Adapun di Pesantren Lirboyo ditemukan bahwa budaya kepemimpinan di Pesantren Lirboyo memiliki karakter yang khas yaitu kombinasi antara struktur organisasi yang jelas, pendekatan demokratis dalam pengambilan keputusan, serta keteladanan kiai sebagai sumber utama legitimasi kepemimpinan. Struktur kepemimpinan yang ada tidak hanya bersifat administrative. Kepemimpinan rutur serta mencerminkan sistem sosial yang mengatur hubungan antara kiai, pengurus, dan santri secara hierarkis namun tetap harmonis.
Hal tersebut
sebagaimana disampaikan oleh MU yang menyatakan bahwa:
“Model
kepemimpinan secara struktural mulai dari pengasuh, pimpinan/ketua pondok,
seksi-seksi, santri”[1]
Pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa Pesantren Lirboyo memiliki sistem kepemimpinan yang
terorganisasi secara struktural. Struktur tersebut menggambarkan adanya pembagian
peran yang jelas antara pengasuh sebagai pemegang otoritas tertinggi, pimpinan
atau ketua pondok sebagai pelaksana kebijakan, seksi-seksi sebagai pelaksana
teknis, dan santri sebagai subjek pendidikan. Struktur ini mencerminkan bahwa
kepemimpinan di Lirboyo berjalan berdasarkan sistem yang tertata.
Keberadaan struktur
yang jelas ini berfungsi untuk memastikan bahwa setiap aktivitas pesantren
berjalan sesuai dengan aturan dan mekanisme yang telah ditetapkan. Dengan
demikian kepemimpinan tidak hanya bergantung pada individu tertentu.
Kepemimpinan telah terdistribusi dalam sistem organisasi yang mapan. Struktur
ini juga menunjukkan bahwa Pesantren Lirboyo memiliki sistem tata kelola yang
memungkinkan keberlangsungan organisasi tetap terjaga meskipun terjadi
pergantian kepemimpinan.
Selain aspek struktural
budaya kepemimpinan di Lirboyo juga mengandung nilai demokratis dalam proses
pengambilan keputusan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh ZA yang menyatakan
bahwa:
“Kepemimpinan
di Lirboyo mengarahkan santri untuk berpikir demokratis”[2]
Pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa kepemimpinan di Lirboyo tidak hanya bersifat top down. Pesantren
tetap memberikan ruang bagi partisipasi dan pengembangan pola pikir kritis pada
santri. Meskipun dalam konteks pesantren kiai tetap menjadi figur utama yang
dihormati namun proses pembelajaran tetap memungkinkan adanya keterlibatan
santri dalam memahami nilai-nilai yang diajarkan.
Orientasi demokratis
ini tidak berarti menghilangkan otoritas kiai melainkan membangun kesadaran
kolektif dalam memahami keputusan yang diambil. Dengan demikian santri tidak
hanya menjadi objek kepemimpinan, tetapi juga dilatih untuk memahami proses
pengambilan keputusan secara rasional. Hal ini menjadi bagian penting dalam
pembentukan karakter santri agar mampu berpikir terbuka namun tetap dalam
koridor nilai-nilai keislaman.
Dimensi lain dari
budaya kepemimpinan di Lirboyo adalah fungsi pemimpin sebagai pelindung,
pengawas, dan pengontrol kehidupan santri. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh
AH yang menyatakan bahwa,
“Memberikan
perlindungan, pengawasan, kontrol.”[3]
YU juga memberikan
keterangan,
“Senior memberikan
perintah tapi juga dengan memberikan contoh yang baik, tidak hanya asal suruh”[4]
Pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa kepemimpinan di Pesantren Lirboyo memiliki dimensi protektif
dan regulatif. Pemimpin tidak hanya berperan sebagai pengarah, tetapi juga
sebagai penjaga keteraturan sosial dan moral di lingkungan pesantren. Fungsi
perlindungan menunjukkan bahwa kiai dan pengurus memiliki tanggung jawab moral
untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan santri, baik secara fisik maupun
spiritual.
Sementara itu, fungsi
pengawasan dan kontrol menunjukkan bahwa kepemimpinan di Lirboyo berorientasi
pada pembinaan kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan pesantren. Sistem
kontrol ini tidak bersifat represif, tetapi lebih pada upaya menjaga agar seluruh
aktivitas santri tetap berada dalam koridor nilai-nilai pendidikan Islam dan
tradisi pesantren.
