Sabtu, 11 Juli 2026

4b1b Kepemimpinan Gontor

 

b. Pola Kepemimpinan dalam Budaya Organisasi Pesantren

Kepemimpinan memiliki posisi sentral dalam pembentukan budaya organisasi.[1] Schein menjelaskan bahwa budaya organisasi pada awalnya merupakan refleksi dari nilai, keyakinan, dan asumsi yang dibangun oleh para pendiri organisasi. Seiring berjalannya waktu nilai-nilai tersebut mengalami proses institusionalisasi sehingga berubah menjadi budaya yang dianut secara kolektif oleh seluruh anggota organisasi.

Dalam konteks pesantren para kiai dan pendiri berperan sebagai pencipta budaya melalui penanaman nilai-nilai dasar yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya. Setelah budaya terbentuk dan mengakar budaya tersebut justru berfungsi sebagai mekanisme pengendali yang mengarahkan perilaku para pemimpin berikutnya. Oleh karena itu hubungan antara kepemimpinan dan budaya organisasi bersifat timbal balik di mana pemimpin membentuk budaya, sementara budaya yang telah mapan membentuk karakter dan pola kepemimpinan organisasi.

Kepemimpinan merupakan salah satu elemen yang memiliki peran strategis dalam membentuk, memelihara, dan mengembangkan budaya organisasi. Dalam perspektif Edgar Schein budaya organisasi pada awalnya lahir dari nilai, keyakinan, dan asumsi yang dibangun oleh para pendiri organisasi. Nilai-nilai tersebut kemudian mengalami proses internalisasi dan institusionalisasi sehingga menjadi budaya yang diterima serta dijalankan secara kolektif oleh seluruh anggota organisasi.

Kepemimpinan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengelolaan organisasi tetapi juga menjadi media utama dalam mentransmisikan nilai-nilai yang menjadi identitas lembaga.[2] Oleh karena itu memahami budaya kepemimpinan menjadi penting untuk menjelaskan bagaimana sebuah pesantren mampu mempertahankan eksistensi dan keberlanjutannya lintas generasi.

Pada Pondok Modern Darussalam Gontor kepemimpinan tidak dipahami sebagai kekuasaan yang melekat pada individu tertentu melainkan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Budaya kepemimpinan yang berkembang di Gontor merupakan refleksi dari nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendiri pondok atau Trimurti. Nilai-nilai tersebut kemudian berkembang menjadi sistem yang mengatur pola hubungan antara pimpinan, guru, pengurus, dan santri dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh SU yang menyatakan bahwa:

“Kepemimpinan yang diterapkan adalah kepemimpinan yang struktural, semua wajib taat kepada setiap pimpinannya, sehingga terwujud sistem yang rapih. Pemimpin di Gontor juga menjadi figur, yaitu pemimpin yang mendidik. Pandangan Gontor tentang kepemimpinan adalah bukan jabatan semata melainkan sebuah amanah yang didalamnya harus bersungguh sungguh dan tuntas dalam setiap amanah tersebut.”[3]

 

Kemudian SA menambahkan bahwa,

“Kepemimpinan di Gontor sebagaimana yang digariskan oleh trimurti, bahwa disini bersifat kolektif kolegial.”[4]

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa budaya kepemimpinan di Gontor dibangun di atas dua fondasi utama yaitu sistem struktural yang kuat dan keteladanan pemimpin. Kepemimpinan struktural yang dimaksud tidak sekadar menunjukkan adanya hierarki organisasi tetapi juga menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap sistem yang telah ditetapkan. Setiap individu memiliki posisi, tugas, dan tanggung jawab yang harus dijalankan sesuai dengan aturan yang berlaku. Melalui mekanisme tersebut tercipta keteraturan organisasi yang memungkinkan seluruh aktivitas pondok berjalan secara efektif.

