Sabtu, 11 Juli 2026

BUDAYA MOJOSARI NGANJUK

 

Setelah membahas Pesantren Lirboyo maka berikutnya adalah pesantren Mojosari Nganjuk. Keberlanjutan sebuah institusi pendidikan Islam tradisional khususnya pondok pesantren sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mengelola organisasi. Pesantren berada diantara mempertahankan identitas nilai-nilai luhur masa lalu dan melakukan adaptasi terhadap tuntutan zaman.

Berdasarkan orientasi teoretis budaya organisasi, fenomena ini merepresentasikan apa yang disebut sebagai Pesantren dengan corak konvergensi/kombinasi di mana sebuah organisasi mampu mengintegrasikan dua sistem nilai. Hal ini tampak berbeda namun dioperasikan secara harmonis dalam satu ekosistem kelembagaan. Pesantren Mojosari Nganjuk menunjukkan budaya ini bukan sekadar strategi bertahan hidup saja melainkan telah menjelma menjadi keunggulan kompetitif.[1]

Karakteristik keunggulan ini terefleksi secara kuat dari data empiris hasil wawancara dengan para informan. Sistem nilai yang menyeimbangkan aspek spiritual-tradisional dengan aspek material-modern menjadi daya tarik utama institusi ini di mata publik. Sebagaimana dikemukakan oleh informan VI berikut:

“Pondok pesantren mojosari adalah Pondok yang menerapkan sistem modern dan salafi. jadi santri tidak hanya mempelajari ilmu agama tapi juga modern sehingga seimbang. Selain itu fasilitas yang memadai juga mendukung kegiatan pembelajaran para santri. jadi para semakin semangat dan betah deh.”[2]

 

Adapun MU menyatakan,

“Semua pesantren punya keunggulan, dan kultur sendiri-sendiri”[3]

 

Sedangkan NI menambahkan bahwa,

“Di Pondok Mojosari ini ada kombinasi berupa pelajaran kitab kuning dan ada sekolah formalnya”[4]

 

Pernyataan di atas mengindikasikan bahwa manajemen Pesantren Mojosari secara sadar melakukan desain organisasi yang bersifat dualistik namun integratif. Penyeimbangan antara muatan lokal keagamaan dan muatan umum yang didukung oleh ketersediaan infrastruktur fisik menunjukkan adanya pemahaman manajemen modern.

Hal ini diaplikasikan dalam institusi tradisional. Secara teoritis fasilitas fisik dan lingkungan belajar dalam model budaya organisasi Edgar Schein diposisikan sebagai artefak yaitu tingkatan budaya yang paling luar dan kasat mata. Artefak ini sengaja dikembangkan untuk memfasilitasi kenyamanan sosiologis santri agar mereka memiliki keterikatan yang tinggi terhadap institusi.

Linear dengan pandangan tersebut informan LA menegaskan identitas institusional ini dengan menarik garis historis yang lebih tegas. Menurut LA:

“Unggulan Pondok karena Pondok Mojosari identik dengan pondok modern, tetapi masih berbasis salaf dan termasuk salah satu pondok tertua yang melahirkan tokoh tokoh masyarakat seperti KH Wahab Hasbullah dan KH Huda Djazuli Ploso”[5]

 

Penegasan LA mengonfirmasi bahwa label modern tidak menanggalkan akar salaf yang menjadi basis pesantren. Penggunaan kata identik dengan pondok modern, tetapi masih berbasis salaf menunjukkan sebuah struktur budaya yang kokoh di mana fleksibilitas metodologi modern digunakan sebagai instrumen pendukung sedangkan fundamen substansinya tetap bersandar pada tradisi salafiyah. Informan MDGS secara ringkas juga memberikan kategorisasi yang serupa mengenai keunggulan ekosistem ini dengan menyatakan:

“Karena pendidikan salaf dan formalnya”[6]

 

Reduksi data dari ketiga informan awal ini memperlihatkan adanya konvergensi sosiologis. Pesantren Mojosari tidak terjebak dalam dikotomi salaf yang kaku ataupun modernisme yang mencerabut akar tradisi. Transformasi institusional yang menggabungkan dimensi salaf dan modern ini merupakan sebuah evolusi kebudayaan organisasi yang terencana. Filosofi dasar dari perubahan ini dijelaskan secara mendalam oleh informan MU yang menyatakan:

“Semua pesantren punya keunggulan, dan kultur sendiri-sendiri tapi era perkembangan pendidikan, Mojosari dengan mempertahan kan pondok salaf dan sistem salaf nya, juga ada tambahan pendidikan formalnya sejak tahun 1995, dengan prinsip boleh nambah tapi tidak boleh merubah.”[7]

 

Data yang diungkapkan oleh MU memberikan pijakan teoretis yang sangat krusial bagi konstruksi model budaya organisasi. Pengenalan pendidikan formal yang dimulai sejak tahun 1995 merepresentasikan fase adaptasi budaya. Namun poin paling fundamental terletak pada keterangan bahwa Pondok “boleh nambah tapi tidak boleh merubah”.

Dalam perspektif teori perubahan organisasi halini bertindak sebagai kondisi pembatas yang mengontrol batas-batas inovasi agar tidak merusak nilai-nilai inti organisasi. “Boleh nambah” merepresentasikan keterbukaan organisasi terhadap inovasi kelembagaan, diferensiasi program, dan perluasan dengan adopsi sistem formal.

Sementara "tidak boleh merubah" bermakna konsistensi terhadap sistem salaf seperti pengajaran kitab kuning, sistem wetonan/sorogan, dan tradisi kepatuhan. Prinsip ini menjamin bahwa perluasan struktur organisasi tidak akan mengakibatkan pergeseran identitas silsilah keilmuan yang dapat meruntuhkan legitimasi pesantren di mata masyarakat tradisional.

LA juga menambahkan,

“Pondok ini mengajarkan pengajian kitab dan juga ada sekolah formalnya”[8]

 

Melalui hasil model budaya organisasi yang terbentuk di Pesantren Mojosari dapat diidentifikasi sebagai model Sintesis Adaptif Terkendali. Keberlanjutan pesantren  ditopang oleh dualitas kemampuan berupa kapasitas menyerap modernitas untuk memenuhi regulasi negara dan kebutuhan Masyarakat.

Dalam diskursus keberlanjutan organisasi, aset non material sering kali memiliki kontribusi yang jauh lebih signifikan dibandingkan aset material. Bagi sebuah institusi pesantren, kapital simbolik yang berbentuk sejarah prestasi dan reputasi alumni merupakan modal utama yang membentuk kepercayaan publik. Keberlanjutan Pesantren Mojosari tidak dapat dilepaskan dari narasi historis besar yang melingkupinya yang kemudian dikonversi menjadi daya tarik bagi masyarakat luas.

Dimensi historis ini dianalisis secara komprehensif oleh informan IR. Berdasarkan pengamatannya, daya tarik institusional Pesantren Mojosari bersifat multidimensi. Informan IR memaparkan:

“Keunggulan Ponpes Mojosari bukan hanya dari usia atau sejarahnya yang panjang, tetapi juga dari kombinasi tradisi kuat, suasana pembelajaran yang menyenangkan namun disiplin, relasi sosial antar santri yang kuat, serta kesempatan pendidikan yang lebih luas semua itu menjadi daya tarik bagi santri dan orang tua yang mempertimbangkan pendidikan pesantren”[9]

 

Analisis yang disajikan oleh IR mengindikasikan bahwa keberlanjutan Pesantren Mojosari digerakkan oleh keberhasilan masa lalu berupa sejarah yang panjang, masa kini yang berupa suasana pembelajaran dan relasi sosial, dan masa depan.

Komponen usia atau sejarah yang panjang bukan sekadar angka melainkan penanda keandalan sebuah institusi yang telah teruji oleh berbagai zaman. Ketika sebuah organisasi memiliki rekam jejak historis yang kokoh maka publik secara otomatis mengatribusikan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kualitas institusi tersebut.

