Sabtu, 11 Juli 2026

Kepemimpinan Mojosari

 

Berikutnya adalah pesantren Mojosari. Pesantren Mojosari Nganjuk memperlihatkan pola budaya kepemimpinan yang bersifat terstruktur, hierarkis, dan berbasis nilai-nilai adab serta akhlakul karimah. Di sisi lain, kepemimpinan di pesantren ini juga menunjukkan adanya pembagian peran yang jelas antara unsur keluarga pengasuh (dzurriyyah), pengurus, lembaga pendidikan, serta organisasi santri. Struktur ini mencerminkan adanya sistem kepemimpinan yang tidak terpusat pada satu aktor tunggal, melainkan tersebar dalam beberapa lapisan kelembagaan yang saling melengkapi.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh VI yang menyatakan bahwa:

“Setiap dzurriyyah mempunyai bagian tersendiri, dan menjadi puncak kepemimpinan di Pondok pesantren Mojosari dan yang menjalankan dan mengontrol santri ada para pengurus yang selalu ikhlas dan khidmah.”[1]

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan di Pesantren Mojosari memiliki struktur yang berbasis pada keluarga pengasuh (dzurriyyah) sebagai pemegang otoritas tertinggi. Posisi ini menunjukkan adanya legitimasi genealogis yang masih kuat dalam sistem kepemimpinan pesantren tradisional. Dalam struktur tersebut dzurriyyah memiliki peran strategis dalam menentukan arah kebijakan pesantren, sementara pengurus berperan sebagai pelaksana operasional yang bertugas menjalankan dan mengontrol aktivitas santri sehari-hari.

Pengurus pesantren tidak hanya diposisikan sebagai aparat administrative yang berperan sebagai individu yang dituntut untuk memiliki nilai khidmah. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di Mojosari berbasis pada struktur formal juga pada dimensi nilai spiritual yang menjadi fondasi dalam menjalankan tugas. Keikhlasan dan pengabdian menjadi elemen penting dalam menjaga keberlangsungan sistem kepemimpinan agar tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai pesantren.

Selanjutnya, LA menegaskan keberadaan struktur kelembagaan dengan menyatakan bahwa:

“Ada lembaga pengurus.”[2]

 

Pernyataan ini memperkuat temuan bahwa Pesantren Mojosari memiliki sistem kepemimpinan yang terorganisasi melalui lembaga formal pengurus. Keberadaan lembaga pengurus menunjukkan adanya pembagian tugas yang jelas dalam sistem manajemen pesantren.  Setiap unit memiliki tanggung jawab spesifik dalam mengelola kehidupan santri dan operasional pesantren secara keseluruhan.

Struktur lembaga ini mencerminkan bahwa kepemimpinan di Mojosari tidak bersifat informal semata melainkan telah mengalami proses institusionalisasi. Dengan adanya lembaga pengurus maka proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan dapat dilakukan secara lebih sistematis. Hal ini mendukung efektivitas organisasi pesantren secara keseluruhan.

Pada aspek nilai yang menjadi dasar kepemimpinan, MDGS menyatakan bahwa:

“Berasaskan adabiyyah dan akhlakul karimah.”[3]

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan di Pesantren Mojosari berlandaskan pada nilai-nilai adab dan akhlakul karimah. Nilai adabiyyah menekankan pentingnya etika dalam interaksi sosial, baik antara santri dengan guru, santri dengan sesama santri, maupun dalam hubungan dengan masyarakat. Sementara itu akhlakul karimah menjadi landasan moral yang mengarahkan seluruh perilaku kepemimpinan agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.

Dengan demikian kepemimpinan di Mojosari tidak hanya berorientasi pada aspek struktural dan fungsional namun memiliki dimensi moral dan spiritual yang kuat. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar dalam setiap proses pengambilan keputusan, pengelolaan konflik, serta pembinaan santri.

Selanjutnya, IR menjelaskan bahwa sistem kepemimpinan di Pesantren Mojosari bersifat terdistribusi dalam berbagai lembaga yang ada di lingkungan pesantren:

“Di sekolah ada kepemimpinan kepala sekolah, untuk santri ada OSIS, di pesantren ada Kiai. Setiap bagian sudah ada pemimpinnya masing-masing.”[4]

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan di Mojosari bersifat multi-level leadership, di mana setiap unit organisasi memiliki struktur kepemimpinan yang spesifik sesuai dengan fungsi masing-masing. Kepala sekolah bertanggung jawab atas lembaga pendidikan formal, organisasi santri (OSIS) mengelola kegiatan kesiswaan, sedangkan kiai tetap menjadi figur sentral dalam kehidupan pesantren secara keseluruhan.

Model kepemimpinan seperti ini menunjukkan adanya sistem desentralisasi terbatas dalam struktur organisasi pesantren. Meskipun terdapat pembagian kewenangan, seluruh unit kepemimpinan tetap berada dalam satu kesatuan nilai dan visi pesantren. Hal ini memungkinkan koordinasi yang efektif antarunit sekaligus menjaga keselarasan dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan.

Dari sisi karakter kepemimpinan, NI menyatakan bahwa:

“Model kepemimpinan yang diterapkan bijaksana.”[5]

 

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di Mojosari mengedepankan prinsip kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. Kebijaksanaan dalam konteks ini tidak hanya berarti kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat, tetapi juga mencakup sikap hati-hati, mempertimbangkan berbagai aspek, serta memperhatikan dampak keputusan terhadap kehidupan santri dan keberlangsungan pesantren.

Kepemimpinan yang bijaksana mencerminkan adanya keseimbangan antara otoritas dan empati. Pemimpin tidak hanya berperan sebagai pengendali organisasi yang juga sebagai pembimbing yang memahami kondisi psikologis para santri. Dengan demikian, kepemimpinan di Mojosari tidak bersifat represif namun lebih bersifat pembinaan dan pengayoman.

Lebih lanjut, MU menegaskan dimensi relasional dalam kepemimpinan pesantren dengan menyatakan bahwa:

“Kepemimpinan disini sebagaimana ungkapan ‘ana abdu man ‘allamani harfan wahidan, santri patuh dan taat kepada guru, guru mengayomi santri.”[6]

 

Pernyataan tersebut menggambarkan hubungan kepemimpinan yang bersifat hierarkis namun penuh penghormatan dan kasih sayang. Ungkapan tersebut menegaskan adanya relasi spiritual dan moral antara guru dan santri di mana santri menunjukkan kepatuhan sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu yang diterima. Sementara itu guru memiliki tanggung jawab untuk mengayomi dan membimbing santri dengan penuh perhatian.

Relasi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di Pesantren Mojosari bersifat struktural juga bersifat spiritual berbasis kesopanan. Kepatuhan santri lahir dari kesadaran moral dan penghormatan terhadap proses pendidikan yang mereka jalani. Peran guru sebagai pengayom menunjukkan bahwa kepemimpinan juga mengandung dimensi kasih sayang dan tanggung jawab moral terhadap perkembangan santri.

Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara dapat dinyatakan bahwa budaya kepemimpinan di Pesantren Mojosari Nganjuk merupakan kombinasi antara struktur kepemimpinan berbasis dzurriyyah dan lembaga pengurus, nilai adab dan akhlakul karimah sebagai landasan moral. Selain itu sistem kepemimpinan terdistribusi pada berbagai unit organisasi. Kepemimpinan dipahami sebagai amanah yang dijalankan dengan prinsip keikhlasan, khidmah, dan kebijaksanaan, serta didasarkan pada relasi spiritual antara guru dan santri.

Dalam perspektif Edgar H. Schein, budaya kepemimpinan di Mojosari menunjukkan keterkaitan yang erat antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar.[7] sPada level artefak, kepemimpinan tampak melalui struktur dzurriyyah, lembaga pengurus, kepala sekolah, dan organisasi santri. Pada level nilai yang dianut, kepemimpinan tercermin dalam prinsip adab, akhlakul karimah, kebijaksanaan, keikhlasan, dan khidmah. Sementara pada level asumsi dasar, terdapat keyakinan bahwa kepemimpinan adalah amanah spiritual yang harus dijalankan dengan keteladanan, penghormatan terhadap guru, serta pengabdian kepada santri dan masyarakat.

Keselarasan antara ketiga level tersebut menunjukkan bahwa budaya kepemimpinan di Pesantren Mojosari telah terinternalisasi secara kuat dan menjadi bagian integral dari sistem sosial dan pendidikan pesantren. Dengan demikian, kepemimpinan tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengelolaan organisasi, tetapi juga sebagai instrumen utama dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai pesantren dari generasi ke generasi.

Pesantren Mojosari Nganjuk memperlihatkan pola budaya kepemimpinan yang tidak berdiri tunggal pada satu pusat kekuasaan, melainkan tersebar dalam beberapa lapisan yang saling terkait.[8]

Di satu sisi terdapat struktur yang cukup jelas dan hierarkis; namun di sisi lain, struktur tersebut tidak kaku karena diikat oleh nilai adab, akhlakul karimah, serta relasi spiritual antara kiai, dzurriyyah, pengurus, dan santri. Kombinasi ini membuat kepemimpinan di Mojosari tidak hanya bekerja sebagai sistem organisasi, tetapi juga sebagai sistem nilai yang hidup dalam keseharian pesantren.

Sebagaimana disampaikan oleh VI,

“Setiap dzurriyyah memiliki peran masing-masing yang berada pada struktur kepemimpinan pesantren.”[9]

 

Sementara itu, pengurus menjalankan fungsi operasional untuk mengelola dan mengontrol aktivitas santri dengan prinsip keikhlasan dan khidmah. Pola ini menunjukkan bahwa otoritas tertinggi dalam kepemimpinan masih melekat pada garis keluarga pengasuh, yang dalam tradisi pesantren menjadi sumber legitimasi utama.

Dalam kerangka Edgar H. Schein, struktur tersebut dapat dipahami sebagai artefak, yaitu lapisan paling tampak dari budaya organisasi. Keberadaan dzurriyyah, lembaga pengurus, serta sistem pengelolaan santri menunjukkan bagaimana kepemimpinan di Mojosari diorganisasi secara nyata dan dapat diamati. Namun artefak ini tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh nilai yang memberi arah dan makna pada praktik kepemimpinan tersebut.

LA menegaskan bahwa terdapat lembaga pengurus yang secara formal mengatur kehidupan pesantren.

"Ada lembaga pengurusnya masing-masing, ada sekolah formal, ada pesantren”[10]

 

Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya bersifat personal, tetapi sudah mengalami proses institusionalisasi. Dengan demikian, keputusan dan pengelolaan pesantren tidak bergantung pada satu figur, tetapi dijalankan melalui sistem yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Jika dilihat melalui perspektif lain, pola ini memperlihatkan percampuran antara otoritas tradisional (dzurriyyah/kiai) dan otoritas rasional-legal (lembaga pengurus). Otoritas tradisional memberikan legitimasi moral dan historis, sementara otoritas struktural memberikan efektivitas dalam pengelolaan organisasi sehari-hari. Keduanya berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.

Pada level nilai MDGS menegaskan bahwa,

“Kepemimpinan di Mojosari berasaskan adabiyyah dan akhlakul karimah.”[11]

 

Nilai ini menjadi fondasi utama dalam setiap praktik kepemimpinan. Adab mengatur cara berinteraksi, sementara akhlakul karimah menjadi standar moral dalam pengambilan keputusan. Dalam kerangka Geert Hofstede, nilai ini menunjukkan tingginya orientasi pada power distance yang tetap terjaga, namun diimbangi dengan collectivism yang kuat, di mana hubungan sosial dan harmoni menjadi prioritas utama dibandingkan kepentingan individu.

IR menambahkan bahwa,

“Setiap unit di pesantren memiliki pemimpin masing-masing, mulai dari kepala sekolah, organisasi santri, hingga kiai sebagai figur sentral.”[12]

 

Model ini menunjukkan adanya kepemimpinan yang terdistribusi atau multilevel leadership. Dalam kerangka Competing Values Framework, pola ini berada pada irisan antara hierarchy dan clan. Unsur hierarchy terlihat dari struktur yang tertata, sementara unsur clan tampak dari relasi kekeluargaan, pengayoman, dan kedekatan emosional antara pemimpin dan santri.

NI menambahkan bahwa kepemimpinan di Mojosari bersifat bijaksana. Kebijaksanaan ini tercermin dalam cara pemimpin mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan, termasuk dampaknya terhadap santri dan keberlangsungan pesantren. Kepemimpinan tidak hanya berorientasi pada ketegasan, tetapi juga pada keseimbangan antara otoritas dan empati.

Sementara itu MU menggambarkan relasi kepemimpinan melalui ungkapan yang menekankan,

“Kepatuhan santri harus kepada guru dan tanggung jawab guru dalam mengayomi santri.” [13]

 

NI juga menambahkan bahwa,

“Model kepemimpinan yang diterapkan berbasis kebijaksanaan.”[14]

 

Relasi ini tidak semata-mata struktural, tetapi juga spiritual. Santri mematuhi guru bukan karena paksaan, melainkan karena penghormatan terhadap ilmu. Dalam perspektif Edgar Schein, hal ini mulai memasuki level nilai yang dianut, di mana kepatuhan, pengayoman, dan keikhlasan menjadi prinsip yang disadari dan dipegang bersama.

Jika dilihat dari karakteristik pengelolaan organisasi maka pola kepemimpinan di Mojosari juga mencerminkan tingkat kestabilan yang relatif tinggi. Dalam kerangka Deal and Kennedy, pesantren ini dapat dikategorikan sebagai strong culture dengan feedback yang cukup cepat dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahan atau penyimpangan perilaku santri langsung terlihat dan segera dikoreksi melalui mekanisme sosial maupun pendidikan, sehingga nilai-nilai kepemimpinan terus terinternalisasi secara konsisten.

Dengan demikian budaya kepemimpinan di Pesantren Mojosari dapat dipahami sebagai hasil pertemuan antara struktur yang hierarkis dan sistem kelembagaan yang terorganisasi. Artefak berupa dzurriyyah, lembaga pengurus, kepala sekolah, dan organisasi santri menjadi wajah yang tampak dari sistem kepemimpinan. Sementara asumsi dasarnya adalah keyakinan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan keteladanan, pengabdian, dan tanggung jawab moral.



[1] Vitri Yuliana, Santri Senior Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2026

[2] Laiyin Nafiatuz Zulfa (Santri Senior Pesantren Mojosari), Nganjuk, 21 Desember 2026

[3] MDGS (Guru Pesantren Mojosari), Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2025

[4] Irma Masitoh (Santri Senior Pesantren Mojosari), Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2025

[5] Ni'matus Sholichah (Santri Senior Pesantren Mojosari), Nganjuk, 21 Desember 2026

[6] Munif, Guru Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2026

[7] Oki Ciputri, “Analisis Budaya Organisasi Di Pesantren: Pendekatan Teori Edgar Schein,” n.d.

[8] Observasi Pesantren Mojosari, Nganjuk, 21 Desember 2026

[9] Vitri Yuliana, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[10] Laiyin Nafiatuz Zulfa (santri senior Pesantren Mojosari), Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2025

[11] MDGS, Guru Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[12] Irma Masithoh, Santri Senior Pondok Mojosari Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2025

[13] Munif, Guru Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2026

[14] Ni'matus Sholichah, santri senior PEsantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepemimpinan Mojosari

  Berikutnya adalah pesantren Mojosari. Pesantren Mojosari Nganjuk memperlihatkan pola budaya kepemimpinan yang bersifat terstruktur, hierar...