yang terjadi tidak menghilangkan identitas kelembagaan yang telah dibangun sejak awal. Dengan kata lain, role culture berfungsi menjaga keberlangsungan operasional organisasi, sedangkan power culture berfungsi menjaga keberlangsungan ideologi dan nilai-nilai pesantren.

Dalam perspektif yang lebih luas budaya organisasi Gontor menunjukkan bahwa keberlanjutan lembaga pendidikan Islam ditentukan oleh kualitas sistem manajemen organisasi. Selain itu juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara struktur organisasi dan kepemimpinan berbasis nilai. Struktur tanpa nilai dapat melahirkan organisasi yang kaku dan kehilangan arah, sedangkan kepemimpinan tanpa sistem berpotensi menciptakan ketergantungan yang tinggi pada figur tertentu. Gontor berhasil memadukan kedua unsur tersebut sehingga mampu membangun organisasi yang stabil, adaptif, dan berkelanjutan.

SA menyatakan bahwa,

“Dengan kepemimpinan kolektif kolegial membuat kepemimpinan di Gontor tetap berjalan meskipun salah satu pimpinan tidak ada di Pesantren”[34]

 

Dengan demikian analisis berdasarkan teori budaya organisasi Charles Handy menunjukkan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki karakter budaya yang didominasi oleh perpaduan role culture dan power culture. Karakter role culture tercermin dalam kuatnya sistem, struktur organisasi, disiplin, serta mekanisme kaderisasi yang memungkinkan organisasi berjalan secara efektif dan berkelanjutan.

SU menyatakan bahwa,

“Faktor istiqomah dalam menjalankan seluruh kegiatan yang sudah terjadwal, jadwalnya tetap, dan tidak berubah, itu mewujudkan konsistensi dalam menjaga nilai-nilai pesantren”[35]

 

Hal ini membuat kegiatan berjalan dengan efektif dan berkelanjutan. Sementara itu karakter power culture terlihat pada kuatnya pengaruh kepemimpinan dan otoritas moral dalam menjaga arah, identitas, dan nilai-nilai dasar pesantren. Perpaduan kedua tipe budaya tersebut menjadi fondasi penting yang mendukung keberhasilan Gontor dalam mempertahankan eksistensi dan keberlanjutan kelembagaannya di tengah dinamika perubahan sosial, pendidikan, dan keagamaan yang terus berkembang.

Dalam perspektif Competing Values Framework (CVF) yang dikembangkan oleh Robert E. Quinn dan John Rohrbaugh, budaya organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor dapat dipahami sebagai perpaduan antara hierarchy culture dan clan culture. Kerangka CVF menjelaskan bahwa budaya organisasi dibentuk oleh dua dimensi utama, yaitu orientasi internal dan orientasi eksternal, serta dimensi fleksibilitas dan kontrol.

Kombinasi kedua dimensi tersebut menghasilkan empat tipe budaya organisasi yaitu clan culture, adhocracy culture, market culture, dan hierarchy culture.[36] Dalam konteks Pondok Modern Darussalam Gontor, hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi lebih dominan berada pada kuadran hierarchy culture yang diperkuat oleh karakteristik clan culture. Perpaduan kedua tipe budaya ini menjadi salah satu faktor yang menjelaskan kemampuan Gontor dalam menjaga stabilitas organisasi sekaligus mempertahankan solidaritas sosial yang kuat di antara seluruh warga pesantren.

Clan culture dapat diketahui juga dari pernyataan WI bahwa,

“Pak Yai sering sekali dalam berbagai kesempatan menyampaikan nasehat kepada santri dengan ungkapan yang sangat mengayomi. Misalnya jika menegur santri, Pak Yai bilang, Jangan ya nak.. jangan berbuat yang tidak baik..”[37]

 

Penggunaan kata juga sangat berpengaruh terhadap psikologis santri. Ini membuat rasa kekeluargaan sangat tinggi di lingkungan pesantren. Selain itu karakteristik hierarchy culture dalam Gontor terlihat dari kuatnya sistem pengelolaan organisasi yang menekankan keteraturan, disiplin, prosedur, dan pengendalian. Dalam teori Quinn dan Rohrbaugh, organisasi dengan budaya hierarki menempatkan stabilitas, efisiensi, dan konsistensi sebagai prioritas utama. Organisasi dikelola melalui aturan yang jelas, pembagian tugas yang terstruktur, serta mekanisme pengawasan yang sistematis. Keberhasilan organisasi diukur dari kemampuannya menjaga ketertiban internal dan memastikan seluruh aktivitas berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Karakter tersebut tampak nyata dalam sistem kehidupan pesantren yang diterapkan di Gontor. Seluruh aktivitas santri berlangsung dalam kerangka aturan yang jelas dan terukur. Kehidupan sehari-hari santri diatur melalui jadwal yang ketat mulai dari bangun tidur, pelaksanaan ibadah, kegiatan belajar mengajar, aktivitas organisasi, hingga waktu istirahat.[38]

Pola kehidupan yang terstruktur tersebut menunjukkan bahwa pesantren menerapkan sistem pengelolaan yang mengutamakan keteraturan dan konsistensi.

FA menyatakan,

“kegiatan sudah ada jadwalnya. Santri harus mengikuti semua seperti peraturan pesantren”[39]

 

Melalui pengaturan yang sistematis, pesantren mampu membentuk budaya disiplin yang menjadi salah satu ciri khas utama Gontor. Berikut jadwal kegiatan harian santri Gontor:

 

NO

JAM

KEGIATAN

1.

03.30 – 04.10

Bangun Pagi dan Pembacaan Al-Qur’an

2.

04.00 – 04.15

Sholat Shubuh

3.

04.45 – 05.15

Muhadatsah Pagi

4.

05.15 – 05.45

Belajar pagi

5.

06.00 – 07.00

MCK dan Sarapan Pagi

6.

07.30 – 11.45

Masuk Kelas

7.

09.00 – 09.30

Istirahat Pertama

8.

11.00 – 11.45

Belajar

9.

12.00 – 13.00

Shalat Dhuhur

10.

13.00 – 13.45

Makan Siang

11.

14.00 – 14.45

Pelajaran Sore

12.

15.00 – 15.15

Shalat Ashar

13.

15.15 – 15.45

Pembacaan Al-Qur’an

14.

15.45 – 17.00

Pembersihan dan MCK

15.

17.00 – 17.45

Pembacaan Al-Qur’an

16.

17.45 – 18.30

Shalat maghrib

17.

18.15 – 18.30

Pembacaan Al-Qur’an Menurut Kamar Masing-masing

18.

18.30 – 19.30

Makan Malam

19.

19.30 – 19.45

Shalat Isya’

20.

19.45 – 20.00

Membaca Do’a bersama

21.

20.00 – 21.30

Belajar Malam

22.

21.45 – 22.00

Absen Malam

23.

22.00 – 03.45

Istirahat

 

Tabel 4.9. Jadwal Kegiatan Harian Santri Pesantren Gontor[40]

 

Budaya disiplin tersebut tidak hanya berlaku bagi santri, tetapi juga bagi para guru, pengurus, dan seluruh elemen organisasi. Setiap individu dituntut untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Kepatuhan terhadap aturan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan telah menjadi bagian dari budaya organisasi yang tertanam dalam kehidupan pesantren. Kondisi ini menunjukkan bahwa fungsi kontrol dalam organisasi berjalan secara efektif dan menjadi mekanisme penting dalam menjaga stabilitas kelembagaan.

Selain itu karakter hierarchy culture juga terlihat pada adanya struktur organisasi yang jelas dalam pengelolaan pesantren. Gontor memiliki pembagian tugas dan wewenang yang terorganisasi dengan baik sehingga setiap unit dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Hal ini diperkuat dengan pernyataan SU bahwa,

“Pandangan Gontor tentang kepemimpinan adalah bukan jabatan semata melainkan sebuah Amanah yang didalamnya harus bersungguh-sungguh dan tuntas dalam setiap Amanah tersebut”[41]

Struktur tersebut mencakup berbagai bidang seperti pendidikan, pengasuhan santri, administrasi, keuangan, pembangunan, serta unit-unit usaha yang mendukung keberlangsungan pesantren. Kejelasan struktur organisasi memungkinkan proses koordinasi berjalan lebih efektif dan mengurangi potensi terjadinya tumpang tindih kewenangan.

Penerapan standar operasional dalam berbagai kegiatan pesantren semakin memperkuat karakter budaya hierarki tersebut. Setiap aktivitas memiliki pedoman dan prosedur yang harus diikuti oleh seluruh anggota organisasi. Prosedur tersebut menjadi instrumen untuk menjaga kualitas pelaksanaan program sekaligus memastikan bahwa seluruh kegiatan tetap sejalan dengan visi dan tujuan pesantren. Dalam perspektif CVF kondisi ini menunjukkan dominasi orientasi kontrol yang menjadi ciri utama hierarchy culture.

Keberadaan budaya hierarki di Gontor memiliki kontribusi penting terhadap keberlanjutan organisasi. Organisasi yang memiliki sistem dan prosedur yang jelas cenderung lebih mampu mempertahankan stabilitas dalam jangka panjang. Ketergantungan terhadap individu tertentu dapat diminimalkan karena proses organisasi telah berjalan berdasarkan mekanisme yang telah dilembagakan.[42]

Dalam konteks pesantren sistem yang kuat memungkinkan keberlangsungan lembaga tetap terjaga meskipun terjadi pergantian kepemimpinan atau perubahan lingkungan eksternal. Oleh karena itu, budaya hierarki menjadi salah satu fondasi penting yang mendukung daya tahan organisasi pesantren.

Meskipun demikian, budaya organisasi Gontor tidak dapat dipahami hanya melalui perspektif hierarchy culture. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di balik kuatnya sistem dan kontrol organisasi terdapat nilai-nilai sosial yang mencerminkan karakteristik clan culture. Dalam kerangka Quinn dan Rohrbaugh, clan culture merupakan tipe budaya yang menekankan hubungan kekeluargaan, kebersamaan, partisipasi, loyalitas, dan pengembangan manusia. Organisasi dipandang sebagai sebuah keluarga besar yang diikat oleh nilai, komitmen, dan tujuan bersama.

Karakter clan culture dalam Gontor terlihat dari kuatnya nilai ukhuwah Islamiyah yang menjadi salah satu prinsip dasar kehidupan pesantren. Ukhuwah tidak hanya dipahami sebagai konsep normatif, tetapi diwujudkan dalam berbagai bentuk interaksi sosial sehari-hari. Seluruh warga pesantren didorong untuk membangun hubungan yang harmonis, saling membantu, dan saling menghormati. Nilai kebersamaan tersebut menjadi perekat sosial yang memperkuat integrasi organisasi.

Kehidupan berasrama yang diterapkan di Gontor turut memperkuat terbentuknya budaya kekeluargaan. Seluruh santri hidup bersama dalam satu lingkungan yang memungkinkan terjadinya interaksi intensif selama dua puluh empat jam.

AR menyatakan,

“semua santri hidup bersamaan ketika di asrama atau pas di kelas. Ya kita biasanya belajar bersama dan bermain bersama.”[43]

 

AN pun memberikan keterangan yang mirip bahwa,

“Disini semua santri mendapatkan perlakuanyang sama. Yang penting harus taat dengan aturan yang ada”[44]

 

Situasi tersebut menciptakan proses sosialisasi yang kuat sehingga nilai-nilai pesantren dapat ditanamkan secara lebih efektif. Hubungan antar santri tidak hanya bersifat formal sebagai sesama peserta didik, tetapi berkembang menjadi hubungan persaudaraan yang berlangsung bahkan setelah mereka meninggalkan pesantren. Jaringan alumni yang kuat merupakan salah satu bukti keberhasilan pesantren dalam membangun budaya clan yang berkelanjutan.

Karakter clan culture juga tercermin dalam hubungan antara kiai, guru, dan santri. Dalam banyak organisasi formal, hubungan antara pimpinan dan anggota sering kali dibatasi oleh struktur birokrasi yang kaku. Namun di lingkungan Gontor, hubungan tersebut berkembang dalam suasana yang lebih personal dan emosional. Kiai tidak hanya berperan sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, dan figur teladan bagi para santri.[45] Guru tidak sekadar menjalankan fungsi akademik, melainkan turut terlibat dalam pembinaan karakter dan kehidupan sehari-hari santri.

Hubungan yang dekat tersebut menciptakan tingkat kepercayaan yang tinggi di antara seluruh anggota organisasi. Kepercayaan menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga efektivitas organisasi. Ketika anggota organisasi memiliki rasa memiliki yang kuat terhadap lembaga, mereka akan lebih mudah menerima aturan, menjalankan tugas, dan berkontribusi terhadap pencapaian tujuan bersama. Dengan demikian, budaya clan berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial yang melengkapi fungsi kontrol yang dijalankan oleh budaya hierarki.

SA menyatakan bahwa,

“Santri melihat keseharian guru dan Pak Yai di lingkungan pesantren, sehingga mereka tidak hanya belajar teori namun juga belajar dari melihat para seniornya” [46]

 

Nilai keikhlasan yang menjadi salah satu panca jiwa Gontor juga memperkuat karakter clan culture. Keikhlasan mendorong seluruh warga pesantren untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab bukan semata-mata karena imbalan material, tetapi sebagai bentuk pengabdian kepada agama, masyarakat, dan lembaga. Nilai tersebut menciptakan ikatan emosional yang kuat antara individu dan organisasi sehingga loyalitas terhadap pesantren dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Dalam perspektif CVF loyalitas dan komitmen merupakan indikator penting yang menunjukkan kuatnya budaya clan dalam suatu organisasi.[47]

Kombinasi antara hierarchy culture dan clan culture menghasilkan pola budaya organisasi yang unik dan seimbang. Di satu sisi, budaya hierarki memberikan fondasi berupa keteraturan, disiplin, dan stabilitas organisasi. Sistem yang kuat memastikan bahwa seluruh aktivitas berjalan secara efektif dan konsisten sesuai dengan tujuan kelembagaan. Di sisi lain, budaya clan menghadirkan suasana kekeluargaan, solidaritas, dan kohesi sosial yang memperkuat keterikatan emosional seluruh anggota organisasi terhadap pesantren.