Selain itu, budaya
kepemimpinan di Lirboyo juga ditandai oleh pendekatan yang lembut dan berbasis
keteladanan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh YU yang menyatakan bahwa:
“Pemimpin menggunakan
pendekatan yang lembut. Yang atasan (senior) memberikan perintah dalam rangka
memberi contoh dan dalam balutan meminta tolong kepada bawahan (junior) dan di
sisi lain junior menjalankan perintah atasan bukan atas paksaan, melainkan wujud
penghormatan atas pelajaran dan pengalaman yang diberikan.”[5]
Pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa relasi kepemimpinan di Lirboyo tidak dibangun atas dasar
paksaan, melainkan atas dasar penghormatan dan keteladanan. Senior tidak
memerintah secara otoriter, tetapi menggunakan pendekatan yang halus dengan
memberikan contoh terlebih dahulu sebelum meminta orang lain untuk melaksanakan
tugas. Hal ini mencerminkan adanya budaya kepemimpinan yang berbasis pada nilai
adab dan penghormatan terhadap ilmu serta pengalaman.
Dalam relasi ini,
kepatuhan santri kepada senior tidak bersifat paksaan tetapi bersifat normatif
dan moral. Santri menjalankan perintah sebagai bentuk penghormatan terhadap
proses pembelajaran yang mereka terima. Dengan demikian kepemimpinan di Lirboyo
t berfungsi sebagai mekanisme organisasi serta sebagai proses pendidikan
karakter yang berbasis pada nilai spiritual.
Pendekatan keteladanan
ini juga diperkuat oleh pernyataan AHG yang menegaskan bahwa:
“Model kepemimpinan
yang diterapkan adalah kiai selalu memberikan contoh yang baik dalam semua
aspek sebelum beliau memerintahkan santrinya.”[6]
Pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa keteladanan kiai merupakan inti dari budaya kepemimpinan di
Lirboyo. Kiai tidak hanya menjadi simbol otoritas keagamaan, tetapi juga
menjadi role model bagi seluruh santri dalam kehidupan sehari-hari. Segala
bentuk perintah dan nasihat yang diberikan selalu didahului oleh praktik nyata
yang dilakukan oleh kiai itu sendiri.
Dengan demikian,
legitimasi kepemimpinan di Lirboyo tidak hanya bersumber dari struktur formal
atau jabatan, tetapi juga dari kredibilitas moral dan spiritual pemimpin.[7]
Keteladanan ini menciptakan hubungan yang kuat antara pemimpin dan santri, di
mana kepemimpinan diterima bukan karena kewenangan formal, tetapi karena
kepercayaan dan penghormatan yang mendalam.
Sebagaimana juga
pernyataan YU,
“Junior menjalankan
perintah bukan karena paksaan tetapi sebagai wujud penghormatan kepada
seniornya”[8]
Berdasarkan keseluruhan
hasil wawancara dapat diketahui bahwa budaya kepemimpinan di Pesantren Lirboyo
merupakan perpaduan antara sistem struktural yang jelas. Hal ini didukung
dengan orientasi demokratis dalam pola pikir santri serta pendekatan
kepemimpinan berbasis keteladanan dan kelembutan. Kepemimpinan tidak hanya
dipahami sebagai mekanisme organisasi, tetapi juga sebagai sarana pendidikan
moral dan spiritual yang bertujuan membentuk karakter santri.
Dalam perspektif Edgar
H. Schein, budaya kepemimpinan di Lirboyo menunjukkan adanya hubungan erat
antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. Pada level artefak,
kepemimpinan tampak melalui struktur organisasi yang hierarkis, sistem
pengawasan, serta interaksi antara kiai, pengurus, dan santri. Pada level nilai
yang dianut, kepemimpinan tercermin dalam prinsip demokratis, perlindungan,
kontrol, kelembutan, dan keteladanan. Sementara pada level asumsi dasar
terdapat keyakinan bahwa kepemimpinan harus berbasis adab, penghormatan
terhadap ilmu, serta keteladanan moral sebagai fondasi utama dalam pendidikan
pesantren.
Sebagaimana dijelaskan
oleh MU, kepemimpinan di Lirboyo berjalan secara berjenjang mulai dari
pengasuh, pimpinan atau ketua pondok, bagian atau seksi-seksi, hingga santri.[9]
Pola ini menunjukkan bahwa organisasi memiliki pembagian peran yang jelas.
Dalam perspektif budaya organisasi Edgar H. Schein, struktur tersebut dapat
dipahami sebagai artefak, yakni lapisan paling tampak dari budaya organisasi.
Artefak ini memperlihatkan bagaimana kepemimpinan dioperasionalkan melalui
sistem yang tertata dan dapat diamati secara langsung.
Namun struktur saja
tidak cukup menjelaskan karakter kepemimpinan di Lirboyo. Di baliknya terdapat
nilai yang menekankan keteraturan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap
otoritas keilmuan. Kepemimpinan tidak berhenti pada aspek komando namun
mengandung dimensi pendidikan. Dalam hal ini kiai diposisikan sebagai pemimpin
struktural juga sebagai figur moral yang menjadi rujukan perilaku. Hal ini
sejalan dengan pandangan Henry Mintzberg tentang organisasi yang tidak hanya
digerakkan oleh struktur formal tetapi juga oleh peran-peran informal yang
membentuk stabilitas sistem.[10]
ZA menambahkan bahwa
kepemimpinan di Lirboyo juga mengarahkan santri untuk berpikir secara
demokratis. Demokratis dalam konteks ini tidak berarti melemahkan otoritas kiai
namun lebih pada pembentukan cara berpikir yang terbuka dan terarah. Santri
dilatih untuk memahami alasan di balik sebuah Keputusan dan bukan sekadar
menjalankannya. Jika dilihat melalui pendekatan Geert Hofstede pola ini
menunjukkan adanya keseimbangan antara jarak kekuasaan (power distance) yang
tetap tinggi dengan upaya internalisasi nilai yang memungkinkan partisipasi
kognitif dalam batas-batas tertentu.[11]
Otoritas tetap dihormati tetapi pemahaman terhadap keputusan juga dibangun.
Dari sisi fungsi
kepemimpinan, AH menjelaskan bahwa pemimpin di pesantren berperan dalam
memberikan perlindungan, pengawasan, dan kontrol. Ini menunjukkan bahwa
kepemimpinan di Lirboyo tidak hanya bersifat instruktif, tetapi juga protektif.
Dalam kerangka Charles Handy, pola ini cenderung mendekati model hierarki, di
mana stabilitas, aturan, dan kontrol menjadi unsur utama. Namun demikian,
kontrol yang dijalankan bukan dalam bentuk kekerasan struktural, melainkan
dalam bingkai pembinaan yang menjaga keteraturan moral dan sosial santri.
Di sisi lain YU
menggambarkan bahwa hubungan kepemimpinan di Lirboyo juga dibangun melalui
pendekatan yang lembut.[12]
Senior tidak memerintah secara kaku tetapi memberi contoh terlebih dahulu
kemudian menyampaikan permintaan dalam bentuk yang halus. Junior pun
menjalankan tugas karena penghormatan terhadap pengalaman dan adab. Pola ini
memperlihatkan bahwa budaya kepemimpinan di Lirboyo tidak semata-mata bertumpu
pada struktur saja tetapi juga pada relasi sosial.
Jika dilihat melalui
Competing Values Framework budaya kepemimpinan Lirboyo berada pada pertemuan
antara hierarchy dan clan.[13]
Unsur hierarchy tampak pada struktur yang ketat dan sistem kontrol, sementara
unsur clan terlihat dari hubungan kekeluargaan, keteladanan, dan penghormatan
antargenerasi. Kombinasi ini menghasilkan pola kepemimpinan yang stabil namun
tetap humanis.
AHG memperkuat hal ini
dengan menegaskan bahwa kiai selalu memberikan contoh terlebih dahulu sebelum
memerintahkan santri. Keteladanan ini menjadi sumber legitimasi utama
kepemimpinan. Dalam perspektif Fred Fiedler efektivitas kepemimpinan sangat
ditentukan oleh kesesuaian antara gaya pemimpin dan situasi.[14]
Dalam konteks Lirboyo, keteladanan kiai berfungsi sebagai gaya kepemimpinan
yang paling sesuai dengan situasi budaya pesantren yang berbasis adab dan
penghormatan.
Kepemimpinan telah
menjadi bagian dari sistem yang menyeluruh dalam kehidupan pesantren. Tidak
hanya berada pada level pengasuh, tetapi juga hadir dalam berbagai unit
organisasi hingga aktivitas santri. Setiap santri dilatih untuk mampu dipimpin
sekaligus memimpin. Hal ini menunjukkan adanya proses kaderisasi yang
sistematis dan berkelanjutan.