WI juga memberikan keterangan bahwa,

“Kepemimpinan merupakan salah satu nilai Pendidikan utama yang diajarkan di Pondok Gontor”[5]

 

Di sisi lain kepemimpinan di Gontor tidak hanya menekankan aspek formal berupa kewenangan struktural. Pemimpin juga dituntut menjadi figur pendidikan yang memberikan teladan kepada bawahannya. Pemimpin tidak hanya berfungsi sebagai pengambil Keputusan namun juga sebagai pendidik yang membentuk karakter anggota organisasi. Oleh karena itu kepemimpinan dipandang sebagai amanah yang harus dilaksanakan dengan kesungguhan. Pandangan ini menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan di Gontor tidak hanya berasal dari jabatan formal tetapi juga dari kapasitas moral yang dimiliki oleh seorang pemimpin.

Temuan tersebut diperkuat oleh pernyataan SA yang menjelaskan bahwa:

“Kepemimpinan di Gontor sebagaimana yang digariskan oleh trimurti, bahwa disini bersifat kolektif kolegial. Dalam memimpin selalu ada musyawarah. Bahkan ketika satu pimpinan tidak ada di tempat, pimpinan yang lain justru harus mengisi kekosongan itu. Jadinya saling melengkapi.”[6]

 

Menurut SA salah satu karakteristik utama kepemimpinan di Gontor adalah sifatnya yang kolektif kolegial. Sistem ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak dipusatkan pada satu figur tertentu. Keputusan dijalankan secara bersama-sama melalui mekanisme musyawarah. Model kepemimpinan kolektif kolegial memungkinkan terjadinya distribusi tanggung jawab secara partisipatif sehingga keberlangsungan organisasi tidak bergantung pada satu individu.

Pernyataan tersebut juga menunjukkan adanya sistem regenerasi dan keberlanjutan kepemimpinan yang kuat. Ketika salah satu pimpinan tidak dapat menjalankan tugasnya pimpinan yang lain dapat mengambil alih peran tersebut tanpa mengganggu jalannya organisasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya kepemimpinan di Gontor telah terlembagakan dalam sistem organisasi sehingga tidak bergantung pada figur tertentu. Kepemimpinan menjadi bagian dari budaya organisasi yang diwariskan dan dipraktikkan secara terus-menerus.

Budaya musyawarah yang menjadi bagian dari sistem kepemimpinan kolektif kolegial juga menunjukkan adanya penghargaan terhadap partisipasi dan kebersamaan dalam pengambilan keputusan. Musyawarah tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme organisasi, tetapi juga menjadi sarana pendidikan bagi seluruh anggota organisasi untuk belajar menghargai perbedaan pendapat dan mencari solusi terbaik secara bersama-sama.

Aspek keteladanan dalam kepemimpinan kembali ditegaskan oleh WI yang menyatakan bahwa:

“Pak Yai selalu memimpin dengan contoh. Apa yang disampaikan itulah yang dilaksanakan sehingga santri tahu betul bagaimana harus memimpin.”[7]

 

FA juga memberikan keterangan yang menguatkan,

“Santri semuanya diajari cara untuk hidup bersama, diajari memimpin dan diajari untuk dipimpin”[8]

 

AN ketika diwawancara juga menunjukkan hal yang sama bahwa,

“Saya sedang bertugas jaga, nanti semua ada jadwalnya masing-masing. Pembagian tugasnya sudah ada”[9]

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa budaya kepemimpinan di Gontor sangat menekankan prinsip keteladanan. Kiai tidak hanya berperan sebagai pemimpin formal. Kiai menjadi model perilaku bagi seluruh warga pondok. Segala bentuk arahan, nasihat, dan kebijakan yang disampaikan selalu diikuti dengan praktik nyata sehingga memberikan contoh langsung kepada santri.

Kepemimpinan melalui keteladanan memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam proses pendidikan karakter. Santri tidak hanya belajar mengenai konsep kepemimpinan melalui teori. Santri dapat mengobservasi secara tidak langsung terhadap perilaku pemimpin yang mereka lihat setiap hari. Dengan demikian proses pembelajaran kepemimpinan berlangsung secara alami melalui interaksi langsung.