Keseimbangan tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan keberhasilan Gontor dalam mempertahankan eksistensinya selama puluhan tahun. Organisasi yang hanya mengandalkan budaya hierarki berpotensi menjadi terlalu birokratis dan kehilangan kedekatan sosial dengan anggotanya. Sebaliknya organisasi yang hanya mengandalkan budaya clan sering kali menghadapi kesulitan dalam menjaga disiplin dan efektivitas kerja. Gontor mampu mengintegrasikan kedua karakter tersebut sehingga menghasilkan organisasi yang tidak hanya tertib secara administratif tetapi juga kuat secara sosial dan kultural.[48]

Dalam konteks keberlanjutan pesantren, perpaduan antara budaya hierarki dan budaya clan memiliki implikasi yang sangat signifikan. Budaya hierarki mendukung keberlanjutan struktural melalui sistem organisasi yang jelas, mekanisme kaderisasi yang teratur, serta tata kelola yang konsisten.[49] Sementara itu, budaya clan mendukung keberlanjutan sosial melalui penguatan nilai-nilai kebersamaan, loyalitas, dan identitas kolektif. Kedua aspek tersebut saling melengkapi dalam menjaga kesinambungan lembaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Lebih jauh lagi kombinasi kedua budaya tersebut memungkinkan Gontor menghadapi berbagai perubahan sosial tanpa kehilangan identitas dasarnya. Sistem organisasi yang kuat memberikan kemampuan adaptasi terhadap tantangan eksternal, sedangkan kohesi sosial yang tinggi menjaga agar perubahan tidak mengikis nilai-nilai fundamental pesantren. Dengan demikian, budaya organisasi Gontor tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengelolaan internal, tetapi juga sebagai mekanisme strategis dalam menjaga keberlanjutan kelembagaan.

Berdasarkan analisis menggunakan Competing Values Framework, dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor menunjukkan dominasi hierarchy culture yang dipadukan dengan karakteristik clan culture. Unsur hierarki tercermin melalui sistem disiplin yang ketat, struktur organisasi yang jelas, pengelolaan yang teratur, serta standar operasional yang konsisten. Sementara itu, unsur clan tampak pada kuatnya nilai kekeluargaan, ukhuwah Islamiyah, loyalitas, dan hubungan emosional antara kiai, guru, dan santri. Perpaduan kedua budaya tersebut menghasilkan organisasi yang stabil secara sistem, kuat secara sosial, serta mampu mempertahankan keberlanjutannya dalam menghadapi berbagai dinamika perubahan zaman.

Lebih lanjut jika dianalisis menggunakan perspektif Geert Hofstede Dimana teori tersebut merupakan salah satu kerangka kerja paling berpengaruh dalam memahami perbedaan budaya, khususnya dalam konteks organisasi dan manajemen sumber daya manusia.[50]

Teori budaya nasional yang dikembangkan oleh Geert Hofstede menjelaskan bahwa budaya merupakan program mental kolektif yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lainnya dan sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku organisasi. Salah satu dimensi utamanya adalah individualism versus collectivism, yang menunjukkan sejauh mana individu menekankan kepentingan pribadi atau lebih mengutamakan kepentingan kelompok. Dalam budaya yang bersifat kolektif, individu cenderung memiliki loyalitas yang kuat terhadap kelompok, menjunjung tinggi kerja sama, serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.[51]

Budaya organisasi Gontor memperlihatkan karakteristik tinggi pada dimensi collectivism di mana kepentingan kelompok lebih diutamakan dibandingkan kepentingan individu. Hal ini tercermin dalam kuatnya solidaritas antar santri, jaringan alumni yang solid, serta orientasi kolektif dalam membangun reputasi lembaga. Selain itu dimensi high power distance juga terlihat dari struktur kepemimpinan yang menempatkan kiai sebagai figur sentral yang dihormati dan menjadi sumber legitimasi nilai. Sementara itu juga terlihat sistem aturan yang ketat dan terstruktur yang bertujuan menciptakan keteraturan dalam kehidupan pesantren.

Lebih lanjut, apabila temuan penelitian dianalisis menggunakan perspektif budaya yang dikembangkan oleh Geert Hofstede, budaya organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor memperlihatkan sejumlah karakteristik yang khas dan relevan dengan dimensi-dimensi budaya yang dikemukakan Hofstede.

Dimensi pertama yang sangat menonjol dalam budaya organisasi Gontor adalah collectivism atau kolektivisme. Dalam teori Hofstede, dimensi individualism versus collectivism menjelaskan sejauh mana individu memandang dirinya sebagai bagian dari kelompok atau sebagai pribadi yang berdiri secara mandiri.

Budaya individualistik menempatkan kepentingan pribadi sebagai prioritas utama, sedangkan budaya kolektivistik menekankan kepentingan kelompok, solidaritas sosial, loyalitas, dan tanggung jawab bersama. Organisasi yang memiliki tingkat kolektivisme tinggi umumnya menempatkan keberhasilan kelompok di atas pencapaian individu serta mendorong anggota untuk mengembangkan rasa memiliki terhadap organisasi.

Karakter kolektivisme tersebut terlihat sangat kuat dalam kehidupan pesantren Gontor. Sejak awal memasuki lingkungan pesantren, santri dibentuk untuk mengembangkan identitas kolektif sebagai bagian dari komunitas besar yang memiliki tujuan, nilai, dan cita-cita yang sama.[52] Kehidupan berasrama yang berlangsung selama dua puluh empat jam menciptakan ruang interaksi sosial yang intensif sehingga mendorong terbentuknya solidaritas. Santri belajar hidup bersama, berbagi pengalaman, menghadapi tantangan Bersama.

AN memberikan keterangan bahwa,

“Santri dari bangun tidur sampai tidur lagi selalu bersama-sama”[53]

 

AR pun menyatakan hal yang serupa,

“Sepanjang hari kegiatan sudah dijadwal dan dikerjakan Bersama dengan santri yang lainnya”[54]

 

Budaya kolektivisme juga tercermin dalam berbagai kegiatan organisasi yang menjadi bagian dari sistem pendidikan Gontor. Berbagai aktivitas kepemimpinan, organisasi santri, kegiatan ekstrakurikuler, hingga program pengabdian dirancang untuk menanamkan semangat kerja sama dan tanggung jawab kolektif. Santri didorong untuk bekerja dalam tim, menyelesaikan tugas bersama.

Kuatnya budaya kolektivisme juga tampak pada hubungan antaralumni Gontor. Salah satu karakteristik yang sering dikaitkan dengan keberhasilan pesantren ini adalah keberadaan jaringan alumni yang luas dan solid. Alumni tidak hanya mempertahankan hubungan emosional setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga membangun berbagai bentuk kerja sama dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, maupun pengembangan masyarakat.

WI memberikan informasi bahwa,

“Para alumni gontor masih tetap terjaga meskipun mereka sudah tidak dalam satu pesantren yang sama, bahkan ada wadah untuk ikatan alumni.”[55]

 

Jaringan tersebut menunjukkan bahwa identitas sebagai bagian dari keluarga besar Gontor tetap melekat meskipun individu telah berada di lingkungan sosial yang berbeda. Dalam perspektif Hofstede, fenomena ini merupakan salah satu indikator kuat dari budaya kolektivistik karena loyalitas terhadap kelompok tetap dipertahankan dalam jangka panjang.

Orientasi kolektif juga terlihat dalam upaya menjaga nama baik dan reputasi lembaga. Seluruh warga pesantren, baik santri, guru, maupun alumni, memiliki kesadaran bahwa perilaku individu dapat memengaruhi citra organisasi secara keseluruhan.

Oleh karena itu setiap anggota didorong untuk menjaga etika, disiplin, dan tanggung jawab sebagai representasi nilai-nilai pesantren.[56] Reputasi lembaga tidak dipandang sebagai milik kelompok tertentu, tetapi sebagai hasil dari kontribusi bersama seluruh warga pesantren. Kesadaran kolektif semacam ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan dan kredibilitas lembaga.

Selain dimensi kolektivisme, budaya organisasi Gontor juga memperlihatkan karakteristik yang kuat pada dimensi power distance atau jarak kekuasaan. Menurut Hofstede, power distance menunjukkan sejauh mana anggota organisasi menerima distribusi kekuasaan yang tidak merata. Dalam budaya dengan tingkat power distance tinggi, keberadaan hierarki dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan sah. Pemimpin memperoleh penghormatan yang tinggi, keputusan strategis cenderung berasal dari tingkat atas, dan anggota organisasi menerima perbedaan status sebagai bagian dari kehidupan sosial yang normal.

Dalam konteks Gontor, dimensi high power distance terlihat dari posisi sentral kiai dan pimpinan pesantren dalam struktur budaya organisasi. Kiai tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin administratif, tetapi juga sebagai figur moral, pendidik, sekaligus simbol identitas pesantren. Kehadiran kiai menjadi sumber inspirasi, panutan perilaku, serta rujukan utama dalam berbagai persoalan yang dihadapi oleh warga pesantren. Penghormatan terhadap kiai tidak semata-mata didasarkan pada posisi formal, tetapi juga karena otoritas keilmuan, pengalaman, keteladanan, dan legitimasi moral yang dimiliki.

Penghormatan yang tinggi terhadap kiai tercermin dalam berbagai aspek kehidupan pesantren. Santri diajarkan untuk menghormati guru dan pemimpin sebagai bagian dari adab dalam menuntut ilmu.

AR memberikan keterangan,

“Santri selalu diajarkan untuk menghormati siapapun yang berusia lebih tua apalagi kepada para guru”[57]

 

SO juga menjelaskan,

“Santri Gontor sopan-sopan tapis ama pondok itu dilarang terlalu berbaur dengan warga kampung”[58]

 

FA turut serta memberi informasi bahwa,

“harus selalu hormat kepada orang lain, bahkan terhadap teman juga harus menghormati, apalagi kalau kepada guru dan orang tua”[59]

 

Nilai penghormatan tersebut diwujudkan dalam kepatuhan terhadap arahan, nasihat, dan kebijakan yang diberikan oleh pimpinan pesantren. Dalam perspektif Hofstede, kondisi ini menunjukkan penerimaan terhadap struktur hierarki yang menjadi ciri khas budaya dengan tingkat power distance tinggi.

Kepemimpinan yang berkembang lebih banyak didasarkan pada legitimasi nilai dan keteladanan daripada penggunaan kekuasaan secara kolektif.[60] Kiai memperoleh penghormatan karena dianggap mampu merepresentasikan nilai-nilai luhur pesantren dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian hubungan antara pemimpin dan anggota organisasi memiliki dimensi moral dan spiritual yang kuat.

Keberadaan struktur hierarki yang jelas juga terlihat dalam hubungan antara pimpinan, guru, pengurus, dan santri. Setiap posisi memiliki tugas, kewenangan, dan tanggung jawab yang telah ditetapkan secara jelas. Struktur tersebut menciptakan mekanisme koordinasi yang efektif sehingga seluruh aktivitas organisasi dapat berjalan secara teratur.

SU menjelaskan,

“Kebiasaan yang diajarkan adalah siapa mengerjakan apa dan bertanggungjawab kepada siapa”[61]

 

Dengan demikian dalam budaya dengan tingkat power distance tinggi, keberadaan struktur seperti ini membantu menjaga stabilitas organisasi sekaligus memperjelas alur komunikasi dan pengambilan keputusan.

Dimensi berikutnya yang dapat digunakan untuk memahami budaya organisasi Gontor adalah uncertainty avoidance atau penghindaran terhadap ketidakpastian. Menurut Hofstede, dimensi ini menunjukkan sejauh mana anggota organisasi merasa nyaman atau tidak nyaman terhadap situasi yang tidak pasti. Organisasi dengan tingkat uncertainty avoidance yang tinggi cenderung mengembangkan aturan, prosedur, dan mekanisme pengendalian yang jelas untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan kepastian dalam pelaksanaan aktivitas organisasi.

Karakteristik tersebut tampak dalam sistem kehidupan pesantren yang sangat terstruktur. Berbagai aspek kehidupan santri diatur melalui jadwal, tata tertib, dan prosedur yang rinci. Mulai dari waktu bangun tidur, pelaksanaan ibadah, kegiatan belajar, aktivitas organisasi, hingga waktu istirahat telah diatur secara sistematis. Pengaturan tersebut bertujuan menciptakan keteraturan, disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Keberadaan berbagai aturan dan tata tertib juga berfungsi sebagai sarana internalisasi budaya organisasi.[62] Aturan digunakan sebagai media pendidikan karakter. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, santri belajar menghargai waktu, mematuhi ketentuan bersama, serta mengembangkan tanggung jawab. Dalam perspektif Hofstede, mekanisme semacam ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk mengurangi ketidakpastian melalui penciptaan sistem yang jelas dan dapat diprediksi.

AN memberikan keterangan,

“Semua kegiatan sudah dijadwal dan seluruh santri harus mengikuti jadwalnya. Kegiatan sudah disusun untuk setahun penuh”[63]

 

Dengan demikian budaya organisasi Gontor juga memperlihatkan kecenderungan pada dimensi long term orientation atau orientasi jangka panjang. Hofstede menjelaskan bahwa masyarakat atau organisasi yang memiliki orientasi jangka panjang cenderung menekankan ketekunan, perencanaan masa depan, investasi pada sumber daya manusia.[64] Selain itu juga kemampuan beradaptasi untuk mencapai tujuan jangka panjang. Karakteristik ini sangat terlihat dalam sistem kaderisasi yang diterapkan di Gontor.

Pesantren tidak hanya berfokus pada pencapaian hasil pendidikan dalam jangka pendek, tetapi juga membangun sistem yang dirancang untuk menjamin keberlanjutan lembaga dalam jangka panjang. Berbagai program kaderisasi, pengembangan guru, pembentukan kepemimpinan santri, hingga penguatan jaringan alumni merupakan bentuk investasi kelembagaan yang hasilnya baru akan terlihat dalam kurun waktu yang panjang. Orientasi semacam ini menunjukkan bahwa budaya organisasi Gontor mempertimbangkan masa depan lembaga dan generasi penerusnya.

RE menjelaskan bahwa,

“Kepemimpinan santri dipersiapkan melalui berbagai kegiatan organsiasi santri”[65]

 

Apabila seluruh dimensi tersebut dianalisis secara terpadu, terlihat bahwa budaya organisasi Gontor dibangun di atas kombinasi antara kolektivisme yang kuat, penghormatan terhadap hierarki, kecenderungan menciptakan keteraturan melalui sistem yang jelas, serta orientasi jangka panjang terhadap pengembangan organisasi.

Dengan demikian analisis berdasarkan perspektif Geert Hofstede menunjukkan bahwa budaya organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki karakteristik kolektivistik yang kuat, tingkat power distance yang tinggi, kecenderungan uncertainty avoidance yang relatif besar, serta orientasi jangka panjang yang menonjol. Karakteristik tersebut tercermin dalam solidaritas antar santri, kuatnya jaringan alumni, penghormatan terhadap kiai, serta sistem aturan yang terstruktur dan berkelanjutan.

Keseluruhan dimensi tersebut menjadi elemen penting yang mendukung keberhasilan Gontor dalam membangun organisasi yang stabil, memiliki identitas yang kuat, serta mampu mempertahankan keberlanjutannya di tengah berbagai perubahan sosial dan pendidikan yang terus berkembang. Sementara itu apabila dianalisis menggunakan perspektif budaya organisasi yang dikembangkan oleh Terrence E. Deal dan Allan A. Kennedy, Pondok Modern Darussalam Gontor dapat dikategorikan sebagai organisasi yang memiliki strong culture atau budaya organisasi yang kuat.

Menurut Terrence E. Deal dan Allan A. Kennedy, budaya organisasi merupakan sistem nilai, keyakinan, ritual, dan simbol yang membentuk cara anggota organisasi berpikir dan bertindak. Salah satu konsep utama dalam teori ini adalah strong culture, yaitu kondisi ketika nilai-nilai inti organisasi tertanam secara kuat, dianut secara luas, dan secara konsisten memengaruhi perilaku seluruh anggota organisasi.

Budaya yang kuat ditandai oleh adanya keselarasan nilai, loyalitas anggota, serta keberadaan elemen budaya seperti ritual, figur teladan (heroes), dan keyakinan bersama yang berfungsi memperkuat identitas serta kohesi organisasi. Dalam perspektif ini, organisasi dengan strong culture memiliki stabilitas dan arah yang jelas karena seluruh anggotanya bergerak berdasarkan nilai yang sama.[66]

Dalam pandangan Deal dan Kennedy budaya organisasi merupakan sistem nilai, keyakinan, simbol, ritual, serta pola perilaku yang dipahami dan dijalankan bersama oleh seluruh anggota organisasi. Budaya yang kuat ditandai oleh tingginya tingkat kesamaan pemahaman terhadap nilai-nilai organisasi, kuatnya komitmen anggota terhadap tujuan bersama, serta konsistensi perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Semakin kuat budaya yang dimiliki suatu organisasi, semakin besar kemampuannya dalam membentuk perilaku anggota, menciptakan identitas kolektif, serta menjaga keberlangsungan organisasi dalam jangka panjang.

Dalam konteks Pondok Modern Darussalam Gontor, karakteristik strong culture terlihat secara nyata melalui keberadaan nilai-nilai inti. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama yang mengarahkan berbagai aktivitas pendidikan, pengelolaan organisasi, serta pola interaksi sosial yang berkembang dalam kehidupan pesantren. Berbeda dengan organisasi yang hanya menjadikan nilai sebagai slogan formal, di Gontor nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari sehingga membentuk identitas kelembagaan yang khas.

SA menyampaikan,

“Gontor fokus untuk mendidik santri melaluio program Kulliyatul Muallimin. Diharapkan santri jika lulus bisa melanjutkan kegiatan belajar mengajar”[67]

 

Salah satu indikator utama budaya organisasi yang kuat menurut Deal dan Kennedy adalah adanya seperangkat nilai inti (core values) yang dipahami dan diyakini bersama oleh seluruh anggota organisasi. Dalam Gontor, nilai inti tersebut tercermin dalam Panca Jiwa Pondok yang terdiri atas keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan.

Kelima nilai tersebut bukan sekadar konsep normatif yang diajarkan dalam ruang kelas, melainkan menjadi prinsip dasar yang menjiwai seluruh aspek kehidupan pesantren.[68] Nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak bagi santri, guru, pengurus, maupun pimpinan pesantren.

Nilai keikhlasan, misalnya, menjadi landasan penting dalam membangun semangat pengabdian di lingkungan pesantren. Berbagai aktivitas pendidikan, pembinaan, dan pelayanan dilakukan dengan orientasi ibadah dan pengabdian, bukan semata-mata didorong oleh kepentingan material. Nilai ini membentuk karakter organisasi yang menempatkan dedikasi dan komitmen sebagai bagian penting dari budaya kerja. Dalam perspektif Deal dan Kennedy, nilai yang diyakini secara kolektif dan diwujudkan secara konsisten seperti ini merupakan ciri utama organisasi yang memiliki budaya kuat.

Demikian pula dengan nilai kesederhanaan yang menjadi salah satu identitas khas Gontor. Kesederhanaan tidak dimaknai sebagai keterbatasan atau kemiskinan, tetapi sebagai sikap hidup yang menekankan efisiensi, pengendalian diri, serta kemampuan menempatkan kebutuhan di atas keinginan. Nilai tersebut tercermin dalam pola kehidupan santri, gaya kepemimpinan, maupun pengelolaan berbagai aktivitas pesantren. Konsistensi penerapan nilai kesederhanaan dalam berbagai aspek kehidupan menunjukkan bahwa budaya organisasi telah berfungsi sebagai mekanisme pengendali perilaku yang efektif.

Selain keberadaan nilai inti yang kuat, Deal dan Kennedy menekankan pentingnya simbol-simbol organisasi dalam memperkuat budaya. Simbol berfungsi sebagai representasi konkret dari nilai dan identitas organisasi sehingga memudahkan proses internalisasi budaya kepada anggota. Dalam konteks Gontor, berbagai simbol organisasi memiliki peran penting dalam memperkuat identitas kelembagaan dan membangun rasa memiliki di kalangan warga pesantren.

Simbol-simbol tersebut dapat berupa slogan, moto, lambang, tradisi, hingga berbagai bentuk ritual yang terus dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi. Moto pondok yang terkenal, seperti “berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas”, bukan sekadar rangkaian kata yang dipasang di lingkungan pesantren, melainkan menjadi orientasi pendidikan yang terus ditanamkan kepada para santri. Demikian pula berbagai semboyan yang berkembang di lingkungan pesantren berfungsi sebagai media internalisasi nilai yang memperkuat budaya organisasi.

Selain simbol verbal, terdapat pula simbol-simbol perilaku yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pesantren. Cara berpakaian, tata cara berinteraksi dengan guru, kebiasaan hidup bersama di asrama, pola disiplin waktu, serta berbagai tradisi yang dijalankan secara kolektif merupakan simbol budaya yang memperkuat identitas organisasi. Simbol-simbol tersebut menciptakan pengalaman sosial yang sama bagi seluruh anggota sehingga memperkuat rasa kebersamaan dan loyalitas terhadap lembaga.

Menurut Deal dan Kennedy, budaya organisasi yang kuat juga ditandai oleh keberadaan ritual dan seremoni yang berfungsi memperkuat nilai-nilai organisasi.[69] Ritual merupakan aktivitas yang dilakukan secara berulang dan memiliki makna simbolik bagi anggota organisasi. Dalam lingkungan Gontor, berbagai kegiatan rutin yang dilaksanakan secara terjadwal dapat dipahami sebagai bentuk ritual budaya organisasi yang berfungsi menanamkan nilai-nilai tertentu kepada para santri.[70]

Kegiatan seperti apel, pertemuan organisasi, kegiatan pengasuhan, peringatan hari-hari penting pesantren, hingga berbagai acara pendidikan dan kepemimpinan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar aktivitas administratif. Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, dan loyalitas terus direproduksi dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ritual-ritual tersebut menjadi sarana yang efektif untuk menjaga kontinuitas budaya organisasi sekaligus memperkuat identitas kolektif warga pesantren.

Kekuatan budaya organisasi Gontor juga terlihat dari tingginya konsistensi perilaku anggota organisasi dalam jangka panjang. Deal dan Kennedy menjelaskan bahwa budaya yang kuat akan menghasilkan kesamaan pola perilaku di antara anggota organisasi karena nilai-nilai yang dianut telah menjadi pedoman bersama dalam bertindak. Dalam organisasi yang memiliki budaya lemah, perilaku anggota cenderung beragam dan tidak memiliki arah yang jelas. Sebaliknya, dalam organisasi yang memiliki budaya kuat, anggota menunjukkan pola perilaku yang relatif seragam karena dipengaruhi oleh sistem nilai yang sama.

Fenomena tersebut terlihat jelas dalam kehidupan Gontor. Kedisiplinan, tanggung jawab, semangat pengabdian, serta sikap hidup sederhana dapat ditemukan secara konsisten pada berbagai generasi santri dan alumni. Meskipun berasal dari latar belakang sosial, budaya, dan daerah yang berbeda, para santri mengalami proses pembentukan karakter yang relatif sama selama berada di lingkungan pesantren.[71] Hasilnya adalah munculnya pola perilaku yang mencerminkan identitas khas Gontor dan tetap dapat dikenali bahkan setelah mereka meninggalkan pesantren.

Hal ini juga seperti keterangan dari FI,

“Santri gontor meskipun beda Angkatan, lalu bertemu maka mereka seperti memiliki kesamaan karena sama-sama pernah belajar kedisiplinan di Gontor” [72]

 

Dalam perspektif budaya organisasi, konsistensi perilaku tersebut menunjukkan keberhasilan proses internalisasi nilai. Nilai-nilai organisasi tidak hanya berhenti pada tingkat pemahaman kognitif, tetapi telah menjadi bagian dari kesadaran individu yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Oleh karena itu, budaya organisasi berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang lebih efektif dibandingkan pengawasan formal semata. Anggota organisasi bertindak sesuai dengan nilai yang dianut karena meyakini nilai tersebut sebagai sesuatu yang benar dan penting.

Aspek lain yang sangat menarik dalam konteks Gontor adalah mekanisme reproduksi budaya melalui jaringan alumni. Deal dan Kennedy menjelaskan bahwa budaya organisasi yang kuat memiliki kemampuan untuk mereproduksi dirinya sendiri melalui berbagai mekanisme sosial yang memungkinkan nilai-nilai organisasi tetap hidup meskipun terjadi pergantian anggota. Dalam hal ini, alumni memiliki peran yang sangat strategis sebagai agen reproduksi budaya organisasi.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa alumni Gontor tidak hanya berfungsi sebagai lulusan yang pernah menempuh pendidikan di pesantren, tetapi juga sebagai representasi hidup dari nilai-nilai yang diajarkan oleh lembaga. Pernyataan informan SU yang menyebut alumni sebagai

“dengan hasil yang dilihat oleh masyarakat, sehingga hal tersebut menjadi brosur yang tidak harus dicetak, seakan-akan alumni dan hasil yang berbicara ke masyarakat”.[73]

 

“brosur hidup” menggambarkan secara jelas bagaimana budaya organisasi direpresentasikan melalui perilaku dan kiprah alumni di tengah masyarakat. Istilah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sering kali menilai kualitas sebuah pesantren bukan hanya dari fasilitas atau program yang dimilikinya, tetapi dari karakter dan kontribusi para alumninya.

Ini juga seperti informasi dari SO yang menyatakan bahwa,

“Anak gontor dikenal dengan kedisiplinannya. Biasanya pondok lain tidak sedisiplin yang ada di sini. Disini ketat, santri juga tidak boleh main kemana-mana, hanya boleh di area pondok”[74]

 

Alumni yang berhasil menerapkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan sosialnya secara tidak langsung menjadi media promosi budaya organisasi yang paling efektif. Mereka membawa identitas Gontor ke berbagai bidang kehidupan, baik sebagai pendidik, ulama, pemimpin masyarakat, birokrat, akademisi, maupun profesional di berbagai sektor.[75] Melalui peran tersebut alumni tidak hanya memperluas pengaruh sosial pesantren, tetapi juga memperkuat legitimasi budaya organisasi di mata masyarakat.

Keberhasilan alumni dalam berbagai bidang turut menciptakan kepercayaan publik terhadap kualitas pendidikan dan sistem pembinaan yang diterapkan di Gontor. Semakin banyak alumni yang menunjukkan integritas, kompetensi, dan komitmen terhadap nilai-nilai yang diajarkan pesantren, semakin kuat pula citra positif lembaga di tengah masyarakat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya organisasi tidak berhenti di dalam lingkungan pesantren, tetapi terus hidup dan berkembang melalui jaringan sosial yang dibangun oleh para alumninya. Dalam konteks keberlanjutan organisasi, keberadaan alumni sebagai agen reproduksi budaya memiliki arti yang sangat strategis.

Budaya organisasi tentang alumni di Gontor sebagaimana pernyataan SU,

kaderisasi yang dilakukan adalah alumni yang mewakafkan dirinya selama-lamanya mengabdi di Gontor, diwujudkan dengan menandatangani surat khusus yang menjadi pengikat antara ia dan Gontor”[76]

 

Alumni berperan sebagai penghubung antara pesantren dan masyarakat sekaligus menjadi sarana pewarisan nilai yang melampaui batas-batas kelembagaan formal. Mereka membantu menjaga relevansi pesantren di tengah perubahan sosial sekaligus memperluas pengaruh budaya organisasi ke berbagai ruang kehidupan masyarakat. Dengan demikian, proses reproduksi budaya berlangsung secara internal melalui pendidikan santri dan secara eksternal melalui kontribusi alumni.

Berdasarkan analisis menggunakan teori Terrence E. Deal dan Allan A. Kennedy, dapat dinyatakan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan organisasi yang memiliki strong culture dengan tingkat internalisasi nilai yang sangat tinggi.[77] Kekuatan budaya tersebut terlihat pada keberadaan nilai inti yang kokoh, simbol-simbol organisasi yang jelas, ritual yang berlangsung secara berkesinambungan, serta konsistensi perilaku anggota organisasi dalam jangka panjang.

Nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung jawab, keikhlasan, dan kesederhanaan tidak hanya diajarkan sebagai konsep pendidikan, tetapi telah menjadi identitas organisasi yang hidup dalam praktik keseharian. Kekuatan budaya ini semakin diperkuat oleh jaringan alumni yang berfungsi sebagai brosur hidup dan menjadi agen reproduksi budaya organisasi di tengah masyarakat.

 Melalui mekanisme tersebut, budaya organisasi Gontor tidak hanya mampu mempertahankan stabilitas internal, tetapi juga memperluas legitimasi sosial dan mendukung keberlanjutan lembaga dalam jangka panjang. Dengan demikian jika seluruh temuan empiris tersebut dipetakan dalam kerangka teori budaya organisasi maka dapat disimpulkan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan contoh organisasi dengan budaya yang sangat kuat, terintegrasi, dan berlapis.

Keselarasan antara artefak, nilai, dan asumsi dasar (Schein), kombinasi struktur kekuasaan dan peran (Handy), keseimbangan dimensi CVF, karakteristik budaya kolektif (Hofstede), serta kekuatan budaya organisasi (Deal & Kennedy), menjelaskan mengapa Gontor mampu mempertahankan eksistensi dan keberlanjutan kelembagaan secara lintas generasi.

Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan organisasi dengan budaya yang kuat, terintegrasi, dan berlapis, yang terbentuk dari internalisasi nilai-nilai Panca Jiwa, motto, serta visi-misi pondok, dan terwujud dalam praktik kehidupan sehari-hari melalui disiplin, adab, kesederhanaan, tanggung jawab, serta pengabdian.[78]

Sebagaimana disampaikan oleh AR,

“Setiap hari santri diajarkan untuk hidup disiplin. Mereka mengerjakan sesuatu sesuai dengan jadwal kegiatan”[79]

 

Berdasarkan berbagai perspektif teori budaya organisasi Gontor menunjukkan konsistensi pola yang saling menguatkan. Dalam kerangka Edgar Schein budaya organisasi Gontor memperlihatkan keselarasan antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar, di mana seluruh praktik kehidupan pesantren mencerminkan keyakinan kolektif bahwa pendidikan berorientasi pada pembentukan karakter dan kepribadian bukan sekadar transfer ilmu.

Dalam perspektif Competing Values Framework (CVF) budaya Gontor didominasi oleh hierarchy culture yang menekankan keteraturan, disiplin, dan sistem yang kuat, serta diperkuat oleh clan culture yang menekankan solidaritas, ukhuwah Islamiyah, dan hubungan kekeluargaan. Perpaduan ini menghasilkan organisasi yang stabil secara struktural sekaligus kuat secara sosial.

Analisis ini menunjukkan kombinasi role culture dan power culture di mana sistem organisasi dan mekanisme kaderisasi menjamin keberlanjutan operasional, sementara kepemimpinan berbasis nilai menjaga arah ideologis dan identitas lembaga. Sementara itu, dalam perspektif Geert Hofstede, Gontor memperlihatkan karakter kolektivistik yang kuat, tingkat power distance yang tinggi, kecenderungan uncertainty avoidance yang besar, serta orientasi jangka panjang dalam pengembangan organisasi.

Lebih lanjut, dalam perspektif Deal dan Kennedy maka Gontor tergolong sebagai organisasi dengan strong culture, ditandai oleh kuatnya nilai inti, simbol, ritual, konsistensi perilaku, serta jaringan alumni yang berfungsi sebagai agen reproduksi budaya atau “brosur hidup” yang memperluas legitimasi sosial lembaga.

Dengan demikian keseluruhan analisis menunjukkan bahwa budaya organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan sistem nilai yang sangat kuat, stabil, dan berkelanjutan yang terbentuk dari integrasi antara sistem (hierarki), nilai (clan dan power), serta reproduksi sosial (alumni) sehingga mampu menjaga eksistensi dan identitas lembaga secara lintas generasi di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung. Berikut adalah gambar ilustrasinya:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.10 Ilustrasi Budaya Inti Pesantren Gontor



[1] Netty Laura S, “Management Journal” 9816, no. 1 (2026): 33–57.

[2] Sharly Sollu, Sarfilianty Anggiani, and Email Sharlysollugmailcom, “Value Jurnal Ilmiah Akuntansi Keuangan Dan Bisnis PERAN BUDAYA ORGANISASI DALAM MEMBENTUK PERILAKU ORGANISASI DI KEPOLISIAN : STUDI PADA POLDA METRO JAYA Universitas Trisakti , Indonesia Pendahuluan Kepolisian Merupakan Institusi Warga Negara ( Indrayani ,” Jurnal Ilmiah Akuntansi Keuangan Dan Bisnis 5, no. 2 (2025).

[3] Guillem C. Cabana and Muel Kaptein, “Team Ethical Cultures Within an Organization: A Differentiation Perspective on Their Existence and Relevance,” Journal of Business Ethics 170, no. 4 (2021): 761–80, https://doi.org/10.1007/s10551-019-04376-5.

[4] Carmen M. Felipe, José L. Roldán, and Antonio L. Leal-Rodríguez, “Impact of Organizational Culture Values on Organizational Agility,” Sustainability (Switzerland) 9, no. 12 (2017), https://doi.org/10.3390/su9122354.

[5] Muhammad Sulaiman, Alumni yang pernah mengajar di Gontor, Wawancara pada 14 Januari 2026

[6] Winka, Guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Wawancara pada 17 Desember 2025

[7] Arays, Guru Pesantren Gontor Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[8] Fausta, Santri PesantrenGontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[9] Saiful Anwar, Perwakilan Pimpinan Pesantren Gontor, Wawancara pada 17 Desember 2025

[10] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan pada 17 Desember 2025

[11] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[12] Arrays, Sekretaris Pimpinan Pondok Gonor, Wawancara dilaksanakan 16 Desember 2026

[13] Reynaldi, Bagian Kesantrian Pesantren Gontor, wawancara dilaksanakan 16 Desember 2025

[14] Saiful Anwar, Perwakilan pimpinan Pondok Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[15] Winka, Guru Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara dilakukan pada 17 Desember 2025

[16] Cabana and Kaptein, “Team Ethical Cultures Within an Organization: A Differentiation Perspective on Their Existence and Relevance.”

[17] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 18 Desember 2025

[18] Saiful Anwar, Perwakilan Pimpinan Pesantren Gontor, Wawancara pada 17 Desember 2025

[19] Muhammad Sulaiman, Alumni yang pernah mengajar di Gontor, Wawancara pada 14 Januari 2026

[20] Sukarman, Tetangga Pondok Gontor Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[21] Anas, Santri Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[22] Arays, Guru Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[23] Dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[24] Fathimah, Penjual nasi pecel dekat dengan Pondok Gontor, Wawancara pada 16 Desember 2025

[25] Andreas Kokkinis and Anat Keller, “Organisational Culture in UK Finance at a Crossroads: Empirical Typology and Policy Implications,” Legal Studies 1, no. February 2023 (2026): 1–21, https://doi.org/10.1017/lst.2026.10114.

[26] Arays, Guru Pesantren Gontor, Wawancara pada 16 Desember 2025

[27] Muhammad Sulaiman, Alumni yang pernah mengajar di Pondok Gontor, Ponorogo, Wawancara pada tanggal 14 Januari 2026

[28] Observasi Pesantren Gontor, Ponorogo, dilaksanakan 17 Desember 2025

[29] H. Haikal, “Sumbangan Bermakna Pondok Gontor Dan Masa Depan Indonesia,” Millah XII, no. 2 (2016): 549–77, https://doi.org/10.20885/millah.volxii.iss2.art11.

[30] Winka, Guru Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[31] Observasi Pesantren Gontor, Ponorogo, dilaksanakan 17 Desember 2025

[32] Saiful Anwar, Perwakilan pimpinan Pondok Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[33] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[34] Saiful Anwar, Perwakilan pimpinan Pondok Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[35] Muhammad Sulaiman, Alumni yang pernah mengajar di Pondok Gontor, Ponorogo, Wawancara pada tanggal 14 Januari 2026

[36] Cholid Fauzi, “Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Efektivitas Sistem Informasi,” Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi, no. 126 (2015): 1–8.

[37] Winka, Guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Wawancara pada 17 Desember 2025

[38] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, Ponorogo, dilaksanakan 17 Desember 2025

[39] Fausta, Santri Senior KMI Pesantren Gontor Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[40] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[41] Muhammad Sulaiman, Alumni yang pernah mengajar di Pondok Gontor, Ponorogo, Wawancara pada tanggal 14 Januari 2026

[42] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[43] Arbi, Santri KMI Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[44] Anas, Santri KMI Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[45] Observasi Pesantren Gontor, Ponorogo, dilaksanakan 17 Desember 2025

[46] Saiful Anwar, Perwakilan Pimpinan Pesantren Gontor, Wawancara pada 17 Desember 2025

[47] Rini Nur Halimah and Mohammad Rizal Gaffar, “Pengaruh Clan Culture Dan Adhocracy Culture Terhadap Organizational Commitment Di PT Ebiz Prima Nusa,” Jurnal Disrupsi Bisnis 8, no. 3 (2025): 208–18.

[48] Observasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[49] Rusdiana Permanasari and Ani Setyowati, “Clan Culture Dalam Organisasi Studi Fenomenologi Di Organisasi Jasa Ketenagalistrikan Di Jawa Tengah,” Jurnal Manajemen Dayasaing 26, no. 1 (2024): 49–56.

[50] Rezkiawan Tantawi, “Understanding Indonesian Organizational Culture through Hofstede Insights :,” 2026.

[51] Sjoerd Beugelsdijk and Chris Welzel, “Dimensions and Dynamics of National Culture: Synthesizing Hofstede With Inglehart,” Journal of Cross-Cultural Psychology 49, no. 10 (2018): 1469–1505, https://doi.org/10.1177/0022022118798505.

[52] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[53] Anas, Santri KMI Pesantren Gontor Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[54] Arbi, Santri Pesantren Gontor Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[55] Winka, Guru Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara dilakukan pada 17 Desember 2025

[56] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[57] Arbi, Santri Pesantren Gontor Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[58] Solihin, Masyarakat sekitar tetangga Pondok Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[59] Fausta, Santri PesantrenGontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[60] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[61] Muhammad Sulaiman, Alumni yang pernah mengajar di Gontor, Wawancara pada 14 Januari 2026

[62] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[63] Anas, Santri Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[64] Grace Maria Fitricia and Asmi Ayuning Hidayah, “Analisis Gaya Kepemimpinan Kontigensi Berbasis Budaya Lokal Banyumas Cablaka,” Sains: Jurnal Manajemen Dan Bisnis 12, no. 1 (2019): 60, https://doi.org/10.35448/jmb.v12i1.6307.

[65] Reynaldi, Bagian Kesantrian Pesantren Gontor, wawancara dilaksanakan 16 Desember 2025

[66] John Cairney et al., “Organizational Culture and Sport : A Narrative Review and Proposed Synthesis Framework,” no. May (2026), https://doi.org/10.3389/fspor.2026.1778505.

[67] Saiful Anwar, Perwakilan Pimpinan Pesantren Gontor, Wawancara pada 17 Desember 2025

[68] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[69] Hermawan, “Hubungan Budaya Organisasi Dengan Kinerja Guru Smk-Spp Bandung Jawa Barat,” Jurnal Penelitian Manajemen Pendidikan 1, no. 1 (2016): 13–26.

[70] Observasi Pesantren Gontor, Ponorogo, dilaksanakan 17 Desember 2025

[71] Observasi Pesantren Gontor, Ponorogo, dilaksanakan 17 Desember 2025

[72] Fiarka, Guru Pesantren Gotor Ponorogo, Wawancara pada tanggal 16 Desember 2025

[73] Muhammad Sulaiman, Alumni yang pernah mengajar di Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 14 Januari 2026

[74] Solihin, Masyarakat sekitar tetangga Pondok Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[75] Observasi Pesantren Gontor, Ponorogo, dilaksanakan 17 Desember 2025

[76] Muhammad Sulaiman, Alumni yang pernah mengajar di Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 14 Januari 2026

[77] Integrasi Sistem and Madrasah Dan, “Ulfa Ulfa and In’ami - 2011 - KULTUR PESANTREN MODERN INTEGRASI SISTEM MADRASAH DAN PESANTREN DI PONDOK MODERN GONTOR” 9, no. 2 (n.d.): 194–213.

[78] Observasi dan dokumentasi Pesantren Gontor, dilaksanakan 17 Desember 2025

[79] Arays, Guru Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepemimpinan Mojosari

  Berikutnya adalah pesantren Mojosari. Pesantren Mojosari Nganjuk memperlihatkan pola budaya kepemimpinan yang bersifat terstruktur, hierar...