Jika dikaitkan dengan
Deal and Kennedy, budaya kepemimpinan Lirboyo dapat dikategorikan sebagai
strong culture dengan tingkat risiko rendah dan umpan balik yang cepat dalam
konteks kehidupan sehari-hari pesantren. Aturan dan nilai-nilai yang berlaku
langsung terlihat dampaknya dalam perilaku santri, sehingga koreksi sosial juga
berlangsung secara cepat melalui interaksi harian.
Secara keseluruhan,
budaya kepemimpinan di Pesantren Lirboyo terbentuk dari kombinasi struktur yang
kuat, nilai demokratis terbatas, fungsi protektif, serta keteladanan moral yang
menjadi pusat legitimasi. Kepemimpinan tidak hanya dipahami sebagai posisi,
tetapi sebagai amanah yang harus dijalankan melalui perilaku nyata.
Struktur organisasi dalam
kerangka Schein terdiri dari sistem pengawasan, dan relasi hierarkis merupakan
artefak yang tampak. Nilai yang dianut tercermin dalam prinsip ketertiban,
musyawarah terbatas, penghormatan kepada guru, serta keteladanan. Sementara
itu, asumsi dasar yang hidup di dalamnya adalah keyakinan bahwa ilmu harus
diperoleh melalui adab, bahwa kepemimpinan adalah amanah moral, dan bahwa
penghormatan kepada kiai merupakan bagian dari keberkahan ilmu.
Keterpaduan antara
struktur, nilai, dan keyakinan tersebut menjelaskan mengapa kepemimpinan di
Lirboyo tidak hanya bertahan, tetapi juga terus direproduksi lintas generasi
tanpa kehilangan bentuk dasarnya.[15]
Budaya kepemimpinan tidak berdiri sebagai sistem formal semata, tetapi sebagai
cara hidup yang dijalankan, dihayati, dan diwariskan dalam kehidupan pesantren.
[1]
Muhammad Miftahul Umam, Perwakilan Pompinan Pondok Lirboyo, Wawancara pada 18
Desember 2025
[2] A.
Zainul Makarim, Guru Pondok Lirboyo), Kediri, Wawancara pada 18 Desember 2025
[3] Ahmad
Nabil Kholili, Guru Pesantren Lirboyo, Kediri, Wawancara pada 18 Desember 2025
[4] Yusrul Marom, Guru Pesantren Lirboyo, Kediri,
Wawancara pada 18 Desember 2025
[5] Yusrul
Marom, Guru Pesantren Lirboyo, Kediri, Wawancara pada 18 Desember 2026
[6] Ahmad
Ghifar Fathillah, Guru Pesantren Lirboyo, Kediri, Wawancara pada 18 Desember
2026
[7]
Observasi Pesantren Lirboyo, dilaksanakan pada 18 Desember 2025
[8] Yusrul Marom, Guru Pesantren Lirboyo, Kediri, Wawancara
pada 18 Desember 2025
[9]
Muhammad Miftahul Umam, Perwakilan Pompinan Pondok Lirboyo, Kediri, Wawancara
pada 18 Desember 2026
[10] Khoirul Anam et al., “The Structuring of Local
Government Organizations : The Perspective of Henry Mintzberg ’ s Theory” 25,
no. 1 (2025): 91–116.
[11] Eva Yuliana et al., “Pengaruh Budaya Organisasi
Hofstede Terhadap Organization Citizenship Behavior Dengan Mediasi Persepsi
Politik Organisasi,” Jurnal Manajemen Dan
Bisnis Terapan 4, no. 2 (2022): 76–86,
https://doi.org/10.31849/jmbt.v4i2.12503.
[12] Yusrul
Marom, Guru Pesantren Lirboyo, Kediri, Wawancara pada 18 Desember 2026
[13] Muhammad Dinka Syafiq Cendana and Indi Djastuti,
“Menggunakan Oranizational Culture Assessment Instrument ( Ocai ) Pada Pt .
Angkasa Pura I Bandara,” Diponegoro
Journal of Management 5, no. 3 (2016): 1–14,
http://eprints.undip.ac.id/49655/.
[14] Lina Anatan, “1385-4497-1-PB.Pdf,” Manajemen, 2011.
[15]
Observasi Pesantren Lirboyo, Kediri, 18 Desember 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar