ORGANIZATIONAL CULTURE MODEL IN THE SUSTAINABILITY OF PESANTREN
Imam Fauji,1* Supiana,2 Mohamad Erihadiana3, Hary
Priatna Sanusi4
1,2,3,4
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Indonesia
Correspondence: imamfauji.indonesia@gmail.com
Abstract: This study
examines the characteristics of organizational culture, its subsequent impact
on institutional sustainability, and the challenges faced by pesantrens
(Islamic boarding schools) in navigating the dynamics of social change. The
primary objective of this research is to formulate a sustainable conceptual
model of pesantren organizational culture, frameworked through Edgar
Schein’s Organizational Culture Theory and John Elkington’s Triple Bottom Line
Theory.
Adopting a qualitative approach with a
comparative case study design, data were gathered through in-depth interviews,
participant observation, and documentary analysis. The collected data were
processed interactively utilizing data reduction, data display, and
conclusion-drawing techniques.
The empirical findings indicate that
despite variations in organizational culture characteristics, these pesantrens
maintain robust institutional viability and continuous development.
Furthermore, this study demonstrates that pesantren sustainability is
underpinned by five mutually reinforcing elements, conceptualized as the NiKKAF
Model: Nilai (Values), Komitmen dan Konsistensi (Commitment and
Consistency), Kaderisasi (Regeneration/Cadreization), Adaptasi
(Adaptation), and Kemandirian Finansial (Financial Independence). These
five dimensions are systemically integrated to establish a value-based
institution. Within this structural framework, values serve as the core
foundation, commitment and consistency preserve institutional stability, regeneration
ensures leadership succession, adaptation guarantees ongoing relevance to
external changes, and financial independence secures operational continuity.
The current overarching challenges
confronting these institutions encompass educational modernization, rapid
technological advancements, the globalization of sociocultural values, demands
for managerial professionalization, and the imperative for economic
self-sufficiency. Nonetheless, pesantrens possessing selective
adaptation capabilities, while rigidly maintaining their core institutional
identity, will successfully ensure their long-term sustainability.
This study concludes that pesantren
sustainability is the function of a systemic integration between a value-driven
organizational culture and adaptive responsiveness to environmental shifts. The
resulting NiKKAF Model offers a significant theoretical contribution as an
analytical framework for sustainable pesantren organizational culture,
while simultaneously providing practical insights for modern institutional
development within Islamic boarding schools.
Keywords:
organizational culture, pesantren, sustainability, NiKKAF Model,
regeneration, adaptation
MODEL
BUDAYA ORGANANISASI DALAM KEBERLANJUTAN PESANTREN
Imam Fauji,1* Supiana,2 Mohamad Erihadiana3, Hary
Priatna Sanusi4
1,2,3,4
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Indonesia
Correspondence: imamfauji.indonesia@gmail.com
Abstrak: Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik budaya organisasi, dampaknya
terhadap keberlanjutan, serta mengetahui tantangan yang dihadapi pesantren
dalam menghadapi dinamika perubahan sosial. Fokus utama penelitian ini adalah
merumuskan model konseptual budaya organisasi pesantren yang berkelanjutan berdasarkan
teori Budaya Organisasi dari Edgar Schein dan teori Triple Bottom Line dari
John Elkington.
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif. Data dikumpulkan
melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi,
kemudian dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pesantren yang memiliki karakteristik budaya organisasi yang berbeda-beda tetap
mampu eksis serta bisa terus berkembang. Penelitian ini juga menemukan bahwa
keberlanjutan pesantren ditopang oleh lima elemen yang disingkat dengan NiKKAF,
yaitu Nilai, Komitmen dan Konsistensi, Kaderisasi, Adaptasi, dan Kemandirian
Finansial, yang dirumuskan dalam NiKKAF Model. Kelima elemen tersebut saling
terintegrasi dalam membentuk kelembagaan berbasis nilai. Nilai berfungsi
sebagai fondasi, komitmen dan konsistensi menjaga stabilitas, kaderisasi
menjamin regenerasi, adaptasi memastikan relevansi terhadap perubahan, dan
kemandirian finansial menopang keberlanjutan operasional.
Tantangan utama yang dihadapi
pesantren saat ini meliputi modernisasi pendidikan, perkembangan teknologi,
globalisasi nilai, tuntutan profesionalisasi manajemen, dan kebutuhan
kemandirian ekonomi. Namun demikian pesantren yang memiliki kemampuan adaptasi
selektif dengan tetap menjaga identitas kelembagaan akan mampu menjaga
keberlanjutannya di masa depan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa
keberlanjutan pesantren merupakan hasil dari integrasi sistemik antara budaya
organisasi berbasis nilai dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan. NiKKAF
Model yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan kontribusi teoretis
sebagai kerangka analisis budaya organisasi pesantren yang berkelanjutan serta
kontribusi praktis bagi pengembangan kelembagaan pesantren di era modern.
Kata kunci:
budaya organisasi, pesantren, keberlanjutan, NiKKAF Model, kaderisasi, adaptasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar