Kamis, 11 Juni 2026

ABSTRAK

ORGANIZATIONAL CULTURE MODEL IN THE SUSTAINABILITY OF PESANTREN

 

Imam Fauji,1* Supiana,2 Mohamad Erihadiana3, Hary Priatna Sanusi4

 

1,2,3,4 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Indonesia

Correspondence: imamfauji.indonesia@gmail.com

 

Abstract: This study examines the characteristics of organizational culture, its subsequent impact on institutional sustainability, and the challenges faced by pesantrens (Islamic boarding schools) in navigating the dynamics of social change. The primary objective of this research is to formulate a sustainable conceptual model of pesantren organizational culture, frameworked through Edgar Schein’s Organizational Culture Theory and John Elkington’s Triple Bottom Line Theory.

Adopting a qualitative approach with a comparative case study design, data were gathered through in-depth interviews, participant observation, and documentary analysis. The collected data were processed interactively utilizing data reduction, data display, and conclusion-drawing techniques.

The empirical findings indicate that despite variations in organizational culture characteristics, these pesantrens maintain robust institutional viability and continuous development. Furthermore, this study demonstrates that pesantren sustainability is underpinned by five mutually reinforcing elements, conceptualized as the NiKKAF Model: Nilai (Values), Komitmen dan Konsistensi (Commitment and Consistency), Kaderisasi (Regeneration/Cadreization), Adaptasi (Adaptation), and Kemandirian Finansial (Financial Independence). These five dimensions are systemically integrated to establish a value-based institution. Within this structural framework, values serve as the core foundation, commitment and consistency preserve institutional stability, regeneration ensures leadership succession, adaptation guarantees ongoing relevance to external changes, and financial independence secures operational continuity.

The current overarching challenges confronting these institutions encompass educational modernization, rapid technological advancements, the globalization of sociocultural values, demands for managerial professionalization, and the imperative for economic self-sufficiency. Nonetheless, pesantrens possessing selective adaptation capabilities, while rigidly maintaining their core institutional identity, will successfully ensure their long-term sustainability.

This study concludes that pesantren sustainability is the function of a systemic integration between a value-driven organizational culture and adaptive responsiveness to environmental shifts. The resulting NiKKAF Model offers a significant theoretical contribution as an analytical framework for sustainable pesantren organizational culture, while simultaneously providing practical insights for modern institutional development within Islamic boarding schools.

Keywords: organizational culture, pesantren, sustainability, NiKKAF Model, regeneration, adaptation

 

 

 

 

MODEL BUDAYA ORGANANISASI DALAM KEBERLANJUTAN PESANTREN

 

Imam Fauji,1* Supiana,2 Mohamad Erihadiana3, Hary Priatna Sanusi4

 

1,2,3,4 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Indonesia

Correspondence: imamfauji.indonesia@gmail.com

 

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik budaya organisasi, dampaknya terhadap keberlanjutan, serta mengetahui tantangan yang dihadapi pesantren dalam menghadapi dinamika perubahan sosial. Fokus utama penelitian ini adalah merumuskan model konseptual budaya organisasi pesantren yang berkelanjutan berdasarkan teori Budaya Organisasi dari Edgar Schein dan teori Triple Bottom Line dari John Elkington.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren yang memiliki karakteristik budaya organisasi yang berbeda-beda tetap mampu eksis serta bisa terus berkembang. Penelitian ini juga menemukan bahwa keberlanjutan pesantren ditopang oleh lima elemen yang disingkat dengan NiKKAF, yaitu Nilai, Komitmen dan Konsistensi, Kaderisasi, Adaptasi, dan Kemandirian Finansial, yang dirumuskan dalam NiKKAF Model. Kelima elemen tersebut saling terintegrasi dalam membentuk kelembagaan berbasis nilai. Nilai berfungsi sebagai fondasi, komitmen dan konsistensi menjaga stabilitas, kaderisasi menjamin regenerasi, adaptasi memastikan relevansi terhadap perubahan, dan kemandirian finansial menopang keberlanjutan operasional.

Tantangan utama yang dihadapi pesantren saat ini meliputi modernisasi pendidikan, perkembangan teknologi, globalisasi nilai, tuntutan profesionalisasi manajemen, dan kebutuhan kemandirian ekonomi. Namun demikian pesantren yang memiliki kemampuan adaptasi selektif dengan tetap menjaga identitas kelembagaan akan mampu menjaga keberlanjutannya di masa depan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan pesantren merupakan hasil dari integrasi sistemik antara budaya organisasi berbasis nilai dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan. NiKKAF Model yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan kontribusi teoretis sebagai kerangka analisis budaya organisasi pesantren yang berkelanjutan serta kontribusi praktis bagi pengembangan kelembagaan pesantren di era modern.

 

Kata kunci: budaya organisasi, pesantren, keberlanjutan, NiKKAF Model, kaderisasi, adaptasi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepemimpinan Mojosari

  Berikutnya adalah pesantren Mojosari. Pesantren Mojosari Nganjuk memperlihatkan pola budaya kepemimpinan yang bersifat terstruktur, hierar...