LA juga melengkapi pernyataan tersebut,

“karena pondok mojosari identik dengan pondok modern, tetapi masih berbasis salaf dan termasuk salah satu pondok tertua”[10]

 

Modal historis ini semakin diperkuat oleh produk berupa alumni-alumni monumental yang memiliki pengaruh luas dalam sejarah sosial keagamaan di Indonesia. Kembali pada pernyataan informan LA yang menyebutkan bahwa Pesantren Mojosari:

“...termasuk salah satu pondok tertua yang melahirkan tokoh tokoh masyarakat seperti KH Wahab Hasbullah dan KH Huda Djazuli Ploso”.[11]

 

Dalam sosiologi pendidikan Islam penyebutan nama tokoh sekaliber KH Wahab Hasbullah yang merupakan salah satu pendiri utama Nahdlatul Ulama dan KH Huda Djazuli yaitu ulama kharismatik pengasuh Pesantren Ploso Kediri merupakan bentuk legitimasi keilmuan yang luar biasa tinggi. Struktur budaya organisasi di sini memanfaatkan reproduksi budaya.

Dengan menjadi bagian dari institusi yang melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa maka institusi ini mewariskan kebanggaan kepada para santri kontemporer. Hal ini memunculkan rasa bangga serta identitas kelompok yang kuat. Hal ini akan mendorong komitmen organisasi yang mendalam di kalangan pesantren.

Dampak langsung dari akumulasi prestasi tokoh-tokoh alumni tersebut adalah lahirnya kepercayaan masyarakat yang tak tergoyahkan. Kepercayaan ini merupakan bahan bakar utama bagi sustainabilitas lembaga di tengah gempuran kompetisi global sekolah-sekolah berbasis keagamaan. Informan NI secara lugas merangkum esensi terdalam dari keunggulan sosiologis ini dengan menyatakan bahwa keunggulan utama Pesantren Mojosari berada pada:

“Keberkahan dan kepercayaan masyarakat.”[12]

 

Konsep keberkahan dalam terminologi budaya organisasi pesantren diposisikan pada tingkat asumsi dasar yang tidak terlihat namun diyakini sepenuhnya. Keberkahan adalah sebuah bentuk kapital spiritual yang dipercaya mengalir dari keikhlasan para pendiri dan silsilah spiritual yang tersambung kepada Rasulullah.

Konsep keberkahan ini mungkin tergolong tidak berwujud namun di dalam ekosistem pesantren keyakinan akan adanya berkah inilah yang menggerakkan partisipasi publik. Orang tua bersedia mengirimkan anak-anak mereka. Selain itu masyarakat bersedia memberikan sokongan finansial maupun sosial karena adanya keyakinan keberkahan. Hal ini dinilai bahwa institusi ini mengandung nilai sakralitas yang mendatangkan kemaslahatan.

Sinergi antara keberkahan yang ditambah dengan kepercayaan masyarakatakan membentuk pola hubungan simbiosis mutualisme antara pesantren dan komunitas lokal maupun nasional. Pola relasi ini menjamin pasokan input santri baru secara terus-menerus tanpa membutuhkan strategi pemasaran yang agresif. Dengan demikian keberlanjutan organisasi tercapai melalui penguatan legitimasi kultural dan spiritual yang mengakar di dalam sanubari kolektif masyarakat.

Secara ringkas keunggulan yang menjadi dari Pesantren Mojosari adalah sebagaimana yang diungkapkan VI berikut,

“Pondok pesantren mojosari adalah Pondok yang menerapkan sistem modern dan salafi. jadi santri tidak hanya mempelajari ilmu agama tapi juga modern sehingga seimbang. Selain itu fasilitas yang memadai juga mendukung kegiatan pembelajaran para santri. jadi para semakin semangat dan betah deh.”[13]

 

Adapun menurut LA,

“Unggulan Pondok karena Pondok Mojosari identik dengan pondok modern, tetapi masih berasis salaf dan termasuk salah satu pondok tertua yang melahirkan tokoh tokoh masyarakat seperti KH Wahab Hasbullah dan KH Huda Djazuli Ploso”

 

Sedangkan menurut MDGS,

“Karena pendidikan salaf dan formalnya”[14]

 

Menurut IR,

“Keunggulan Ponpes Mojosari bukan hanya dari usia atau sejarahnya yang panjang, tetapi juga dari kombinasi tradisi kuat, suasana pembelajaran yang menyenangkan namun disiplin, relasi sosial antar santri yang kuat, serta kesempatan pendidikan yang lebih luas semua itu menjadi daya tarik bagi santri dan orang tua yang mempertimbangkan pendidikan pesantren”[15]

 

Sedangkan NI menyatakan bahwa,

“Keberkahan dan kepercayaan masyarakat.”[16]

 

Adapun MU mengungkapkan,

“Semua pesantren punya keunggulan, dan kultur sendiri-sendiri tapi era perkembangan pendidikan, Mojosari dengan mempertahan kan pondok salaf dan sitem salaf nya, juga ada tambahan pendidikan formalnya sejak tahun 1995, dengan prinsip boleh nambah tapi tidak boleh merubah.”[17] Adapun IR memberikan informasi sebagai berikut

1.      Keimanan dan Ketakwaan (Iman–Taqwa): Santri dibimbing untuk menjaga akidah, melaksanakan ibadah dengan disiplin, dan mendekatkan diri kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Akhlakul Karimah (Akhlak Mulia): Penekanan besar pada sopan santun, adab kepada guru (kiai/ustaz), orang tua, sesama santri, dan masyarakat.

3.      Keilmuan (Tafaqquh fid Din): Menguasai ilmu agama seperti Al-Qur’an, hadis, fikih, akidah, dan kitab kuning, serta menumbuhkan semangat belajar yang serius dan istiqamah.

4.      Disiplin dan Tanggung Jawab: Santri dilatih hidup teratur: tepat waktu shalat, belajar, mengaji, dan menjalankan tugas pesantren.

5.      Kesederhanaan: Hidup sederhana dalam berpakaian, makan, dan gaya hidup, agar santri terbiasa rendah hati dan tidak berlebihan.

6.      Kemandirian: Santri dibiasakan mengurus kebutuhan sendiri dan tidak bergantung pada orang lain, sebagai bekal hidup di masyarakat.

7.      Ukhuwah dan Kebersamaan: Menjaga persaudaraan antar santri, saling tolong-menolong, dan hidup rukun dalam keberagaman latar belakang.

8.      Pengabdian dan Kepedulian Sosial: Santri diajarkan untuk bermanfaat bagi masyarakat melalui dakwah, pelayanan sosial, dan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar.”

 

Berdasarkan perspektif budaya organisasi Edgar Schein temuan penelitian mengenai budaya organisasi Pesantren Mojosari Nganjuk menunjukkan adanya keterpaduan antara artefak, nilai-nilai yang dianut, dan asumsi dasar yang membentuk identitas kelembagaan pesantren. Ketiga lapisan budaya tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling berinteraksi dan memperkuat satu sama lain sehingga menghasilkan budaya organisasi yang mampu mempertahankan tradisi sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Artefak lainnya terlihat pada keberlangsungan tradisi pengajaran kitab kuning, pelaksanaan pendidikan formal, suasana pembelajaran yang disiplin, relasi sosial yang harmonis antar santri, serta keberadaan alumni-alumni besar yang lahir dari pesantren tersebut. Pernyataan IR mengenai kombinasi tradisi yang kuat, suasana pembelajaran yang menyenangkan namun disiplin, dan relasi sosial yang erat menunjukkan bahwa budaya organisasi Mojosari termanifestasi dalam kehidupan warga pesantren.

Seluruh praktik tersebut merupakan bentuk budaya yang dapat diamati secara langsung dan menjadi identitas khas pesantren di mata masyarakat.[18] Pada nilai-nilai yang dianut, budaya organisasi tercermin dalam berbagai prinsip dan keyakinan.

Nilai ini dijadikan pedoman oleh pesantren dalam menjalankan aktivitasnya. Salah satu nilai utama yang ditemukan dalam penelitian ini adalah prinsip mempertahankan tradisi salaf sekaligus mengakomodasi perkembangan pendidikan modern. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh MU melalui prinsip,

“boleh nambah tapi tidak boleh merubah…”[19]

 

Hal ini terus dijaga sebagaimana perkataan MDGS,

“budaya ini diwarisikan budaya dari setiap generasi ke generasi…”[20]

 

Prinsip tersebut menunjukkan bahwa organisasi memiliki komitmen untuk terbuka terhadap inovasi tanpa mengorbankan identitas dasar yang telah menjadi ciri khas pesantren.