Budaya keteladanan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan di Gontor tidak dibangun melalui pendekatan instruktif semata. Pemimpin terlebih dahulu menunjukkan perilaku yang diharapkan sebelum meminta orang lain untuk melakukannya. Kondisi ini menciptakan tingkat kepercayaan yang tinggi antara pemimpin sehingga nilai-nilai yang diajarkan lebih mudah diterima dan diinternalisasi.

Selanjutnya AR menjelaskan bahwa budaya kepemimpinan di Gontor juga diwujudkan melalui proses kaderisasi yang sistematis. Menurutnya:

“Santri diberi tugas dan tanggungjawab sesuai dengan kemampuannya. Santri sudah diajari untuk melihat bagaimana Kiyai memimpin, bagaimana seniornya memimpin, lalu pada akhirnya mereka diberi kepercayaan untuk memimpin dengan lingkup kamar, kelas, kegiatan ekstrakurikuler, dan event kegiatan yang lainnya.”[10]

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kepemimpinan di Gontor dilakukan secara bertahap dan berjenjang. Santri pertama-tama belajar melalui proses observasi terhadap kepemimpinan kiai dan seniornya. Setelah memahami berbagai nilai kepemimpinan mereka kemudian diberi kesempatan untuk mempraktikkannya dalam berbagai lingkup organisasi yang sesuai dengan tingkat kemampuan.

Hal ini seperti yang peneliti temui di lapangan ketika ada beberapa santri sedang persiapan untuk masuk kelas. Sebagian berlari-lari, sepertinya agar tidak terlambat. Sebagian santri yang terlihat lebih senior menghitung dengan menggunakan Bahasa Arab. Santri senior di Gontor diajari untuk siap berperan menjadi pengajar bagi adik kelasnya.[11]

Ini juga terkonfirmasi berdasarkan keterangan AR bahwa,

“Santri harus mengikuti kegiatan sesuai jadwal, nanti setiap kegiatan sudah ada petugasnya”[12]

Proses kaderisasi tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan dipandang sebagai kompetensi yang harus dilatih melalui pengalaman nyata. Santri tidak hanya diajarkan untuk memahami teori kepemimpinan semata. Santri juga diberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan mengelola organisasi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Melalui proses tersebut, kepemimpinan menjadi bagian integral dari sistem pendidikan pesantren.

Lebih jauh lagi pemberian tanggung jawab kepada santri mencerminkan adanya kepercayaan organisasi terhadap kemampuan individu untuk berkembang. Kepercayaan tersebut menjadi sarana pembentukan karakter kepemimpinan sekaligus media untuk menanamkan nilai tanggung jawab terhadap tugas yang diemban.

Pandangan yang serupa disampaikan oleh RE yang menegaskan bahwa:

“Kepemimpinan disini sudah masuk kedalam sistem pondok. Mulai kepemimpinan badan wakaf, kepemimpinan pesantren, sekolah, dan semua kegiatan pondok. Dari sinilah nanti akan mendidik santri untuk menjadi pemimpin di pondok. Santri tidak boleh hanya menjadi makmum. Santri harus bisa dipimpin dan harus bisa memimpin.”[13]

 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan di Gontor telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem organisasi pesantren. Kepemimpinan tidak hanya berada pada level pimpinan tertinggi saja. Kepemimpinan hadir dalam seluruh aspek kehidupan pondok mulai dari badan wakaf, lembaga pendidikan, organisasi santri, hingga berbagai kegiatan keseharian.

Budaya kepemimpinan yang demikian menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap santri memperoleh pengalaman memimpin. Gontor memandang bahwa setiap individu harus memiliki kemampuan untuk dipimpin sekaligus memimpin. Oleh karena itu seluruh sistem pendidikan dirancang untuk memberikan pengalaman kepemimpinan kepada santri sejak dini.

