Sabtu, 13 Juni 2026

hasil interview

 saya sedang buat disertasi bab 4, ini hasil wawancaranya, tentang nilai inti pesantren gontor, Nilai inti budaya organisasi di Pesantren Gontor merupakan salah satu hal yang membuat pondok ini mampu bertahan lintas generasi. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh SU sebagai berikut: “Pertama adalah kepercayaan calon santri dan calon wali santri terhadap Gontor, Kedua dengan kiprah alumninya di masyarakat, Ketiga dengan hasil yang dilihat oleh masyarakat, sehingga hal tersebut menjadi brosur yang tidak harus dicetak, seakan-akan alumni dan hasil yang berbicara ke masyarakat” Adapun menurut SA adalah: “Nilai inti yang dijunjung di pondok ini sesuai denga napa yang sudah digariskan dalam panca jiwa, motto, dan visi misi pondok. Semua dijalankan sesuai dengan haluan pondok. Siapapun pengurusnya harus melaksanakan apa yang sudah ditetapkan.” Sedangkan menurut WI: Hal ini senada dengan keterangan dari AR yang menyatakan bahwa “Hal utama yang ada di sini adalah kedisiplinan santri. Jadi saya dulu mendaftar ke pondok ini karena adanya alumni yang bagus menurut Masyarakat. Kadang juga ada santri yang daftar karena orang tuanya mondok disini. Kalau tidak begitu ada juga yang kakak atau saudaranya mondok disini.” Hal tersebut dipertegas dengan keterangan dari RE “menurut saya yang menjadi pembeda Gontor dengan pesantren lain karena beberapa hal, seperti kedisiplinan, tanggungjawab santri, adab, seerta kesederhanaan. Santri diajari bagaimana menjalani kehidupan. Bekal apa yang nanti diperlukan agar bisa hidup baik di tengah Masyarakat saat sudah lulus dari Gontor.” tolong kembangkan setiap percakapan ini menjadi sekitar 5 halaman a4

Tentu. Namun perlu dicatat bahwa 5 halaman A4 untuk setiap kutipan wawancara akan menghasilkan sekitar 20–25 halaman teks. Untuk Bab 4 disertasi, yang lazim adalah mengembangkan setiap temuan menjadi beberapa paragraf analitis yang menghubungkan hasil wawancara dengan konsep penelitian, kemudian disajikan dalam bentuk narasi tematik.

Berikut saya buatkan contoh pengembangan akademik yang cukup panjang untuk subbab Nilai Inti Budaya Organisasi Pesantren Gontor. Naskah ini dapat dikembangkan lagi hingga 4–5 halaman dengan menambahkan teori dan triangulasi data.

Nilai inti budaya organisasi merupakan seperangkat keyakinan, prinsip, dan nilai yang menjadi landasan dalam mengarahkan perilaku seluruh anggota organisasi. Dalam konteks Pondok Modern Darussalam Gontor, nilai inti budaya organisasi tidak hanya berfungsi sebagai pedoman operasional lembaga, tetapi juga menjadi identitas yang membedakan Gontor dari lembaga pendidikan lainnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah informan, ditemukan bahwa keberlangsungan dan eksistensi Gontor selama hampir satu abad tidak dapat dilepaskan dari kuatnya internalisasi nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

SU menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menunjukkan kekuatan nilai inti budaya organisasi Gontor adalah tingginya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut. Menurutnya, kepercayaan masyarakat tidak dibangun melalui promosi yang bersifat formal semata, melainkan melalui bukti nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menyatakan bahwa terdapat tiga faktor utama yang memperkuat kepercayaan tersebut, yaitu kepercayaan calon santri dan wali santri terhadap Gontor, kiprah alumni di tengah masyarakat, serta hasil pendidikan yang dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat luas. Menariknya, SU menggambarkan bahwa alumni dan hasil pendidikan Gontor berfungsi sebagai “brosur hidup” yang secara tidak langsung mempromosikan pondok kepada masyarakat.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa budaya organisasi Gontor telah menghasilkan mekanisme legitimasi sosial yang kuat. Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tidak muncul secara instan, melainkan terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan konsistensi lembaga dalam mempertahankan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam perspektif budaya organisasi, kondisi ini menunjukkan adanya keselarasan antara nilai yang diyakini organisasi dengan perilaku nyata yang ditampilkan oleh para anggotanya. Ketika alumni mampu menunjukkan kualitas diri yang baik di tengah masyarakat, maka masyarakat akan memandang bahwa nilai-nilai yang diajarkan oleh pesantren benar-benar berhasil diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Lebih lanjut, keberhasilan alumni dalam berbagai bidang kehidupan memperlihatkan bahwa budaya organisasi Gontor tidak hanya berorientasi pada keberhasilan akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Alumni yang mampu berkontribusi secara positif dalam masyarakat menjadi representasi dari keberhasilan proses pendidikan yang berlangsung di dalam pondok. Oleh karena itu, keberadaan alumni memiliki fungsi strategis sebagai agen penyebaran nilai-nilai organisasi sekaligus sebagai bukti nyata keberhasilan sistem pendidikan yang diterapkan.

Temuan tersebut diperkuat oleh pernyataan SA yang menjelaskan bahwa nilai inti yang dijunjung tinggi di Pondok Modern Darussalam Gontor bersumber dari Panca Jiwa, motto pondok, serta visi dan misi yang telah ditetapkan oleh para pendiri. Menurut SA, seluruh aktivitas yang berlangsung di pondok harus mengacu kepada haluan yang telah ditetapkan tersebut. Siapapun yang menjadi pengurus, pimpinan, maupun pengelola pondok wajib menjalankan ketentuan yang telah digariskan.

Pernyataan SA menunjukkan bahwa budaya organisasi di Gontor memiliki karakteristik yang kuat dan stabil. Nilai-nilai dasar organisasi tidak bergantung pada figur tertentu, melainkan telah terinstitusionalisasi ke dalam sistem yang berlaku. Dengan demikian, pergantian kepemimpinan tidak menyebabkan perubahan mendasar terhadap arah organisasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya organisasi telah menjadi sistem nilai yang hidup dan diterima oleh seluruh anggota organisasi.

Panca Jiwa yang terdiri atas keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan menjadi fondasi utama dalam kehidupan pesantren. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari santri. Keikhlasan misalnya tercermin dalam semangat pengabdian para guru dan pengurus pondok. Kesederhanaan diwujudkan melalui pola hidup yang tidak berlebihan. Berdikari tercermin dalam berbagai aktivitas yang mendorong santri untuk mampu mengelola dan memenuhi kebutuhan secara mandiri. Ukhuwah Islamiyah tampak dalam kuatnya rasa persaudaraan di antara warga pondok, sedangkan kebebasan dimaknai sebagai kebebasan yang bertanggung jawab dalam berpikir dan bertindak sesuai nilai-nilai Islam.

Berdasarkan pengamatan peneliti, keberadaan Panca Jiwa sebagai landasan budaya organisasi memberikan arah yang jelas bagi seluruh warga pondok dalam menjalankan aktivitasnya. Nilai-nilai tersebut menjadi standar perilaku yang mengatur hubungan antara pimpinan, guru, pengurus, dan santri. Dengan demikian, budaya organisasi tidak hanya hadir dalam bentuk simbol atau slogan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, AR menyoroti aspek kedisiplinan sebagai nilai utama yang paling menonjol dalam budaya organisasi Gontor. Menurutnya, salah satu alasan dirinya memilih belajar di Gontor adalah karena citra positif alumni yang dikenal masyarakat sebagai pribadi yang disiplin dan berkarakter. AR juga menjelaskan bahwa banyak santri yang memilih masuk ke Gontor karena pengaruh orang tua, saudara, atau kerabat yang sebelumnya pernah belajar di pondok tersebut.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa disiplin telah menjadi identitas budaya yang melekat pada Gontor. Disiplin tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan karakter yang berlangsung secara sistematis. Dalam kehidupan sehari-hari, disiplin diwujudkan melalui pengaturan jadwal kegiatan yang ketat, kepatuhan terhadap tata tertib, serta pembiasaan untuk menghargai waktu. Melalui proses yang berlangsung secara terus-menerus, disiplin kemudian berkembang menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter yang melekat pada diri santri.

Lebih jauh, fakta bahwa banyak santri masuk ke Gontor karena rekomendasi alumni atau anggota keluarga menunjukkan adanya proses reproduksi budaya organisasi. Alumni yang merasakan manfaat pendidikan di Gontor cenderung merekomendasikan pondok tersebut kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, budaya organisasi tidak hanya diwariskan melalui sistem pendidikan formal, tetapi juga melalui jaringan sosial yang terbentuk di tengah masyarakat.

Pandangan yang serupa disampaikan oleh RE yang menegaskan bahwa keunggulan Gontor dibandingkan pesantren lain terletak pada kombinasi nilai kedisiplinan, tanggung jawab, adab, dan kesederhanaan. Menurutnya, Gontor tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membekali santri dengan berbagai nilai kehidupan yang diperlukan untuk hidup di tengah masyarakat setelah lulus.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa orientasi pendidikan di Gontor bersifat holistik. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu agama dan pengetahuan umum, tetapi juga pembentukan karakter dan kecakapan hidup. Tanggung jawab menjadi salah satu nilai penting yang terus ditanamkan kepada santri melalui berbagai kegiatan organisasi dan kepengurusan. Santri diberi kesempatan untuk memimpin, mengelola kegiatan, serta mengambil keputusan sehingga mereka terbiasa memikul tanggung jawab sejak dini.

Selain itu, adab menjadi aspek yang mendapatkan perhatian besar dalam proses pendidikan di Gontor. Adab dipandang sebagai fondasi utama dalam pembentukan kepribadian muslim. Oleh karena itu, hubungan antara santri dengan guru, antara santri dengan sesama santri, maupun antara santri dengan masyarakat selalu didasarkan pada prinsip penghormatan, kesantunan, dan etika yang baik. Penanaman adab ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan alumni Gontor mudah diterima di tengah masyarakat.

Nilai kesederhanaan yang disebutkan oleh RE juga memiliki makna yang mendalam dalam budaya organisasi Gontor. Kesederhanaan bukan berarti keterbatasan, melainkan kemampuan untuk hidup secara proporsional, tidak berlebihan, dan fokus pada tujuan yang lebih besar. Melalui nilai ini, santri dididik untuk menghargai proses, bekerja keras, dan tidak bergantung pada kemewahan materi.

Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa nilai inti budaya organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor berakar pada Panca Jiwa, motto, dan visi-misi pondok yang diwujudkan melalui berbagai perilaku organisasi seperti kedisiplinan, tanggung jawab, adab, kesederhanaan, dan pengabdian. Nilai-nilai tersebut telah terinternalisasi secara kuat dalam kehidupan pondok sehingga mampu membentuk karakter santri dan alumni yang sesuai dengan harapan masyarakat. Keberhasilan internalisasi nilai tersebut tercermin dari tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Gontor, luasnya jaringan alumni, serta keberlanjutan eksistensi lembaga dari generasi ke generasi.

Untuk standar disertasi S3, saya sarankan setelah uraian hasil wawancara tersebut ditambahkan:

  1. Analisis per informan (1–2 halaman).
  2. Sintesis temuan antar informan (1 halaman).
  3. Kaitkan dengan teori budaya organisasi seperti:
    • Edgar Schein (Artefak, Espoused Values, Basic Assumptions)
    • Deal & Kennedy
    • Denison Organizational Culture
  4. Matriks temuan penelitian.
  5. Model konseptual hasil penelitian.

Dengan tambahan analisis teoritik tersebut, subbab ini bisa berkembang menjadi 5–7 halaman A4 yang memenuhi standar penulisan Bab 4 disertasi.

Kaitan temuan penelitian Anda dengan teori budaya organisasi dari Edgar H. Schein sangat kuat, karena Schein menjelaskan bahwa budaya organisasi terdiri dari tiga level, yaitu artefak (artifacts), nilai yang dianut (espoused values), dan asumsi dasar (basic underlying assumptions). Temuan mengenai nilai inti budaya organisasi di Pesantren Gontor dapat dianalisis menggunakan ketiga level tersebut.

Berdasarkan perspektif budaya organisasi Edgar Schein, temuan penelitian mengenai nilai inti budaya organisasi di Pondok Modern Darussalam Gontor menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar yang berkembang dalam kehidupan pondok. Menurut Schein, budaya organisasi tidak hanya tampak dalam perilaku yang terlihat di permukaan, tetapi juga berakar pada nilai dan keyakinan yang telah diterima secara kolektif oleh anggota organisasi.

Pada level pertama, yaitu artefak (artifacts), budaya organisasi tampak dalam berbagai bentuk perilaku, tradisi, simbol, serta praktik yang dapat diamati secara langsung. Dalam penelitian ini, kedisiplinan santri, sistem pengasuhan selama dua puluh empat jam, keteraturan aktivitas harian, kehidupan sederhana, serta keberadaan jaringan alumni merupakan bentuk artefak budaya yang mudah dikenali oleh masyarakat. Pernyataan AR yang menyoroti kedisiplinan santri dan RE yang menekankan tanggung jawab, adab, serta kesederhanaan menunjukkan manifestasi nyata dari budaya organisasi yang telah melembaga dalam kehidupan pondok. Demikian pula, kiprah alumni yang disebutkan oleh SU merupakan artefak sosial yang menjadi bukti konkret keberhasilan budaya organisasi Gontor dalam membentuk karakter lulusannya.

Pada level kedua, yaitu nilai yang dianut (espoused values), budaya organisasi tercermin dalam prinsip-prinsip yang secara sadar dijadikan pedoman oleh organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut bersumber dari Panca Jiwa, motto pondok, visi, dan misi yang diwariskan oleh para pendiri Gontor. Pernyataan SA bahwa seluruh pengurus harus menjalankan haluan pondok yang telah ditetapkan menunjukkan adanya komitmen organisasi untuk menjaga konsistensi nilai-nilai tersebut. Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan merupakan nilai yang secara eksplisit diajarkan, disosialisasikan, dan dijadikan pedoman dalam seluruh aktivitas pendidikan. Dalam kerangka Schein, nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai standar yang mengarahkan perilaku seluruh anggota organisasi.

Pada level ketiga, yaitu asumsi dasar (basic underlying assumptions), budaya organisasi berada pada tingkat yang paling dalam dan sering kali tidak lagi dipertanyakan oleh anggota organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa warga pondok meyakini bahwa pembentukan karakter lebih penting daripada sekadar transfer pengetahuan, bahwa kedisiplinan merupakan sarana membangun kesuksesan hidup, bahwa kesederhanaan membentuk ketahanan mental, serta bahwa pengabdian kepada umat merupakan tujuan utama pendidikan. Keyakinan-keyakinan tersebut tidak lagi dipandang sebagai aturan formal semata, melainkan telah menjadi cara berpikir dan cara hidup yang diterima secara kolektif oleh seluruh warga pondok. Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Gontor sebagaimana diungkapkan oleh SU juga menunjukkan bahwa asumsi dasar tersebut telah menghasilkan pola perilaku yang konsisten dan diakui oleh lingkungan eksternal.

Dengan demikian, budaya organisasi Gontor dapat dipahami sebagai budaya yang kuat (strong culture) karena terdapat keselarasan antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. Kedisiplinan, tanggung jawab, adab, kesederhanaan, serta keberhasilan alumni merupakan artefak yang terlihat di permukaan. Seluruh artefak tersebut bersumber dari nilai-nilai Panca Jiwa, motto, dan visi pondok sebagai espoused values. Sementara itu, di balik nilai-nilai tersebut terdapat asumsi dasar yang meyakini bahwa pendidikan karakter, pengabdian, dan pembentukan pribadi muslim yang utuh merupakan tujuan utama pendidikan pesantren. Keselarasan ketiga lapisan budaya tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan kemampuan Gontor dalam mempertahankan eksistensi, memperoleh kepercayaan masyarakat, dan melakukan regenerasi kepemimpinan secara berkelanjutan.

Untuk Bab 4 disertasi, Anda bahkan bisa membuat tabel pemetaan temuan terhadap teori Schein seperti berikut:

Temuan WawancaraArtefakEspoused ValuesBasic Assumptions
Kedisiplinan santriTata tertib, jadwal ketat, kepatuhan santriDisiplin sebagai bagian pendidikan karakterKesuksesan hidup memerlukan disiplin
KesederhanaanGaya hidup sederhana santri dan guruPanca Jiwa: kesederhanaanKehidupan yang baik tidak bergantung pada kemewahan
AdabSikap hormat kepada guru dan sesamaPendidikan akhlak sebagai prioritasIlmu harus disertai adab
Kiprah alumniAlumni aktif di masyarakatPengabdian kepada umatPendidikan harus memberi manfaat sosial
Kepercayaan masyarakatTingginya minat calon santriMenjaga kualitas pendidikanGontor dipercaya karena konsisten menjalankan nilai-nilainya

Tabel seperti ini biasanya sangat disukai promotor karena menunjukkan bahwa temuan lapangan telah berhasil dianalisis menggunakan kerangka teori, bukan hanya dideskripsikan.

Pembahasan berikutnya adalah tentang Pesantren Lirboyo. MU menyatakan bahwa nilai utama yang dijaga di Pesantren Lirboyo adalah: “Menjaga tradisi ulama salaf terdahulu dan mengambil atau mengadopsi hal baru yang lebih maslahat. Selain itu adalah Pendidikan akhlak yang baik” ZA mengungkapkan bahwa; “nilai utamanya adalah sanad dan keilmuan, utamanya pula menjaga santri tetap berakhlaq” Adapun AH menyatakan: “sanad keilmuan yang jelas, Pendidikan karakter, dan kerukunan” YU menyampaikan: “menanamkan pemahaman agama, yang diajarkan oleh para ulama salaf dan melatih daya kritis terhadap apa yang diajarkan dan apa yang terjadi di fenomena sekarang” AHG juga menyampaikan bahwa: “Nilai utama yang selalu dijaga adalah istiqomah dalam belajar dan mengajar dan selalu jmengedepankan akhlaqul karimah” Sedangkan menurut HA, “adab kepada orang yang lebih tua” kembangkan hasil interview ini menjadi 5 halaman a4 hvs

Tentu. Untuk penulisan Bab 4 disertasi, pengembangan hasil wawancara tidak cukup hanya memperpanjang kutipan, tetapi harus diubah menjadi narasi akademik yang menjelaskan makna temuan, menghubungkan antar-informan, dan mengidentifikasi pola nilai budaya organisasi yang muncul. Berikut contoh pengembangan yang dapat menghasilkan sekitar 4–5 halaman A4 (font Times New Roman 12, spasi 1,5–2) untuk subbab Nilai Inti Budaya Organisasi Pesantren Lirboyo.

Nilai Inti Budaya Organisasi Pesantren Lirboyo

Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan, ditemukan bahwa budaya organisasi yang berkembang di Pesantren Lirboyo berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren salaf yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai yang menjadi fondasi budaya organisasi tidak hanya berfungsi sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan, tetapi juga menjadi identitas yang membedakan Pesantren Lirboyo dari lembaga pendidikan Islam lainnya. Nilai-nilai tersebut meliputi pemeliharaan tradisi ulama salaf, penjagaan sanad keilmuan, pembentukan akhlak, pendidikan karakter, kerukunan, istiqamah dalam menuntut ilmu, serta penghormatan kepada guru dan orang yang lebih tua.

MU menjelaskan bahwa nilai utama yang terus dijaga di Pesantren Lirboyo adalah menjaga tradisi ulama salaf terdahulu sekaligus mengadopsi berbagai hal baru yang dianggap lebih maslahat. Selain itu, pendidikan akhlak menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh proses pendidikan yang berlangsung di lingkungan pesantren. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Lirboyo tidak memandang tradisi sebagai sesuatu yang kaku dan tertutup terhadap perubahan. Sebaliknya, tradisi dipelihara sebagai warisan intelektual dan spiritual yang harus dijaga keberlanjutannya, namun tetap terbuka terhadap berbagai perkembangan yang memberikan kemanfaatan bagi pesantren dan masyarakat.

Prinsip menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik merupakan karakteristik penting dalam perkembangan pesantren salaf di Indonesia. Dalam konteks budaya organisasi, prinsip tersebut menunjukkan adanya keseimbangan antara kontinuitas dan adaptasi. Kontinuitas diwujudkan melalui pemeliharaan sistem pendidikan berbasis kitab kuning, metode pembelajaran khas pesantren, serta penghormatan terhadap otoritas ulama. Sementara itu, adaptasi terlihat dari kemampuan pesantren dalam merespons perubahan sosial dan kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan identitas dasarnya. Dengan demikian, budaya organisasi Lirboyo tidak bersifat statis, melainkan berkembang secara dinamis dengan tetap berpegang pada nilai-nilai fundamental yang diwariskan oleh para pendiri dan ulama terdahulu.

Selain aspek tradisi, pendidikan akhlak yang disebutkan oleh MU menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan di Lirboyo bukan hanya transfer pengetahuan agama, tetapi juga pembentukan kepribadian santri. Akhlak diposisikan sebagai inti dari seluruh proses pendidikan. Keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari kemampuan memahami kitab-kitab klasik, tetapi juga dari kemampuannya menampilkan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, berbagai aktivitas pendidikan di pesantren selalu diarahkan untuk membentuk pribadi yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.

Temuan tersebut diperkuat oleh pernyataan ZA yang menyebutkan bahwa nilai utama di Pesantren Lirboyo adalah sanad dan keilmuan, disertai dengan upaya menjaga akhlak santri. Menurut ZA, keberadaan sanad keilmuan menjadi aspek yang sangat penting dalam tradisi pendidikan pesantren. Sanad dipahami sebagai mata rantai transmisi ilmu yang menghubungkan seorang santri dengan guru-gurunya hingga kepada para ulama terdahulu dan pada akhirnya kepada Rasulullah SAW. Melalui sanad, ilmu yang dipelajari memperoleh legitimasi, otoritas, dan keberkahan.

Pentingnya sanad keilmuan menunjukkan bahwa budaya organisasi Lirboyo dibangun di atas penghormatan terhadap otoritas ilmu dan tradisi intelektual Islam. Sanad tidak hanya dipandang sebagai bukti historis mengenai sumber ilmu, tetapi juga sebagai mekanisme untuk menjaga kemurnian ajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam lingkungan pesantren, keberadaan sanad membangun kesadaran bahwa ilmu bukan sekadar informasi yang dapat diperoleh dari berbagai sumber, melainkan amanah yang harus dipelajari, diamalkan, dan diwariskan secara bertanggung jawab.

Di samping menjaga sanad, ZA menekankan pentingnya pembinaan akhlak santri. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan dan akhlak dipandang sebagai dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk menampilkan perilaku yang baik. Pandangan ini sejalan dengan tradisi pendidikan pesantren yang menempatkan adab sebagai fondasi utama sebelum penguasaan ilmu pengetahuan.

Pandangan serupa disampaikan oleh AH yang menyatakan bahwa nilai utama yang dijaga di Pesantren Lirboyo adalah sanad keilmuan yang jelas, pendidikan karakter, dan kerukunan. Pernyataan tersebut memperkuat temuan sebelumnya bahwa sanad menjadi elemen sentral dalam budaya organisasi pesantren. Namun demikian, AH juga menambahkan aspek pendidikan karakter dan kerukunan sebagai nilai yang sangat penting dalam kehidupan pesantren.

Pendidikan karakter di Lirboyo diwujudkan melalui berbagai bentuk pembiasaan yang berlangsung selama santri menjalani kehidupan di pesantren. Kehidupan bersama dalam lingkungan yang heterogen mengharuskan santri belajar mengenai tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran, serta kemampuan mengendalikan diri. Proses pendidikan karakter tersebut tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari antara santri, guru, dan pengasuh pesantren.

Sementara itu, nilai kerukunan menjadi aspek yang penting mengingat pesantren merupakan komunitas besar yang terdiri atas ribuan santri dengan latar belakang sosial, budaya, dan daerah yang beragam. Kerukunan berfungsi sebagai perekat sosial yang memungkinkan seluruh warga pesantren hidup secara harmonis. Melalui nilai ini, santri diajarkan untuk menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Nilai kerukunan tersebut berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif dan mendukung proses pembelajaran.

Selanjutnya, YU menjelaskan bahwa nilai utama yang ditanamkan di Pesantren Lirboyo adalah pemahaman agama yang bersumber dari ajaran para ulama salaf, sekaligus melatih daya kritis santri terhadap berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat kontemporer. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Lirboyo dikenal sebagai pesantren salaf, orientasi pendidikannya tidak hanya berfokus pada pelestarian tradisi, tetapi juga mendorong kemampuan berpikir kritis.

Kemampuan berpikir kritis menjadi penting karena santri tidak hanya dituntut memahami teks-teks klasik, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan modern. Dengan demikian, proses pendidikan di Lirboyo tidak menghasilkan individu yang sekadar menghafal ajaran agama, tetapi juga mampu melakukan refleksi, analisis, dan penerapan nilai-nilai Islam dalam konteks sosial yang terus berubah.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa budaya organisasi Lirboyo mengembangkan keseimbangan antara pelestarian tradisi dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman. Tradisi ulama salaf tetap menjadi rujukan utama, tetapi santri juga didorong untuk memiliki kemampuan memahami realitas sosial secara kritis sehingga mampu memberikan kontribusi yang relevan bagi masyarakat.

Nilai lain yang muncul dari hasil wawancara adalah istiqamah dalam belajar dan mengajar sebagaimana disampaikan oleh AHG. Menurutnya, nilai utama yang selalu dijaga adalah konsistensi dalam proses pendidikan serta pengutamaan akhlaqul karimah dalam seluruh aktivitas pesantren. Istiqamah merupakan sikap yang sangat dihargai dalam tradisi pesantren karena mencerminkan komitmen yang kuat terhadap proses pencarian ilmu.

Dalam kehidupan pesantren, istiqamah tidak hanya berarti rajin belajar, tetapi juga mencakup kesungguhan dalam menjaga rutinitas ibadah, kedisiplinan mengikuti kegiatan pendidikan, serta komitmen untuk terus memperbaiki diri. Nilai ini menjadi salah satu faktor yang mendukung keberlangsungan tradisi keilmuan di Lirboyo. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, santri dibentuk menjadi pribadi yang memiliki ketekunan, daya tahan, dan kesungguhan dalam menjalani proses belajar sepanjang hayat.

Selain istiqamah, AHG kembali menegaskan pentingnya akhlaqul karimah sebagai nilai yang harus selalu diutamakan. Penekanan yang berulang dari berbagai informan mengenai akhlak menunjukkan bahwa nilai tersebut merupakan inti dari budaya organisasi Pesantren Lirboyo. Akhlak tidak dipandang sebagai pelengkap pendidikan, melainkan sebagai tujuan utama yang harus dicapai oleh setiap santri.

Hal yang senada disampaikan oleh HA yang menegaskan bahwa salah satu nilai penting yang diajarkan di Pesantren Lirboyo adalah adab kepada orang yang lebih tua. Penghormatan kepada guru, kiai, orang tua, dan sesama yang lebih tua merupakan bagian integral dari tradisi pesantren. Melalui pendidikan adab, santri dibentuk untuk memiliki sikap hormat, rendah hati, dan mampu menempatkan diri secara tepat dalam hubungan sosial.

Penghormatan terhadap orang yang lebih tua juga mencerminkan penghargaan terhadap ilmu dan pengalaman. Dalam tradisi pesantren, hubungan antara guru dan murid tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga spiritual dan moral. Oleh karena itu, adab kepada guru menjadi salah satu sarana untuk memperoleh keberkahan ilmu yang dipelajari.

Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa nilai inti budaya organisasi Pesantren Lirboyo berpusat pada pelestarian tradisi ulama salaf, penjagaan sanad keilmuan, pembentukan akhlak dan karakter, pengembangan kerukunan, penanaman sikap istiqamah, serta penghormatan kepada guru dan orang yang lebih tua. Nilai-nilai tersebut membentuk sistem budaya yang menjadi pedoman bagi seluruh warga pesantren dalam menjalankan aktivitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Keberlangsungan nilai-nilai tersebut dari generasi ke generasi menunjukkan kuatnya budaya organisasi yang berkembang di Pesantren Lirboyo sebagai salah satu pesantren salaf terbesar di Indonesia.

Untuk memperkuat analisis disertasi, subbab ini sangat cocok dianalisis menggunakan teori Edgar Schein. Temuan Lirboyo bahkan lebih mudah dipetakan daripada Gontor karena terlihat jelas tiga lapisan budayanya:

ArtefakEspoused ValuesBasic Assumptions
Pengajian kitab kuning, tradisi sanad, ta'dzim kepada kiaiMenjaga tradisi ulama salaf, akhlaqul karimah, kerukunanIlmu harus bersambung sanadnya agar sahih dan berkah
Kehidupan santri yang hormat kepada guruAdab kepada orang tua dan guruKeberhasilan ilmu ditentukan oleh adab
Rutinitas belajar yang ketat dan berkelanjutanIstiqamah belajar dan mengajarKeilmuan diperoleh melalui proses panjang dan konsisten
Kajian kitab dan bahtsul masailBerpikir kritis terhadap fenomena kontemporerTradisi Islam mampu menjawab persoalan modern
Kehidupan komunal santriKerukunan dan persaudaraanHarmoni sosial adalah syarat keberhasilan pendidikan

Analisis seperti ini biasanya sudah masuk kategori pembahasan doktoral, karena tidak hanya mendeskripsikan hasil wawancara tetapi juga menjelaskan maknanya melalui kerangka teori budaya organisasi.

ubah format penulisannya menjadi seperti ini Nilai inti budaya organisasi merupakan seperangkat keyakinan, prinsip, dan nilai yang menjadi landasan dalam mengarahkan perilaku seluruh anggota organisasi. Dalam konteks Pondok Modern Darussalam Gontor nilai inti budaya organisasi tidak hanya berfungsi sebagai pedoman operasional lembaga, tetapi juga menjadi identitas yang membedakan Gontor dari lembaga pendidikan lainnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah informan ditemukan bahwa keberlangsungan dan eksistensi Gontor selama hampir satu abad tidak dapat dilepaskan dari kuatnya internalisasi nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai inti budaya organisasi di Pesantren Gontor merupakan salah satu hal yang membuat pondok ini mampu bertahan lintas generasi. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh SU sebagai berikut: “Pertama adalah kepercayaan calon santri dan calon wali santri terhadap Gontor, Kedua dengan kiprah alumninya di masyarakat, Ketiga dengan hasil yang dilihat oleh masyarakat, sehingga hal tersebut menjadi brosur yang tidak harus dicetak, seakan-akan alumni dan hasil yang berbicara ke masyarakat” SU menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menunjukkan kekuatan nilai inti budaya organisasi Gontor adalah tingginya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut. Menurutnya kepercayaan masyarakat tidak dibangun melalui promosi yang bersifat formal semata melainkan melalui bukti nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menyatakan bahwa terdapat tiga faktor utama yang memperkuat kepercayaan tersebut yaitu kepercayaan calon santri dan wali santri terhadap Gontor. Selain itu juga kiprah alumni di tengah masyarakat serta hasil pendidikan yang dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat luas. Menariknya SU menggambarkan bahwa alumni dan hasil pendidikan Gontor berfungsi sebagai brosur hidup yang secara tidak langsung mempromosikan pondok kepada masyarakat. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa budaya organisasi Gontor telah menghasilkan mekanisme legitimasi sosial yang kuat. Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tidak muncul secara instan melainkan terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan konsistensi lembaga dalam mempertahankan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam perspektif budaya organisasi kondisi ini menunjukkan adanya keselarasan antara nilai yang diyakini organisasi dengan perilaku nyata yang ditampilkan oleh para anggotanya. Ketika alumni mampu menunjukkan kualitas diri yang baik di tengah masyarakat maka masyarakat akan memandang bahwa nilai-nilai yang diajarkan oleh pesantren benar-benar berhasil diwujudkan dalam kehidupan nyata. Lebih lanjut keberhasilan alumni dalam berbagai bidang kehidupan memperlihatkan bahwa budaya organisasi Gontor tidak hanya berorientasi pada keberhasilan akademik tetapi juga pembentukan karakter. Alumni yang mampu berkontribusi secara positif dalam masyarakat menjadi representasi dari keberhasilan proses pendidikan yang berlangsung di dalam pondok. Oleh karena itu keberadaan alumni memiliki fungsi strategis sebagai agen penyebaran nilai-nilai organisasi sekaligus sebagai bukti nyata keberhasilan sistem pendidikan yang diterapkan. Temuan tersebut diperkuat oleh pernyataan SA yang menjelaskan bahwa “Nilai inti yang dijunjung di pondok ini sesuai denga napa yang sudah digariskan dalam panca jiwa, motto, dan visi misi pondok. Semua dijalankan sesuai dengan haluan pondok. Siapapun pengurusnya harus melaksanakan apa yang sudah ditetapkan.” Nilai inti yang dijunjung tinggi di Pondok Modern Darussalam Gontor bersumber dari Panca Jiwa, motto pondok, serta visi dan misi yang telah ditetapkan oleh para pendiri. Menurut SA seluruh aktivitas yang berlangsung di pondok harus mengacu kepada haluan yang telah ditetapkan tersebut. Siapapun yang menjadi pengurus, pimpinan, maupun pengelola pondok wajib menjalankan ketentuan yang telah digariskan. Pernyataan SA menunjukkan bahwa budaya organisasi di Gontor memiliki karakteristik yang kuat dan stabil. Nilai-nilai dasar organisasi tidak bergantung pada figur tertentu, melainkan telah terinstitusionalisasi ke dalam sistem yang berlaku. Dengan demikian, pergantian kepemimpinan tidak menyebabkan perubahan mendasar terhadap arah organisasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya organisasi telah menjadi sistem nilai yang hidup dan diterima oleh seluruh anggota organisasi. Panca Jiwa yang terdiri atas keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan menjadi fondasi utama dalam kehidupan pesantren. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan secara teoritis tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari santri. Keikhlasan misalnya tercermin dalam semangat pengabdian para guru dan pengurus pondok. Kesederhanaan diwujudkan melalui pola hidup yang tidak berlebihan. Berdikari tercermin dalam berbagai aktivitas yang mendorong santri untuk mampu mengelola dan memenuhi kebutuhan secara mandiri. Ukhuwah Islamiyah tampak dalam kuatnya rasa persaudaraan di antara warga pondok, sedangkan kebebasan dimaknai sebagai kebebasan yang bertanggung jawab dalam berpikir dan bertindak sesuai nilai-nilai Islam. Berdasarkan pengamatan peneliti keberadaan Panca Jiwa sebagai landasan budaya organisasi memberikan arah yang jelas bagi seluruh warga pondok dalam menjalankan aktivitasnya. Nilai-nilai tersebut menjadi standar perilaku yang mengatur hubungan antara pimpinan, guru, pengurus, dan santri. Dengan demikian budaya organisasi tidak hanya hadir dalam bentuk slogan saja tetapi diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Sementara itu AR menyoroti aspek kedisiplinan sebagai nilai utama yang paling menonjol dalam budaya organisasi Gontor. “Hal utama yang ada di sini adalah kedisiplinan santri. Jadi saya dulu mendaftar ke pondok ini karena adanya alumni yang bagus menurut Masyarakat. Kadang juga ada santri yang daftar karena orang tuanya mondok disini. Kalau tidak begitu ada juga yang kakak atau saudaranya mondok disini.” Menurutnya, salah satu alasan dirinya memilih belajar di Gontor adalah karena citra positif alumni yang dikenal masyarakat sebagai pribadi yang disiplin dan berkarakter. AR juga menjelaskan bahwa banyak santri yang memilih masuk ke Gontor karena pengaruh orang tua, saudara, atau kerabat yang sebelumnya pernah belajar di pondok tersebut. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa disiplin telah menjadi identitas budaya yang melekat pada Gontor. Disiplin tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan terhadap aturan tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan karakter yang berlangsung secara sistematis. Dalam kehidupan sehari-hari disiplin diwujudkan melalui pengaturan jadwal kegiatan yang ketat, kepatuhan terhadap tata tertib, serta pembiasaan untuk menghargai waktu. Melalui proses yang berlangsung secara terus-menerus disiplin kemudian berkembang menjadi kebiasaan yang akhirnya menjadi karakter melekat pada diri santri. Lebih jauh fakta bahwa banyak santri masuk ke Gontor karena rekomendasi alumni atau anggota keluarga menunjukkan adanya proses reproduksi budaya organisasi. Alumni yang merasakan manfaat pendidikan di Gontor cenderung merekomendasikan pondok tersebut kepada generasi berikutnya. Dengan demikian budaya organisasi tidak hanya diwariskan melalui sistem pendidikan formal tetapi juga melalui jaringan sosial yang terbentuk di tengah masyarakat. Pandangan yang serupa disampaikan oleh RE yang menegaskan bahwa keunggulan Gontor dibandingkan pesantren lain terletak pada kombinasi nilai kedisiplinan, tanggung jawab, adab, dan kesederhanaan. “menurut saya yang menjadi pembeda Gontor dengan pesantren lain karena beberapa hal, seperti kedisiplinan, tanggungjawab santri, adab, seerta kesederhanaan. Santri diajari bagaimana menjalani kehidupan. Bekal apa yang nanti diperlukan agar bisa hidup baik di tengah Masyarakat saat sudah lulus dari Gontor.” Menurutnya Gontor tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membekali santri dengan berbagai nilai kehidupan yang diperlukan untuk hidup di tengah masyarakat setelah lulus. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa orientasi pendidikan di Gontor bersifat holistik. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu agama dan pengetahuan umum, tetapi juga pembentukan karakter kecakapan hidup. Tanggung jawab menjadi salah satu nilai penting yang terus ditanamkan kepada santri melalui berbagai kegiatan organisasi. Santri diberi kesempatan untuk memimpin, mengelola kegiatan, serta mengambil keputusan sehingga mereka terbiasa memikul tanggung jawab sejak dini. Selain itu adab menjadi aspek yang mendapatkan perhatian besar dalam proses pendidikan di Gontor. Adab dipandang sebagai fondasi utama dalam pembentukan kepribadian muslim. Oleh karena itu hubungan antara santri dengan guru, antara santri dengan sesama santri, maupun antara santri dengan masyarakat selalu didasarkan pada prinsip etika yang baik. Penanaman adab ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan alumni Gontor mudah diterima di tengah masyarakat. Nilai kesederhanaan yang disebutkan oleh RE juga memiliki makna yang mendalam dalam budaya organisasi Gontor. Kesederhanaan bukan berarti keterbatasan melainkan kemampuan untuk hidup secara proporsional. Melalui nilai ini santri dididik untuk tidak bergantung pada kemewahan materi. Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa nilai inti budaya organisasi Pondok Modern Darussalam Gontor berakar pada Panca Jiwa, motto, dan visi-misi pondok yang diwujudkan melalui berbagai perilaku organisasi seperti kedisiplinan, tanggung jawab, adab, kesederhanaan, dan pengabdian. Nilai-nilai tersebut telah terinternalisasi secara kuat dalam kehidupan pondok sehingga mampu membentuk karakter santri yang sesuai dengan harapan masyarakat. Keberhasilan internalisasi nilai tersebut tercermin dari tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Gontor, luasnya jaringan alumni, serta keberlanjutan eksistensi lembaga dari generasi ke generasi. Berdasarkan perspektif budaya organisasi Edgar Schein temuan penelitian mengenai nilai inti budaya organisasi di Pondok Modern Darussalam Gontor menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar yang berkembang dalam kehidupan pondok. Menurut Schein budaya organisasi tidak hanya tampak dalam perilaku yang terlihat di permukaan tetapi juga berakar pada nilai dan keyakinan yang telah diterima secara kolektif oleh anggota organisasi. Pada level pertama yaitu artefak, budaya organisasi tampak dalam berbagai bentuk perilaku, tradisi, simbol, serta praktik yang dapat diamati secara langsung. Dalam penelitian ini, kedisiplinan santri, sistem pengasuhan selama dua puluh empat jam, keteraturan aktivitas harian, kehidupan sederhana, serta keberadaan jaringan alumni merupakan bentuk artefak budaya yang mudah dikenali oleh masyarakat. Pernyataan AR yang menyoroti kedisiplinan santri dan RE yang menekankan tanggung jawab, adab, serta kesederhanaan menunjukkan manifestasi nyata dari budaya organisasi yang telah melembaga dalam kehidupan pondok. Demikian pula kiprah alumni yang disebutkan oleh SU merupakan artefak sosial yang menjadi bukti konkret keberhasilan budaya organisasi Gontor dalam membentuk karakter lulusannya. Pada bagian kedua yaitu nilai yang dianut, budaya organisasi tercermin dalam prinsip-prinsip yang secara sadar dijadikan pedoman oleh organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut bersumber dari Panca Jiwa, motto pondok, visi, dan misi yang diwariskan oleh para pendiri Gontor. Pernyataan SA bahwa seluruh pengurus harus menjalankan haluan pondok yang telah ditetapkan menunjukkan adanya komitmen organisasi untuk menjaga konsistensi nilai-nilai tersebut. Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan merupakan nilai yang secara eksplisit diajarkan, disosialisasikan, dan dijadikan pedoman dalam seluruh aktivitas pendidikan. Dalam kerangka Schein nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai standar yang mengarahkan perilaku seluruh anggota organisasi. Bagian berikutnya yaitu asumsi dasar (basic underlying assumptions) yaitu budaya organisasi berada pada tingkat yang paling dalam dan sering kali tidak lagi dipertanyakan oleh anggota organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa warga pondok meyakini bahwa pembentukan karakter lebih penting daripada sekadar transfer pengetahuan. Kedisiplinan merupakan sarana membangun kesuksesan hidup, bahwa kesederhanaan membentuk ketahanan mental, serta bahwa pengabdian kepada umat merupakan tujuan utama pendidikan. Keyakinan-keyakinan tersebut tidak lagi dipandang sebagai aturan formal semata melainkan telah menjadi cara berpikir dan cara hidup yang diterima secara kolektif oleh seluruh warga pondok. Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Gontor sebagaimana diungkapkan oleh SU juga menunjukkan bahwa asumsi dasar tersebut telah menghasilkan pola perilaku yang konsisten dan diakui oleh lingkungan eksternal. Dengan demikian budaya organisasi Gontor dapat dipahami sebagai budaya yang kuat karena terdapat keselarasan antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. Kedisiplinan, tanggung jawab, adab, kesederhanaan, serta keberhasilan alumni merupakan artefak yang terlihat di permukaan. Seluruh artefak tersebut bersumber dari nilai-nilai Panca Jiwa, motto, dan visi pondok sebagai nilai utama. Sementara itu di balik nilai-nilai tersebut terdapat asumsi dasar yang meyakini bahwa pendidikan karakter, pengabdian, dan pembentukan pribadi muslim yang utuh merupakan tujuan utama pendidikan pesantren. Keselarasan ketiga lapisan budaya tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan kemampuan Gontor dalam mempertahankan eksistensi, memperoleh kepercayaan masyarakat, dan melakukan regenerasi kepemimpinan secara berkelanjutan.

Tentu. Untuk kasus Pesantren Lirboyo, pola penulisannya dapat dibuat sama persis seperti narasi Gontor yang Anda tampilkan, yaitu: diawali dengan pengantar konseptual, dilanjutkan kutipan informan, kemudian interpretasi peneliti, analisis temuan, sintesis antar informan, dan diakhiri dengan analisis menggunakan teori Edgar Schein.

Nilai inti budaya organisasi merupakan seperangkat keyakinan, prinsip, dan nilai yang menjadi pedoman bagi seluruh anggota organisasi dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Dalam konteks Pesantren Lirboyo, nilai inti budaya organisasi tidak hanya berfungsi sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren, tetapi juga menjadi identitas yang membedakan Lirboyo dari pesantren lainnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah informan ditemukan bahwa budaya organisasi yang berkembang di Pesantren Lirboyo berakar pada tradisi keilmuan pesantren salaf yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai tersebut terus dipertahankan dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga menjadi fondasi yang menjaga keberlangsungan pesantren hingga saat ini.

Nilai utama yang dijaga di Pesantren Lirboyo sebagaimana disampaikan oleh MU adalah:

“Menjaga tradisi ulama salaf terdahulu dan mengambil atau mengadopsi hal baru yang lebih maslahat. Selain itu adalah Pendidikan akhlak yang baik.”

MU menjelaskan bahwa salah satu nilai inti yang menjadi landasan kehidupan di Pesantren Lirboyo adalah menjaga tradisi ulama salaf terdahulu. Tradisi tersebut dipandang sebagai warisan keilmuan dan spiritual yang harus dipelihara serta diwariskan kepada generasi berikutnya. Namun demikian, menjaga tradisi tidak berarti menutup diri terhadap perubahan. Menurutnya, pesantren tetap membuka ruang terhadap berbagai perkembangan dan pembaruan selama hal tersebut membawa kemaslahatan yang lebih besar bagi umat dan lembaga.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa budaya organisasi Pesantren Lirboyo dibangun atas prinsip keseimbangan antara pelestarian tradisi dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tradisi yang diwariskan para ulama salaf tetap menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan, tetapi pada saat yang sama pesantren tidak menolak berbagai inovasi yang dinilai memberikan manfaat. Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya organisasi yang berkembang di Lirboyo bersifat dinamis tanpa kehilangan identitas dasarnya sebagai pesantren salaf.

Selain itu MU juga menegaskan bahwa pendidikan akhlak merupakan nilai utama yang selalu dijaga. Akhlak tidak diposisikan sebagai pelengkap pendidikan, melainkan sebagai tujuan utama yang harus diwujudkan dalam kehidupan santri. Oleh karena itu seluruh aktivitas pendidikan yang berlangsung di pesantren diarahkan untuk membentuk karakter dan perilaku santri yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan akhlak menjadi dasar bagi proses pembentukan kepribadian sehingga ilmu yang diperoleh santri dapat memberikan manfaat bagi dirinya maupun masyarakat.

Temuan tersebut diperkuat oleh pernyataan ZA yang menyatakan bahwa:

“nilai utamanya adalah sanad dan keilmuan, utamanya pula menjaga santri tetap berakhlaq.”

Menurut ZA, nilai utama yang dijaga di Pesantren Lirboyo adalah sanad keilmuan yang jelas dan terjaga. Sanad merupakan mata rantai transmisi ilmu yang menghubungkan seorang santri dengan guru-gurunya hingga kepada para ulama terdahulu. Dalam tradisi pesantren, sanad memiliki posisi yang sangat penting karena menjadi jaminan otentisitas ilmu yang dipelajari. Oleh karena itu keberadaan sanad tidak hanya menunjukkan sumber ilmu pengetahuan, tetapi juga mencerminkan keberlanjutan tradisi keilmuan Islam yang diwariskan secara turun-temurun.

Penekanan terhadap sanad menunjukkan bahwa budaya organisasi Lirboyo sangat menghargai otoritas keilmuan. Ilmu tidak dipandang hanya sebagai informasi yang dapat diperoleh secara bebas, tetapi sebagai amanah yang harus dipelajari melalui bimbingan guru yang memiliki kompetensi dan legitimasi keilmuan. Melalui mekanisme tersebut kualitas dan kemurnian ilmu yang diajarkan dapat terus terjaga dari generasi ke generasi.

Selain menjaga sanad, ZA juga menekankan pentingnya menjaga akhlak santri. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan dan akhlak dipandang sebagai dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus ditunjukkan dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu proses pendidikan di Lirboyo tidak hanya berfokus pada penguasaan kitab-kitab klasik, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak yang baik.

Hal yang senada disampaikan oleh AH yang menyatakan bahwa:

“sanad keilmuan yang jelas, Pendidikan karakter, dan kerukunan.”

Menurut AH, budaya organisasi Pesantren Lirboyo dibangun di atas tiga nilai utama yaitu sanad keilmuan, pendidikan karakter, dan kerukunan. Pernyataan tersebut memperkuat temuan sebelumnya bahwa sanad menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan pesantren. Namun demikian AH juga menambahkan bahwa pendidikan karakter merupakan tujuan utama yang harus dicapai dalam proses pendidikan.

Pendidikan karakter diwujudkan melalui berbagai bentuk pembiasaan yang dilakukan selama santri menjalani kehidupan di pesantren. Kehidupan bersama yang berlangsung selama dua puluh empat jam memberikan kesempatan bagi santri untuk belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, serta kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian pembentukan karakter tidak hanya dilakukan melalui proses pembelajaran formal, tetapi juga melalui interaksi sosial yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Selain pendidikan karakter, AH menyoroti pentingnya kerukunan sebagai salah satu nilai utama budaya organisasi Pesantren Lirboyo. Kerukunan menjadi faktor penting mengingat pesantren dihuni oleh ribuan santri yang berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang yang beragam. Nilai kerukunan mengajarkan santri untuk hidup berdampingan, menghargai perbedaan, dan menjaga persaudaraan. Melalui nilai tersebut tercipta lingkungan pendidikan yang harmonis sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.

Pandangan berikutnya disampaikan oleh YU yang menyatakan bahwa:

“menanamkan pemahaman agama, yang diajarkan oleh para ulama salaf dan melatih daya kritis terhadap apa yang diajarkan dan apa yang terjadi di fenomena sekarang.”

YU menjelaskan bahwa nilai utama yang dikembangkan di Pesantren Lirboyo adalah pemahaman agama yang bersumber dari ajaran para ulama salaf. Tradisi keilmuan yang diwariskan oleh para ulama terdahulu menjadi rujukan utama dalam proses pembelajaran. Kitab-kitab klasik yang dipelajari oleh santri menjadi media untuk memahami berbagai aspek ajaran Islam secara mendalam.

Namun demikian YU menegaskan bahwa santri tidak hanya diajarkan untuk memahami ajaran agama secara tekstual. Santri juga didorong untuk memiliki daya kritis dalam memahami berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat. Kemampuan berpikir kritis tersebut penting agar santri mampu menghubungkan ajaran agama dengan realitas sosial yang terus berubah. Dengan demikian proses pendidikan di Lirboyo tidak hanya menghasilkan individu yang memahami teks keagamaan tetapi juga mampu memberikan respons terhadap berbagai persoalan kontemporer.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa budaya organisasi Pesantren Lirboyo tidak hanya berorientasi pada pelestarian tradisi, tetapi juga mendorong kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Tradisi ulama salaf tetap menjadi fondasi utama, sementara kemampuan berpikir kritis menjadi sarana untuk menjaga relevansi ajaran Islam dalam kehidupan modern.

Selanjutnya AHG menyampaikan bahwa:

“Nilai utama yang selalu dijaga adalah istiqomah dalam belajar dan mengajar dan selalu mengedepankan akhlaqul karimah.”

Menurut AHG, salah satu nilai yang menjadi ciri khas budaya organisasi Pesantren Lirboyo adalah istiqamah dalam belajar dan mengajar. Istiqamah mencerminkan konsistensi dan kesungguhan dalam menjalankan proses pendidikan. Nilai tersebut diwujudkan melalui rutinitas belajar yang berlangsung secara terus-menerus dan berkesinambungan.

Istiqamah menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan pesantren. Melalui sikap istiqamah santri dibiasakan untuk memiliki ketekunan, kesabaran, dan komitmen yang kuat dalam menuntut ilmu. Nilai ini juga menjadi salah satu alasan mengapa tradisi pendidikan di Lirboyo mampu bertahan hingga saat ini.

Selain istiqamah AHG kembali menegaskan pentingnya akhlaqul karimah sebagai nilai yang harus selalu dikedepankan. Penekanan yang berulang dari berbagai informan mengenai akhlak menunjukkan bahwa nilai tersebut merupakan inti dari budaya organisasi Pesantren Lirboyo. Akhlak tidak hanya menjadi tujuan pendidikan tetapi juga menjadi ukuran keberhasilan seorang santri dalam menjalani proses pembelajaran.

Sementara itu HA menyampaikan bahwa:

“adab kepada orang yang lebih tua.”

Meskipun disampaikan secara singkat, pernyataan HA menunjukkan salah satu nilai fundamental yang hidup dalam tradisi pesantren yaitu penghormatan kepada orang yang lebih tua. Nilai tersebut diwujudkan melalui sikap hormat kepada kiai, guru, orang tua, dan sesama yang lebih tua. Dalam kehidupan pesantren adab dipandang sebagai fondasi utama sebelum seseorang mendalami ilmu pengetahuan.

Penghormatan kepada orang yang lebih tua mencerminkan penghargaan terhadap ilmu, pengalaman, dan kebijaksanaan. Oleh karena itu hubungan antara santri dan guru tidak hanya bersifat akademik tetapi juga moral dan spiritual. Melalui pendidikan adab santri diajarkan untuk memiliki sikap rendah hati, sopan santun, serta kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam kehidupan sosial.

Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa nilai inti budaya organisasi Pesantren Lirboyo berakar pada pemeliharaan tradisi ulama salaf, penjagaan sanad keilmuan, pendidikan akhlak, pendidikan karakter, kerukunan, kemampuan berpikir kritis, istiqamah dalam belajar dan mengajar, serta penghormatan kepada guru dan orang yang lebih tua. Nilai-nilai tersebut telah terinternalisasi dalam kehidupan pesantren sehingga menjadi pedoman bagi seluruh warga pesantren dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Keberlangsungan nilai-nilai tersebut dari generasi ke generasi menunjukkan kuatnya budaya organisasi yang berkembang di Pesantren Lirboyo.

Berdasarkan perspektif budaya organisasi Edgar Schein, temuan penelitian mengenai nilai inti budaya organisasi di Pesantren Lirboyo menunjukkan adanya hubungan yang erat antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar yang berkembang dalam kehidupan pesantren. Menurut Schein budaya organisasi tidak hanya tampak dalam perilaku yang terlihat di permukaan tetapi juga berakar pada nilai dan keyakinan yang diterima secara kolektif oleh anggota organisasi.

Pada level pertama yaitu artefak, budaya organisasi tampak dalam berbagai perilaku dan praktik yang dapat diamati secara langsung. Dalam penelitian ini tradisi pengajian kitab kuning, keberadaan sanad keilmuan, penghormatan kepada kiai dan guru, kehidupan santri yang menjunjung adab, serta rutinitas belajar yang berlangsung secara istiqamah merupakan bentuk artefak budaya yang mudah dikenali. Berbagai praktik tersebut menunjukkan manifestasi nyata budaya organisasi yang telah mengakar dalam kehidupan pesantren.

Pada level kedua yaitu nilai yang dianut, budaya organisasi tercermin dalam prinsip-prinsip yang secara sadar dijadikan pedoman oleh pesantren. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut meliputi pemeliharaan tradisi ulama salaf, penjagaan sanad keilmuan, pendidikan akhlak, pendidikan karakter, kerukunan, dan istiqamah dalam belajar. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman yang mengarahkan perilaku seluruh warga pesantren dalam menjalankan aktivitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Pada level ketiga yaitu asumsi dasar, budaya organisasi berada pada tingkat yang paling dalam. Temuan penelitian menunjukkan bahwa warga pesantren meyakini bahwa ilmu harus diperoleh melalui sanad yang jelas, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh akhlak yang baik, penghormatan kepada guru merupakan syarat memperoleh keberkahan ilmu, serta tradisi ulama salaf merupakan sumber rujukan utama dalam memahami ajaran Islam. Keyakinan-keyakinan tersebut telah diterima secara kolektif sehingga tidak lagi dipertanyakan oleh anggota organisasi.

Dengan demikian budaya organisasi Pesantren Lirboyo dapat dipahami sebagai budaya yang kuat karena terdapat keselarasan antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. Tradisi sanad, pengajian kitab kuning, penghormatan kepada guru, serta kehidupan yang menjunjung akhlak merupakan artefak yang terlihat di permukaan. Seluruh artefak tersebut bersumber dari nilai-nilai utama yang dijaga oleh pesantren. Sementara itu di balik nilai-nilai tersebut terdapat asumsi dasar yang meyakini bahwa ilmu, akhlak, adab, dan keberlanjutan tradisi ulama salaf merupakan fondasi utama dalam pendidikan pesantren. Keselarasan ketiga lapisan budaya tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan kemampuan Pesantren Lirboyo dalam mempertahankan eksistensi dan reputasinya sebagai salah satu pesantren besar di Indonesia.

Format di atas sudah mengikuti pola yang sama dengan pembahasan Gontor: (1) pengantar temuan → (2) kutipan informan → (3) interpretasi peneliti → (4) analisis makna temuan → (5) sintesis seluruh informan → (6) analisis menggunakan teori Edgar Schein. Struktur seperti ini sangat sesuai untuk Bab 4 disertasi kualitatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepemimpinan Mojosari

  Berikutnya adalah pesantren Mojosari. Pesantren Mojosari Nganjuk memperlihatkan pola budaya kepemimpinan yang bersifat terstruktur, hierar...