Nilai tersebut menunjukkan adanya keseimbangan antara konservasi dan inovasi. Satu sisi lainnya adalah pesantren mempertahankan sistem salaf sebagai fondasi utama Pendidikan. Sementara di sisi lain lembaga mengembangkan pendidikan formal sebagai bentuk adaptasi terhadap tuntutan masyarakat serta perkembangan sistem pendidikan nasional. Dengan demikian perubahan yang dilakukan bersifat adaptif namun tetap terkendali oleh nilai-nilai inti yang telah lama dianut.

Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya organisasi Pesantren Mojosari mencakup aspek keimanan dan ketakwaan, akhlakul karimah, keilmuan, disiplin, tanggung jawab, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah, serta pengabdian sosial.

Nilai-nilai tersebut sebagaimana dijelaskan oleh IR menjadi pedoman yang mengarahkan perilaku seluruh warga pesantren. Keimanan dan ketakwaan menjadi dasar spiritual yang mengarahkan seluruh aktivitas pendidikan. Akhlakul karimah menjadi landasan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Keilmuan menjadi orientasi utama dalam proses pembelajaran, sedangkan disiplin dan tanggung jawab menjadi sarana pembentukan karakter santri.

Nilai kesederhanaan dan kemandirian juga memiliki posisi penting dalam budaya organisasi pesantren. Santri dibiasakan hidup sederhana dan mampu memenuhi kebutuhannya secara mandiri sebagai bekal menghadapi kehidupan di masyarakat.[21]

Budaya organisasi berada pada lapisan terdalam yang sering kali tidak disadari tetapi diyakini secara kolektif oleh seluruh anggota organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat sejumlah keyakinan mendasar yang menjadi fondasi budaya organisasi Pesantren Mojosari.

Asumsi dasar pertama adalah keyakinan bahwa tradisi salaf tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman apabila dikombinasikan dengan pendidikan formal modern. Keyakinan ini terlihat dari konsistensi pesantren dalam mempertahankan sistem salaf sekaligus mengembangkan pendidikan formal sejak tahun 1995. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa modernisasi tidak dipahami sebagai penggantian tradisi, melainkan sebagai pelengkap yang memperkuat fungsi pendidikan pesantren. Ini dapat terjadi dengan baik karena adanya kepengurusan yang bagus.

Hal ini seperti perkataan VI,

“Pengurus itu sama dengan sebuah organisasi jadi setiap divisi membangun dan gotong royong membuat seluruh kegiatan berjalan dengan lancar dan sukses”[22]

 

Kepengurusan berjalan dengan lancar karena adanya sosialisasi yang dilakukan, sebagaimana perkataan IR,

“Caranya di sosialisasikan dengan semua santri”[23]

 

Asumsi dasar kedua adalah keyakinan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga oleh pembentukan akhlak dan karakter. Hal ini tercermin dari penekanan yang kuat terhadap nilai keimanan, ketakwaan, akhlakul karimah, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengabdian sosial. Dalam budaya organisasi Mojosari, ilmu dan akhlak dipandang sebagai dua unsur yang tidak dapat dipisahkan.

Asumsi dasar ketiga berkaitan dengan pentingnya keberkahan dalam proses pendidikan. Pernyataan NI mengenai keberkahan dan kepercayaan masyarakat menunjukkan adanya keyakinan kolektif bahwa keberhasilan pesantren tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor rasional dan material, tetapi juga oleh faktor spiritual yang bersumber dari keikhlasan para pendiri, keberlanjutan tradisi keilmuan, serta hubungan spiritual yang terjaga dalam lingkungan pesantren. Dalam konteks budaya organisasi pesantren, keberkahan menjadi kekuatan simbolik yang membangun loyalitas, komitmen, dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga.

Asumsi dasar berikutnya adalah keyakinan bahwa sejarah dan silsilah keilmuan memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan organisasi. Penyebutan tokoh-tokoh besar seperti KH Wahab Hasbullah dan KH Huda Djazuli menunjukkan bahwa warga pesantren memiliki kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga warisan sejarah dan reputasi kelembagaan. Sejarah panjang pesantren tidak hanya dipandang sebagai masa lalu yang harus dikenang, tetapi juga sebagai sumber legitimasi yang memperkuat identitas organisasi pada masa kini dan masa depan.

Dengan demikian budaya organisasi Pesantren Mojosari dapat dipahami sebagai budaya organisasi yang kuat karena terdapat keselarasan antara artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. Sistem pendidikan salaf dan formal, fasilitas pendidikan yang memadai, tradisi keilmuan, serta keberadaan alumni berpengaruh merupakan artefak yang tampak di permukaan.

Fasilitas berupa bangunan untuk kegiatan pesantren dan juga untuk menunjang kegiatan sekolah, seperti kelas dan asarama.[24] Artefak tersebut dibangun di area pesantren yang digunakan sebagai sarana Pendidikan.

Sementara itu pada lapisan terdalam terdapat asumsi dasar bahwa tradisi salaf harus dipertahankan, modernisasi dapat diterima selama tidak mengubah identitas dasar pesantren, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh perpaduan ilmu dan akhlak, serta keberkahan dan kepercayaan masyarakat merupakan sumber utama keberlanjutan lembaga.

Cara mempertahankannya dengan kaderisasi yang teknis sederhananya sebagaimana perkataan LA,

“dengan menirukan kegiatan kakak kelas”[25]

 

Pengurus pun siaga memantau sebagaimana pernyataan VI,

“Dalam segi pengurus yang selalu siap siaga memantau dan membantu para santri dalam semua kegiatan”[26]

 

Keselarasan antara ketiga lapisan budaya tersebut menjelaskan mengapa Pesantren Mojosari mampu mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung. Kemampuan mengintegrasikan tradisi dan modernitas tanpa kehilangan identitas dasar telah menghasilkan budaya organisasi yang berkelanjutan. Dalam perspektif Edgar Schein, kondisi ini menunjukkan keberhasilan organisasi dalam membangun budaya yang tidak hanya kuat secara internal tetapi juga memperoleh legitimasi yang tinggi dari lingkungan eksternal.

Kalau melihat Pesantren Mojosari Nganjuk secara lebih utuh, yang langsung terasa adalah bagaimana pesantren ini tidak memilih antara tradisi dan modernitas. Pesantren ini  justru merangkai keduanya dalam satu sistem yang berjalan bersamaan.

Satu sisi ia tetap memegang kuat tradisi salaf yang menjadi akar sejarahnya. Pada sisi lain ia juga membuka diri terhadap pendidikan formal dan sistem pembelajaran modern. Keduanya tidak saling menegasikan, tetapi hidup berdampingan dalam keseharian pesantren. Dalam kacamata Edgar Schein, apa yang tampak di Mojosari sebenarnya bisa dipahami sebagai lapisan budaya yang saling melengkapi.

Pada tingkat paling terlihat ditemukan hal-hal yang sangat nyata seperti sistem pendidikan salaf yang berjalan berdampingan dengan pendidikan formal. Selain itu terdapat ruang belajar yang cukup tertata, suasana pesantren yang disiplin tetapi tetap hidup.[27] Bahkan keberadaan fasilitas yang memadai ikut memperkuat kesan bahwa pesantren ini tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merespons kebutuhan zaman. Semua itu menjadi “wajah” Mojosari yang langsung bisa dilihat dari luar.

Namun yang lebih penting sebenarnya ada di lapisan nilai. Dari hasil wawancara, muncul satu prinsip yang cukup tegas namun sederhana: “boleh nambah tapi tidak boleh merubah.” Prinsip ini seperti menjadi batas yang menjaga arah perubahan di pesantren ini. Artinya, Mojosari cukup terbuka terhadap hal-hal baru, termasuk pendidikan formal, tetapi tidak bersedia kehilangan identitas dasarnya sebagai pesantren salaf.

Jika dilihat melalui perspektif Charles Handy, Mojosari memperlihatkan perpaduan yang cukup seimbang antara budaya berbasis struktur dan budaya berbasis figur. Ada sistem yang tertata, pembagian peran yang jelas, dan pendidikan yang berjalan cukup rapi. Tetapi pada saat yang sama peran kiai dan sejarah panjang pesantren tetap menjadi sumber legitimasi yang sangat kuat. Dua hal ini berjalan bersama, tanpa saling mengganggu.

Sebagaimana pernyataan NI,

“Kegiatan dilaksanakanmelalui keteladanan kiai, pembiasaan kegiatan harian, dan tradisi pesantren.”[28]

 

VI juga menerangkan,

“Pengurus yang selalu siap siaga memantau dan membantu para santri dalam semua kegiatan sehingga semua santri mengerti dan menerapkan sistem yang diajarkan oleh para pengurus.”[29]

 

LA juga menambahkan bahwa,

“Dalam melaksanakan kegiatannya, Pondok Mojosari ada lembaga masing-masing dan memiliki pengurus”[30]

 

Dalam kerangka Robert E. Quinn dan John Rohrbaugh, budaya Mojosari cenderung berada di antara dua hal yaitu keteraturan dan kebersamaan. Di satu sisi ada sistem yang terstruktur, disiplin yang jelas, serta aturan yang menjadi pegangan bersama. Tetapi di sisi lain kehidupan sehari-hari santri juga sangat kental dengan suasana kekeluargaan, kebersamaan, dan solidaritas sosial yang kuat.

Kalau dilihat dari perspektif Geert Hofstede maka pola kolektivisme sangat terasa di sini. Kehidupan santri tidak dibangun di atas kepentingan individu saja tetapi lebih pada kebersamaan sebagai komunitas. Selain itu hubungan dengan kiai dan guru juga menunjukkan jarak kekuasaan yang jelas. Hal ini adalah sebagaimana mereka ditempatkan sebagai figur yang dihormati yang bukan sekadar pengajar. Pengajar juga diakui sebagai pembimbing moral dan keagamaan bagi para santri.

Sementara dalam perspektif Terrence E. Deal dan Allan A. Kennedy, Mojosari dapat dikatakan memiliki budaya yang kuat. Kekuatan itu tidak hanya terlihat dari sistemnya, tetapi juga dari bagaimana nilai-nilai itu bertahan lama, diwariskan, dan tetap konsisten dijalankan meskipun zaman terus berubah. Ketika organisasi memiliki budaya yang kuat dan jelas, komunikasi organisasi akan mencerminkan nilai-nilai dan norma-nilai budaya tersebut [31]

Keberlanjutan pesantren ini tidak hanya bertumpu pada sistem Pendidikan semata namun tetapi juga pada modal sosial dan historis yang sangat kuat. Sejarah panjang pesantren berupa reputasi tokoh-tokoh besar yang pernah lahir dari sini, serta kepercayaan masyarakat menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari eksistensinya hari ini.

Pada akhirnya Mojosari bisa dipahami sebagai pesantren yang bertahan bukan karena menolak perubahan tetapi karena mampu mengatur perubahan itu agar tetap berada dalam batas identitasnya. Ia bergerak tetapi tidak kehilangan akar. Ia berkembang tetapi tidak tercerabut dari sejarahnya.

Secara umum Pesantren Mojosari Nganjuk dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan Islam yang mampu mengelola hubungan antara tradisi salaf dan tuntutan modernitas secara seimbang. Kedua unsur tersebut tidak ditempatkan sebagai hal yang saling berlawanan, melainkan dirangkai dalam satu sistem yang saling mendukung. Dengan demikian menghasilkan pola keberlanjutan organisasi yang stabil sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Hasil temuan menunjukkan bahwa keunggulan pesantren ini terlihat dari penerapan sistem pendidikan yang memadukan pendidikan salaf dengan pendidikan formal. Dukungan fasilitas pembelajaran yang cukup memadai serta suasana belajar yang disiplin namun tetap kondusif secara sosial memperkuat karakter lembaga ini.[32] Dalam konteks budaya organisasi hal tersebut dapat dipahami sebagai bentuk artefak, yaitu aspek yang tampak secara langsung dan merepresentasikan identitas pesantren di mata publik.

Pesantren Mojosari berpegang pada prinsip bahwa pengembangan boleh dilakukan selama tidak mengubah fondasi utama yang telah ada. Ungkapan “boleh menambah tetapi tidak boleh mengubah” mencerminkan pola perubahan yang terarah, di mana inovasi seperti pendidikan formal diterima sebagai pelengkap, bukan pengganti sistem salaf.

Pada lapisan asumsi dasar terdapat keyakinan bersama bahwa tradisi salaf tetap memiliki relevansi ketika dipadukan dengan sistem pendidikan modern. Selain itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari capaian akademik, tetapi juga dari pembentukan karakter dan moral. Unsur keberkahan serta kepercayaan masyarakat juga menjadi fondasi penting yang memperkuat posisi sosial pesantren, di mana dimensi spiritual dipandang berpengaruh terhadap keberlangsungan institusi.

SR yang merupakan saah satu Masyarakat sekitar memberikan keterangan,

“Pondok Mojosari ini sudah lama dan santrinya dari jauh-jauh. Ada juga yang orang sekitar, tapi kebanyakan santrinya jauh”[33]

 

MA juga menambahkan,

“Pondok kalau ada kegiatan besar tamunya dari mana-mana”[34]

 

Bervariasinyasantri dan tamu menunjukkan bahwa keberlanjutan PesantrenMojosari dapat terjaga dengan baik. Keberlanjutan Pesantren Mojosari juga ditopang oleh modal sejarah dan sosial yang kuat, termasuk kontribusi serta reputasi tokoh-tokoh besar yang pernah lahir dari lingkungan pesantren. Hal ini memperkuat legitimasi kelembagaan sekaligus membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan. Dengan demikian, eksistensi pesantren tidak hanya bertumpu pada sistem pendidikan, tetapi juga pada warisan sejarah serta jaringan sosial yang berkembang luas.

Secara ringkas Pesantren Mojosari dapat dipahami sebagai bentuk sintesis adaptif yang terkontrol yaitu organisasi yang mampu menerima perubahan dan modernisasi tanpa melepaskan identitas dasarnya. Ketahanan lembaga ini terbentuk dari keseimbangan antara tradisi, inovasi, serta dukungan legitimasi sosial dan spiritual, sehingga tetap eksis dan dipercaya masyarakat di tengah dinamika perubahan zaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.12 Ilustrasi Budaya Inti Pesantren Mojosari



[1] Observasi Pesantren Mojosari, dilaksanakan pada 18 Desember 2025

[2] Vitri Yuliana, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[3] Munif, Guru Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2025

[4] Ni’matus Sholicah, Santri senior Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2025

[5] Laiyin Naflatuz Zulfa, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[6] MGDS, Guru Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[7] Munif, Guru Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2025

[8] Laiyin Naflatuz Zulfa, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[9] Irma Masithoh, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[10] Laiyin Naflatuz Zulfa, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[11] Laiyin Naflatuz Zulfa, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[12] Ni’matus Sholichah, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[13] Vitri Yuliana, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[14] MGDS, Guru Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[15] Irma Masithoh, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[16] Ni’matus Sholichah, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[17] Munif, Guru Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[18] Observasi dan dokumentasi Pesantren Mojosari, dilakukan pada 18 Desember 2026

[19] Munif, Guru Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[20] MDGS (Guru Pesantren Mojosari), Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2025

[21] Observasi Pesantren Mojosari, dilaksanakan pada 18 Desember 2025

[22] Vitri Yuliana, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[23] Irma Masitoh, santri senior Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[24] Observasi Pesantren Mojosari, dilaksanakan pada 18 Desember 2025

[25] Laiyin Naflatuz Zulfa, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[26] Vitri Yuliana, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[27] Observasi Pesantren Mojosari, dilaksanakan pada 18 Desember 2025

[28] Ni’matus Sholicah, Santri senior Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara pada 21 Desember 2025

[29] Vitri Yuliana, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[30] . Laiyin Naflatuz Zulfa, Santri Senior Pesantren Mojosari, Wawancara dilakukan pada 21 Desember 2025

[31] Verdania Puri Syafitri and Ahmad Toni, “Komunikasi Organisasi Dalam Proses Pembentukan Budaya Organisasi Melalui Agent Of Change,” Jurnal Indonesia : Manajemen Informatika Dan Komunikasi 5, no. 2 (2024): 1602–10, https://doi.org/10.35870/jimik.v5i2.721.

[32] Observasi Pesantren Mojosari, dilaksanakan pada 18 Desember 2025

[33] Sri, Warga sekitar Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara pada 18 Desember 2025

[34] Marno, Warga sekitar Pesantren Mojosari, Nganjuk, Wawancara pada 18 Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kepemimpinan Mojosari

  Berikutnya adalah pesantren Mojosari. Pesantren Mojosari Nganjuk memperlihatkan pola budaya kepemimpinan yang bersifat terstruktur, hierar...