Pernyataan RE juga menunjukkan bahwa kepemimpinan di Gontor dipahami sebagai keterampilan hidup yang harus dimiliki oleh setiap lulusan.

Sebagaimana pernyataan FI,

“Santri banyak kegiatannya, tapi di setiap kegiatan biasanya dilibatkan untuk belajar menjadi pengurus”[14]

 

Kegiatan ini juga terkonfirmasi melalui keterangan FA,

“Sebagian santri yang sudah lulus kadang ada yang mengajar langsung di Gontor”[15]

 

Kemampuan mengajar dan memimpin tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang menduduki jabatan tertentu saja. Hal ini juga diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu proses pendidikan kepemimpinan di Gontor diarahkan untuk membentuk individu yang memiliki kapasitas memengaruhi, mengelola, dan mengarahkan dirinya maupun orang lain secara positif.

Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara ditemukan bahwa budaya kepemimpinan di Pondok Modern Darussalam Gontor dibangun di atas prinsip kepemimpinan struktural, kolektif kolegial, keteladanan, kaderisasi, dan sistematisasi kepemimpinan dalam seluruh aspek kehidupan pesantren.

Kepemimpinan dipandang sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan tidak semata-mata dipahami sebagai jabatan formal. Melalui sistem yang terintegrasi seluruh warga pondok diberikan kesempatan untuk belajar, mengamati, dan mempraktikkan kepemimpinan. Ini membuat nilai-nilai kepemimpinan dapat diwariskan secara berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam perspektif Edgar Schein budaya kepemimpinan di Gontor menunjukkan hubungan timbal balik antara kepemimpinan dan budaya organisasi. Pada awalnya nilai-nilai kepemimpinan yang dibangun oleh Trimurti menjadi dasar terbentuknya budaya organisasi pesantren. Seiring berjalannya waktu nilai-nilai tersebut mengalami institusionalisasi dan berkembang menjadi budaya yang dianut oleh seluruh warga pondok. Budaya tersebut kemudian membentuk pola kepemimpinan yang dijalankan oleh generasi penerus.

Budaya kepemimpinan terlihat melalui struktur organisasi yang jelas, sistem musyawarah, mekanisme kaderisasi, serta keterlibatan santri dalam berbagai organisasi dan kegiatan kepemimpinan. Pada level nilai yang dianut, budaya kepemimpinan tercermin dalam prinsip amanah, tanggung jawab, musyawarah, keteladanan, dan pengabdian.

SA menjelaskan tentang salah satu mekanisme pengambilan Keputusan adalah dengan cara rapat,

“Rapat rutin selalu diadakan di Gontor”[16]

 

AR memberikan keterangan tambahan bahwa,

“Setiap santri harus bisa memimpin dan juga bisa dipimpin”[17]

 

Terdapat keyakinan bahwa setiap individu harus mampu memimpin dan dipimpin, bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, serta bahwa pendidikan kepemimpinan merupakan bagian integral dari proses pembentukan karakter.

Keselarasan antara hal tersebut menunjukkan bahwa budaya kepemimpinan di Gontor merupakan budaya yang kuat dan terinternalisasi secara mendalam. Budaya tersebut tidak hanya menghasilkan sistem organisasi yang efektif, tetapi juga menjadi mekanisme regenerasi yang memungkinkan pesantren mempertahankan eksistensi dan kualitas kepemimpinannya dari generasi ke generasi.

Kepemimpinan dalam organisasi tidak dapat dipahami sebagai fenomena yang berdiri sendiri tetapi selalu terkait erat dengan sistem nilai yang hidup di dalam organisasi tersebut. Dalam konteks pesantren di Indonesia kepemimpinan sejak awal sudah menjadi bagian dari proses pembentukan budaya itu sendiri.

Para pendiri tidak hanya membangun struktur lembaga, tetapi juga menanamkan cara pandang tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang kemudian berkembang menjadi budaya organisasi yang diwariskan lintas generasi.

WI menjelaskan,

“Setelah saya membaca buku-buku Sejarah Gontor dan tentang pendiri, ternyata daru dulu memang kepemimpinan menjadi salah satu hal yang diprioritaskan di Gontor”[18]

 

Dalam kerangka Edgar Schein, kepemimpinan di Pondok Modern Darussalam Gontor dapat dipahami melalui tiga lapisan budaya.[19] Pada tingkat artefak, kepemimpinan terlihat dari struktur organisasi yang tertata, sistem musyawarah, pembagian tugas yang jelas, serta keterlibatan santri dalam berbagai kegiatan organisasi. Sistem ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak berjalan secara informal, tetapi telah dilembagakan dalam mekanisme yang teratur. Kepatuhan terhadap struktur menjadi bagian dari budaya sehari-hari yang mudah diamati.

Pada tingkat nilai, kepemimpinan di Gontor dibangun di atas prinsip amanah, tanggung jawab, musyawarah, keteladanan, dan pengabdian. Nilai ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan dan perilaku kepemimpinan. Pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengatur, tetapi juga harus menjadi contoh bagi yang dipimpin.

Sementara pada tingkat asumsi dasar, terdapat keyakinan yang sudah mengakar bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, bahwa setiap individu harus mampu memimpin dan dipimpin, serta bahwa pendidikan kepemimpinan merupakan bagian dari pembentukan manusia yang utuh.

Jika dilihat melalui perspektif Charles Handy, pola kepemimpinan di Gontor menunjukkan karakter campuran antara role culture dan power culture.[20] Unsur role culture terlihat dari sistem organisasi yang sangat terstruktur, dengan pembagian tugas yang jelas dan aturan yang tegas. Namun pada saat yang sama, unsur power culture juga hadir dalam bentuk otoritas kiai dan pimpinan pondok yang memiliki legitimasi keilmuan yang kuat.

Dalam perspektif Robert E. Quinn, kepemimpinan Gontor cenderung berada pada kombinasi hierarchy culture dan clan culture.[21] Aspek hierarchy tampak dari sistem yang tertib, disiplin, dan berbasis aturan. Sementara aspek clan terlihat dari kuatnya hubungan kekeluargaan, musyawarah, serta solidaritas antarwarga pesantren. Dengan demikian, kepemimpinan dibangun melalui hubungan sosial yang erat dan partisipatif.

Jika dikaitkan dengan Geert Hofstede, pola kepemimpinan di Gontor menunjukkan karakter high power distance,[22] sdi mana kiai dan pimpinan diposisikan sebagai figur yang dihormati dan menjadi pusat rujukan. Namun jarak kekuasaan ini tidak bersifat represif, melainkan bersifat pedagogis, karena justru menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembentukan adab. Selain itu, tingkat kolektivisme yang tinggi juga terlihat jelas, di mana keputusan dan tanggung jawab dipahami sebagai bagian dari kepentingan bersama, bukan individu.

Sementara itu dalam perspektif Terrence E. Deal dan Allan A. Kennedy, Gontor dapat dikategorikan sebagai organisasi dengan strong culture. Kekuatan budaya ini terlihat dari konsistensi nilai kepemimpinan yang diwariskan dari generasi ke generasi, stabilitas sistem organisasi, serta tingginya komitmen anggota terhadap aturan dan nilai yang berlaku. Budaya yang kuat ini membuat kepemimpinan tidak mudah berubah meskipun terjadi pergantian individu dalam struktur organisasi.

Lebih jauh, jika dilihat dari sisi perubahan dan risiko, pola kepemimpinan Gontor cenderung berada pada lingkungan dengan tingkat risiko yang terkontrol dan umpan balik yang relatif cepat. Dalam kerangka budaya Deal & Kennedy, kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan dan kepemimpinan di Gontor dibangun dalam ritme yang ketat.[23] Hal ini langsung terlihat hasilnya dalam perilaku santri. Kesalahan dalam kepemimpinan dapat segera dikoreksi melalui sistem pengawasan dan pembiasaan yang terus-menerus.

Secara keseluruhan, kepemimpinan di Gontor memperlihatkan integrasi antara sistem yang terstruktur, nilai moral yang kuat, dan keteladanan.. Budaya kepemimpinan ini menciptakan mekanisme regenerasi yang memastikan bahwa nilai-nilai kepemimpinan tetap bertahan lintas generasi.



[1] Iryanto Irvan Jaya Rifka Alkhilyatul Ma’rifat, I Made Suraharta, “No Title 済無No Title No Title No Title” 2, no. 2 (2024): 306–12.

[2] Sains Informasi and Fakultas Ilmu Pendidikan, “Peran Gaya Kepemimpinan Dalam Membentuk Budaya Organisasi Di Perpustakaan UNPAS Bagian Dari Kompetensi Dasar Mahasiswa Di Era Digital . Berhubungan Dengan Hal Itu ,” 4, no. 2 (2025): 83–94.

[3] Muhammad Sulaiman, Alumni yang pernah menjadi guru Pesantren Gontor,, Ponorogo, Wawancara pada 21  Desember 2026

[4] Saiful Anwar, Perwakilan Pimpinan Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada  17 Desember 2026

[5] Winka, Guru Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara dilakukan pada 17 Desember 2025

[6] Saiful Anwar, Perwakilan Pimpinan Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2026

[7] Winka, Guru Peesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada17 Desember 2026

[8] Fausta, Santri PesantrenGontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[9] Anas, Santri Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[10] Arays, Guru Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[11] Observasi di Pesantren Gontor, dilaksanakan pada 17 Desember 2025

[12] Arbi, Santri Pesanten Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 DEsember 2025

[13] Reynaldi, Guru Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2026

[14] Fiarka, Guru Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[15] Fathimah, Penjual nasi pecel dekat dengan Pondok Gontor, Wawancara pada 16 Desember 2025

[16] Saiful Anwar, Perwakilan Pimpinan Pesantren Gontor, Wawancara pada 17 Desember 2025

[17] Arays, Guru Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 16 Desember 2025

[18] Winka, Guru Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Wawancara pada 17 Desember 2025

[19] Laura Angelica and Nina Karlina, “ANALISIS BUDAYA ORGANISASI BRILIAN WAY PADA PT BANK RAKYAT INDONESIA ( BRI ) KANTOR WILAYAH BANDUNG” 17, no. 2 (2026): 390–98.

[20] Rohmah, “Strategi Pimpinan Dalam Peningkatanbudaya.”

[21] Ida Ayu Gde Putra Suwiprabayanti, “Analisis Budaya Organisasi Menggunakan Model OCAI (Organizational Culture Assessment Instrument) Pada Universitas XYZ,” E-Proceedings KNS&I STIKOM Bali, 2017, 452–57, https://knsi.stikom-bali.ac.id/index.php/eproceedings/article/view/83.

[22] Chairuman Armia, “Pengaruh Budaya Terhadap Efektivitas Organisasi : Dimensi Budaya Hofstede,” Jurnal Akuntansi Dan Auditing Indonesia 6, no. 1 (2002): 103–17, https://journal.uii.ac.id/JAAI/article/view/870/797.

[23] Lukman Hakim, “Karakteristik Budaya Organisasi Kuat Sebagai Upaya Meningkatkan Kinerja Industri Di Batik Danar Hadi Surakarta,” BENEFIT Jurnal Managemen Dan Bisnis 19 (2015): 196–205.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepemimpinan Mojosari

  Berikutnya adalah pesantren Mojosari. Pesantren Mojosari Nganjuk memperlihatkan pola budaya kepemimpinan yang bersifat terstruktur, hierar...